Connect with us

Lintas Nusa

Petkuq Mehuey, Si Rangers Penjaga Hutan Adat Wehea

Published

on

Hutan Adat Wehea, Kalimantan Timur/Foto via http://hutanadatwehea.blogspot.co.id

Hutan Adat Wehea, Kalimantan Timur/Foto via hutanadatwehea.blogspot.co.id

NUSANTARANEWS.CO – Pertengahan tahun 2012 lalu, diberi kesempatan mengunjungi hutan adat Wehea. Hutan seluas 38.000 hektar ini tepatnya berada di kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Banyak yang menarik dari hutan bekas HPH PT. Mugi Triman. Sejak tahun 2005, The Nature Conservancy (TNC) sebuah lembaga konservasi yang berbasis di Amerika Serikat melakukan kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan Lembaga Adat Dayak Wehea di Nehas Liah Bing.

Selain hutan lindung ini dijaga polisi hutan, masyarakat dayak menempatkan kurang lebih 10 orang rangers yang disebut Petkuq Mehuey atau penjaga hutan. Mereka hanya digaji Rp 1.000.000 per bulan. Oleh karena itu, banyak pemuda yang enggan berada di tengah-tengah hutan sejuk itu.

Untuk masuk ke area home stay memang tidak mudah. Perjalanan dari ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda menuju lokasi memakan waktu kurang lebih 12 jam dengan menggunakan kendaraan roda empat.

Saat itu, kami yang sedang mengadakan kunjungan jurnalistik bersama tim dari Pemprov Kaltim berangkat dari Samarinda pukul 08.00 WITA, kemudian berjalan menuju rumah kepala suku adat Dayak Ladjie Taq pukul 22.00. Perjalanan dilanjutkan hingga memasuki area hutan pukul 02.00 WITA dan sampai di area home stay pukul 05.00 WIB.

Udara yang sangat sejuk dan air yang dingin, serta dua home stay yang cukup nyaman menjadi bayaran atas lelah seharian menempuh perjalanan. Di kawasan hutan adat Wehea ini disediakan dua home stay, dengan pemandangan sungai yang sangat jernih bahkan bisa langsung diminum.

Sayangnya, listrik belum bisa diakses di sini. Penjaga hanya mengandalkan mesin Diesel yang dibeli berpuluh-puluh kilometer dari dalam hutan. Beberapa komputer yang disumbang TNC tak bisa digunakan, namun di beberapa sudut nampak dipasang beberapa kamera pengintai binatang.

Baca Juga:  Barantan: Menghadirkan Kesejahteraan di Perbatasan Tidak Sekadar Slogan

Tak jarang mereka berjalan lebih dari 5 kilo meter untuk menjaga hutan ini. Namun, beberapa penjahat hutan memanfaatkan minimnya penjagaan dengan mencuri kayu hutan. Ada kebiasaan menarik di hutan ini, apabila anda mencuri atau menebang pohon dengan sengaja maka hukumannya adalah didenda berupa uang dan babi.

Selain tak boleh menebang pohon sembarangan, di hutan ini juga tidak boleh berburu. Hanya ikan dan babi yang boleh ditangkap, itu pun hanya boleh dalam jumlah yang terbatas.

Atas usaha dan kerja keras Ladjie Taq mengelola Hutan Wehea, pada 6 Juni 2009, ia mendapat penghargaan Kalpataru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada 14-16 Oktober 2008, hutan lindung wehea menjadi juara 3 dunia. Saat itu yang menjadi juara pertama adalah Salomon, juara 2 Bolivia juara 3 Indonesia (Wehea) Kutai Timur dan juara 4 adalah Meksiko. (Ed/Amd)

Loading...

Terpopuler