Connect with us

Ekonomi

Petani Sawit di Nunukan Menjerit Lantaran Harga Jual Buah Terpuruk ke Angka Rp 400/Kg

Published

on

harga jual buah sawit, petani sawit, sawit nunukan, petani sawit nunukan, nasib petani sawit, panen sawit, ongkos panen sawit, kelapa sawit, ekspor sawit

Para petani sawit di Nunukan saat menjual hasil panennya. (Foto: dok. NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Nunukan – Anjloknya harga jual buah sawit milik para petani di Nunukan, Kalimantan Utara kian dirasa menghimpit masyarakat. Harga beli dari perusahaan pengolahan kelapa sawit yang menyentuh angka Rp 400 ribu/ton membuat sebagian para petani enggan memanen buah miliknya, yang tentu akan berimbas pada nasib perekonomian mereka.

“Harga sampai ke pengepul itu 400 ribu rupiah. Sedangkan untuk ongkos panen 150 ribu tiap ton, ongkos angkut 50 hingga 100 ribu rupiah tiap ton. Untuk ganti ongkos pupuk sekitar 100 ribu rupiah dalam tiap ton. Kami para petani ini dapat apa?,” keluh Burhan, salah seorang Petani Sawit di Sei Banjar, Nunukan, Sabtu (8/12/2018).

Baca juga: Harga Karet Anjlok, Rizal Ramli: Kebijakan Pro Petani Karet Lebih Penting dari Paket Ekonomi Jilid 16

Keadaan itu, menurut Burhan makin diperparah jika pembayaran dari pihak pengepul lambat karena alasan perusahaan penerima buah sawit dari pars petani juga mengalami keterlambatan. Jika keadaan ini terus berlanjut, Burhan menghawatirkan dampak sosial di wilayah Perbatasan akan terjadi.

“Ribuan masyarakat di Nunukan ini sebagai petani dan sebagian besarnya adalah petani sawit. Apabila ongkos perawatan dan panen justru lebih besar dibanding ongkos jual, ini kan kiamat buat para petani karena harus berhadapan dengan tuntutan hidup,” ujarnya.

Loading...

Baca juga: Harga Sawit Anjlok, Almisbat: Jangan Sampai Petani Jadi Tamu di Negerinya Sendiri

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kabupaten Nunukan, Basri Lanta menilai keberadaan sawit di wilayah Perbatasan terutama di Nunukan adalah sebagai salah satu pilar ekonomi. Untuk itu ia berharap Pemerintah benar-benar mampu mencari speed solution bagi persoalan ini. Basri mengungkapkan petani sawit di Nunukan bukan lagi mengeluh namun sudah pada taraf menjerit.

Baca Juga:  Gerindra: Perubahan Usia Masa Pensiun ASN Salah Satu Program Utama Prabowo-Sandi
Ketua APKASINDO Kabupaten Nunukan, Basri Lanta. (Foto: NUSANTARANEWS.CO)

Ketua APKASINDO Kabupaten Nunukan, Basri Lanta. (Foto: NUSANTARANEWS.CO)

Dalam kondisi seprti ini, lanjut Basri, nasib petani memang dilematis. Karena anjloknya harga CPO dunia, petani kecil atau petani mandiri yang paling banyak menanggung imbasnya. Karena menurut Basri, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) juga seperti menghadapi simalakama.

Baca juga: Nestapa Petani Sawit Kalimantan Utara

“Kalau memang benar anjloknya harga sawit karena dampak dari anjloknya CPO dunia, maka pihak Perusahan penerima buah dari masyarakat seperti menghadapi simalakama. Mau ambil buah sawit dari petani dalam jumlah banyak, nanti over, kalau buah dari petani tidak diambil, sangsi sosial pun kemungkinan menanti,” ujar Basri saat menerima Pewarta di rumahnya Jl. Persemaian, Nunukan, Sabtu (8/12/2018) malam.

Lebih lanjut Basri mengungkapkan bahwa pihaknya senantiasa memantau kondisi terkini mengenai segala macam persoalan sawit dari petani ke perusahaan pembeli. Basri menjelaskan, saat ini pihak Perusahaan juga dalam kondisi menunggu perubahan harga dunia. Dalam proses menunggu tersebut stok buah menumpuk. Apabila sudah menumpuk dan sudah penampungan over kapasitas itulah menurut Basri terjadi penghentian pembelian sawit dari Petani atau penekanan harga.

“Contoh kecil Pt Sempurna Sejahtera, mungkin dalam mengantisipasi tidak stabilnya harga CPO dunia yang berkelanjutan, mereka membeli sawit dari petani seharga 600 ribu rupiah tiap ton. Dan lagi-lagi petani lah yang akan terkena imbasnya apalagi bagi para petani yang tinggal di Pulau Nunukan, pasti akan bertambah biaya transportasi dari Nunukan ke Sebatik,” katanya.

Baca juga: Dana Pungutan Ekspor CPO Dinilai Kebijakan Jokowi untuk Konglomerat Perkebunan Sawit

Namun Basri menegaskan, persoalan kelapa sawit di Indonesia ini tak kan menjadi gejolak apabila bangsa Indonesia terutama pemerintah berani kembali pada konsep Trisakti Bung Karno yang diantaranya adalah mewujudkan kemandirian dalam ekonomi. Ketika hasil panen sawit Indonesia melimpah, Basri justru mempertanyakan kurang maksimalnya pemgolahan turunan CPO di negeri sendiri.

Baca Juga:  Dandim dan Kapolres Lamongan Jadi Warga Kehormatan Perguruan Silat

“Ekspor itu bukan hal buruk. Tapi melakukan ekspor hanya karena mengejar keuntungan segelintir orang lantas mengabaikan kemampuan negeri sendiri jua sebuah ironi. Saya sepakat konsep Trisakti dijalankan. Karena dengan berdikari, kita akan mampu bersaing dengan bangsa lain dalam produksi. Karena selama kita tidak mau mengolah sawit secara mandiri, kita akan terus menerima imbas kerugian seperti yang dialami ribuan petani sawit di Nunukan saat ini,” pungkas Basri.

(edd/snt)

Editor: Gendon Wibisono

Loading...

Terpopuler