Ekonomi

Petani Harus Diberi Insentif dan Dijamin Stabilitas Harga

Hamparan sawah/Foto via flicker
Hamparan sawah/Foto via flicker

NUSANTARANEWS.CO – Petani Harus Diberi Insentif dan Dijamin Stabilitas Harga. Jumlah petani kian menyusut. Data menunjukkan, sebanyak 62 persen sudah berusia tua, sedangkan yang berusia muda hanya 12 persen. Dan secara kesluruhan jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian terus menurun dari 39,22 juta pada 2013 menjadi 38,97 juta pada 2014.

Selain itu, menurut ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri, jumlah tersebut turun lagi menjadi 37,75 juta pada 2015. Sementara usia rerata petani semakin tua, dan enerasi muda merosot minatnya menjadi petani. Lembaga pendidikan tinggi pertanian memperluas bidang studi ke non-pertanian hingga akhirnya sarjana sekolah pertanian semakin banyak yang bekerja di sektor non-pertanian.

(Baca juga: Indonesia Terancam Kehilangan Petani).

Salah satu faktor menyusutnya jumlah petani ini dikarenakan kekecewaan mereka lantaran tidak didukung oleh pemerintah. Saat harga panen murah, pemerintah abai dan saat harga mahal dihantam dengan program pemerintah yakni operasi pasar.

Baca Juga:  Pembahasan APBD 2023 Jawa Timur Memanas, Pemprov dan DPRD Jawa Timur Bersitegang

Ekononom Indef Enny Sri Hartati mendorong pemerintah untuk memberi insentif kepada para petani agar mereka tetap bisa mempertahankan profesinya. Menurut Enny, pemerintah harus memberi insentif untuk peningkatan produksi, tetapi di sisi lain juga harus menjamin stabilitas harga.

Jika dari sisi produksi tidak diurus, maka fluktuasi harga pangan tidak terelakkan. Sebab, petani tidak punya gairah untuk menanam tanaman pangan. “Sehingga produksi terjamin, ada peningkatan produksi dan harga stabil,” ujar Enny kepada nusantaranews.co di Jakarta, Senin (6/6/2016).

Dikatakan Enny, insentif yang ideal harus di atas harga produksi. Sebab jika kurang, maka petani tidak mampu biaya menutup biaya-biaya yang dikeluarkan saat produksi. “Mereka selama tiga bulan sudah keluarkan tenaga, tapi itu nggak pernah dapat renumerasi imbal jasa,” tandas Enny. (Amd/Ed)

Related Posts