Connect with us

Budaya / Seni

Pesantren Menulis 4: Bulan Bahasa, Momen Kebangkitan Sastra Pesantren

Published

on

Simposium dan Bedah Buku bersama Pidi Baiq (Tengah) dan Ahmad Tohari (Kanan) di Acara Pesantrei Menulis 4. (FOTO: Syaiful Anam)

Simposium dan Bedah Buku bersama Pidi Baiq (Tengah) dan Ahmad Tohari (Kanan) di Acara Pesantrei Menulis 4. (FOTO: Syaiful Anam)

NUSANTARANEWS.CO, Purwokerto – Simposium dan bedah buku merupakan salah satu rangkaian kegiatan Pesantren Menulis 4 Pesma Annajah Purwokerto. Acara ini dimulai pada Hari Senin, 22 Oktober 2018 pukul 09.00 WIB yang bertempat di gedung auditorium IAIN Purwokerto.

Simposium kali ini mengangkat tema “Bulan Bahasa Sebagai Momen Kebangkitan Sastra Pesantren” dengan narasumber Pidi Baiq (penulis novel Dilan) dan Ahmad Tohari (budayawan dan penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk) dengan dimoderatori oleh Dimas Indiana Senja (penyair akademisi dan pegiat literasi).

Baca Juga:

Simposium dibuka dengan pembacaan ummul kitab dan dilanjut dengan pembacaan ayat auci Al Qur’an. Kemudian dilanjutkan sambutan oleh ketua panitia yaitu Nurul Hikmatul Aziz. Diteruskan sambutan dari pengasuh Pesma Annajah yaitu Dr. KH. Mohammad Roqib M. Ag.

Mohammad Roqib mengatakan bahwa kegiatan seperti ini jarang sekali dilakukan oleh pondok pesantren karena kebiasaan pesantren pada umumnya adalah mengadakan pengajian, sholawatan dan acara khalaqoh lainnya. Berbeda dengan Pesma Annajah Purwokerto yang berciri khas sebagai pesantren kepenulisan sehingga mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan pesantren lainnya yaitu mengadakan acara pesantren menulis setiap dua tahun sekali.

“Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kegemaran para santrinya dalam hal kepenulisan. Hal ini didasarkan kepada diri pengasuh sendiri yang memang menggeluti dunia kepenulisan,” kata Roqib dalam sambutannya.

Dengan adanya pesantren menulis, kata dia, bukan berarti Pesma Annajah tidak mengadakan kegiatan khataman, sholawatan dan acara khalaqoh lainnya.
“Kami pun mengadakan kegiatan tersebut sebagaimana pesantren lain pada umumnya”, ucapnya.

Baca Juga:  Sebut Omongan Prabowo Fakta, Gerindra: Kubu Jokowi Mikir, Jangan Mengeluh Terus!

“Karena masih jarang pesantren yang mengadakan acara kepenulisan, peminatnya pun tidak sebanyak peminat acara sholawatan bareng habib, bahkan santrinya sendiripun masih ada yang enggan mengikuti kegiatan kepenulisan,” candanya menambahkan.

Seusai sambutan dari pengasuh, disambung dengan sambutan yang sangat meriah dari grup kentongan kencana washol (Racana Pramuka Pesma Annajah) kepada para nominator lomba cipta cerpen pada Pesantren Menulis 4. Kemudian dimulailah acara simposium dan bedah buku oleh narasumber. Buku yang dibedah yaitu buku yang bejudul Sundul Langit, yang merupakan karya dari 25 nominator lomba cipta cerpen nasional bersama Dr. KH. Moh Roqib M.Ag. Bedah buku berjalan dengan kondusif dan berakhir pada pukul 12.00 WIB.

Acara diakhiri dengan pemberian hadiah kepada pemenang lomba cipta cerpen yaitu juara 1 sampai juara harapan 2, serta pemberian hadiah kepada pemenang lomba baca puisi tingkat SMA/MA sederajat se-jawa madura. Dilanjut dengan pemberian kenang-kenangan kepada para narasumber dan kepada pengisi acara Blakasuta (Blak-blakkan Sastra Untuk Tanah Air) dan Meet and Greet bersama penulis Sulfiza Ariska, Penulis UWF, pada malam harinya berupa lukisan wajah narasumber yang dilukis sendiri oleh salah satu santri pesma annajah purwokerto, yaitu Ferdi Albahar dan ditutup dengan sesi foto bersama.

Pewarta: Syaiful Anam
Editor: M. Yahya Suprabana

Loading...

Terpopuler