Ekonomi

Pertanian Semakin Dijauhi Generasi Millenial

Dinas Pertanian Kabupaten Kediri mengadakan pelatihan penanggulangan hama ureg yang disampaikan langsung Dinas Perkebunan dan Pertanian Provinsi jawa Timur. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Penrem 082/CPYJ)
Dinas Pertanian Kabupaten Kediri mengadakan pelatihan penanggulangan hama ureg yang disampaikan langsung Dinas Perkebunan dan Pertanian Provinsi jawa Timur. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Penrem 082/CPYJ)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ketua Umum Pemuda Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Rina Saadah Adisurya mengungkapkan bahwa, sektor pertanian saat ini dinilai telah menjadi sebuah profesi yang mulai diminati kalangan generasi muda atau kelompok milenial, sehingga perlu mendapat dukungan dengan berbagai program.

“Generasi milenial saat ini sudah mulai menganggap bahwa pertanian adalah sektor profesi yang bergengsi. Bukan sekadar itu, sektor pertanian juga memiliki nilai ekonomi menguntungkan,” kata Rina, dalam keterangan resminya, Jakarta, Kamis (10/1/2019).

“Kalau dulu kan masih enggan generasi muda mengelola pertanian. Tapi masa kini, justru generasi milenial mulai punya rasa tertarik ke sektor pertanian. Kondisi ini perlu dukungan berbagai pihak, terutama pemerinta,” imbuhnya.

Menurut Rina, guna menjaga minat generasi milenial tersebut, Pemuda HKTI telah merancang berbagai program di sektor pertanian. “Nantinya, program pertanian itu bakal dikelola oleh generasi muda masa kini sesuai kebutuhan zaman. Jadi pemuda punya visi maupun misi ke pertanian Indonesia,” katanya.

Baca Juga:  Deddy Sitorus Akan Dorong Perubahan Sistem Transhipment di Pelabuahan Nunukan

Rina mencontohkan, salah satu bentuk programnya adalah menyiapkan areal lahan seluas 1 hektare di setiap provinsi. Lahan tani itu akan dikelola oleh generasi muda dan dijadikan acuan model.

“Kerja sama dengan banyak pihak juga dilakukan dengan melibatkan pemuda. Terutama dengan Kementerian Pertanian. Jadi generasi milenial hari ini juga merasa memiliki pertanian Indonesia,” kata Rina.

Pengelolaan sistem pertanian dengan teknologi modern, lanjut Rina, juga menjadi penentu menjaga semangat generasi muda terhadap sektor agraris. Oleh sebab itu, perlu dipikirkan metode mengubah pola lama pengelolaan pertanian dari tradisional ke era kekinian.

Sekadar diketahui, sebelumnya Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri menyampaikan, jumlah generasi muda yang berminat di sektor pendidikan pertanian meningkat signifikan.

Kuntoro menyebutkan, sejak tahun 2013 hingga 2018 angkanya naik drastis mencapai 12 kali lipat atau 1.237 persen. Tahun lalu, jumlah pemuda yang tertarik pada pendidikan pertanian berjumlah 13.111 mahasiswa.

Baca Juga:  Jadi Pemasok Utama Daging Nasional, Jatim Cuma Dapat 9 Botol Vaksin Ternak  Anti PMK

Pewarta: Roby Nirarta
Editor: M. Yahya Suprabana

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 3.150