Connect with us

Budaya / Seni

Perpisahan Selepas Hujan – Puisi Arif Tunjung Pradana

Published

on

Perpisahan Selepas Hujan. Foto: Istimewa/Net/NusantaraNews

Puisi Arif Tunjung Pradana

Perpisahan

namamu begitu manja saat letupan suara memayungi rintik hujan; mengenang kepergian. barangkali kematian adalah pengingat, bahwa umur tidak harus usai dengan semestinya. kemudian angin memecah serangkaian perjanjian yang tak pernah berhenti; hilang dan timbul secara tiba-tiba disertai air, hembusan, dan pilu yang menyetujui adanya perpisahan.

Hujan

Hujan adalah ruang pesan tanpa kata dari langit. Tulus dan ikhlas menyusuri setiap pasang anak mata yang kehilangan induknya. Ia tak kenal dengan hitungan waktu mundur yang kian mendesak,

Loading...

namun ia paham bahwa ada pilu yang harus segera diselamatkan.

Puisiku

Puisiku menggertak, menuntut
atas orang-orang yang pernah hidup
dalam rahimnya.

Sinar Mata

Matamu berpendar menghitung mundur sang waktu. Ketika sepi dan hujan saling bertautan di beranda rumah.Sinarmu lirih diatas lorong waktu yang semakin menepi. Apakah kau akan kehabisan sinar, saat jari-jariku akan menggenggam hangatmu?

Selepas Hujan

selepas hujan reda ia menanggalkan mantel yang mengikat menggigil sepanjang suara gemuruh terus mengalir melewati sela-sela urat nadi. jalanan yang berlumpur membayangkan pertemuan dengan tapak derap langkah yang selalu meninggalkan jejak saat ia mulai memasuki hutan. tiba-tiba ia membakar denyut nadinya sendiri dengan kobaran hujan yang terus mendera rasa ketakutan dengan begitu nyaring. matanya terpejam setelah hujan tak satu pun menyentuh pipinya.

“Berikan aku tetes hujan untuk malam ini saja, agar aku bisa menyamar”. Ucapnya lirih dengan luka dalam.

“Baiklah, tunggu sebentar”.

Mengapa Jari-jari Jendela Terus Terbuka?

kemudian ia begitu usang dan menghibur ketika lonceng mulai berbunyi dalam kekekalan malam yang semakin memanjang. ruangan yang sangat gaib dan hampa dicerca penuh rahasia, bergoyang-goyang tanpa menyebut nama anak kecil yang bertemu saat hujan terus menembus rongga dada yang menganga. kutanyakan “mengapa jari-jari jendela itu terus terbuka?” “agar aku bisa masuk tanpa permisi ataupun agar kau sadar bahwa hujan sudah sejak lama berubah” jawab siapa.

Baca Juga:  Kepergian, Doa dan Hujan - Puisi Arif Tunjung Pradana

Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com

Loading...

Terpopuler