Connect with us

Puisi

Perempuan Rajawana, Sajak-sajak Nurtaufik

Published

on

seorang gadis, aku belajar, mencintaimu, puisi, puisi karya ahmad zubaidi, kumpulan puisi, nusantaranews

Lukisan Dinding Gadis Bergaun Merah. (Foto: aliexpress.com)

Perempuan Rajawana

Pelabuhan di mata rindu
Kisah kisah singgah berlabuh
Sunyi adalah kekasih puisi
biografi kesan
antologi pesan
altar kenangan
latar petilasan

Masihkan di Rajawana
situs-situs peninggalan para moyang
Mendarah daging dalam musim
Semisal wayang dan kesenian para kanjeng sunan
Wewangian dupa dan kemenyan pada upacara sacral selamatan
Masihkah kaki kaki terpanggil beranjak ziarah
Merawat jejak kisah dan wasilah pada Syaikh Makdum Husain
Wanita-wanita dipandu Rubiyah merawat kesenian Brain
Menyalakan ketulusan batin

Masihkah bahasa-bahasa santun
Mewakili pemandangan relung
Tangan-tangan terbuka menyambut tamu bertandang
lampu lampu menyala hijau menawan

Masihkah terabsen nama-nama tercinta
Dalam doa paling jiwa
Isyarat ketersambungan rasa
Terima kasih membuktikan cinta

Masihkah nuansa perkampungan
Riuh bunyi gamelan, gendang, rebana, seruling, angklung
Kidung lagu-lagu adat bersenandung
Ataukah kabut menebalkan mendung
Ketika lagu lagu pemicu syahwat dirasa semakin nikmat
Dirias tarian-tarian gemulai pantat

Bagaimana kabar surau-surau desa
Masihkah kesungguhan santri-santri kecil memfasihkan hijaiyah
Sebelum pada akhirnya melanjutkan perantauan
Masihkah para guru ngaji setia mengajar
Setelah merasakan kelezatan ikut mengibarkan syiar

Perempuan Rajawana
Mimpimu masih basah
Tanah jejak usia
Menunggu sujudmu memahat sejarah
Jangan takut pulang
Biarkan semua sesuai jalan
Senantiasa berjalan.
Bebatuan dan lika liku itu pelajaran.

Biarkan waktu dan usia melangsungkan akad
Berikan pundakmu bersiap siap dalam kehidmatan berbaiat
Dunia singkat carilah bekal selamat

06 September 2017

 

Apakah Puisi

Apakah puisi
penawar bara luka
Dalam setiap kerinduan
Perantau pada kampung halaman

Apakah puisi
penghibur sakit dan pahit nasib
Membawa perih berguru pada langit

Apakah puisi mampu meredakan amarah
Mengusap darah mendidih
Merenungi kalau setiap yang terjadi
Ada hikmah dan anugerah tersendiri

Apakah puisi
Mengantarkan sujud semakin suci dan mesra
Menggairahkan ibadah dan khidmah
Semakin karena dan untukNya

Apakah puisi
adalah pilihan jalan
Mengantarkan perjalanan
Pada arah dan tujuan sesuai niat menawan

Apakah puisi
Mengurangi beban rakyat
Menjalani musim kumuh penuh ulat
Lahir dari sampah penguasa dan pengusaha bejat

Apakah puisi
Menyadarkan diri pelajar terus belajar
Bukan sekedar mencari ijazah dan gelar
Khawatir ketika lulus hidup terlantar
Sarjana-sarjana digenangi resah menjalar-jalar
Setelah lapangan pekerjaan
Memandang jaminan dan kedekatan

Apakah puisi
menambah keakraban persaudaraan
Senantiasa memikirkan dan ikut merasakan
kehidupan yang digantung tanpa kepastian

Apakah puisi
Menggugah kesadaran semakin pandai peduli
Mengalahkan diri sendiri dan kepentingan pribadi
Demi orang lain dengan segala desakan disana sini
Apakah puisi
Hanya kepekaan penyair
Menulis kelaparan dengan perut kenyang
Menulis kemelaratan dengan merasakan kemakmuran
Kesana kemari sibuk membacakan puisi
Seakan-akan sudah cukup dikatakan peduli

Apakah puisi
Memberi jalan membebaskan tawanan
Atau hanya kata kata dan ucapan diindahkan
Sulit dimengerti orang awam
Sehari-hari ditikam terik keadaan
bergelut banting tulang menerima kenyataan

Baca Juga:  NU Siap Sambut Satu Abad Kelahirannya

Apakah puisi
Memberikan kemaslahatan
Atau memberikan kemudharatan dan kesia-sian
Tak banyak memberi warna
Bagaimana seharusnya manusia
Menjaga fitrahnya
Bagaimana pulang khusnul khatimah

14 Maret 2017

 

Musim Sunyi

Hujan dihalaman masih turun santun
Disambut kibaran daun-daun
Dengan segala tawakkal dan ikhtiar tanpa kita dengar bagaimana berujar
Fajar belum juga pensiun dan memilih pudar
Menjadi muara pertemuan gelap dengan cahaya
Pertemuan air mata dengan mata air dan samudera
Di dalam masjid
mawar mawar menggelar muktamar
Berwarna ulasan dan alasan
Memberi tawaran sekedar saran dan pertimbangan
Sebelum kesimpulan menjadi keputusan ruang sidang
Aku sejenak terdiam di sungai malam
Menjelajahkan batin kerinduan
Menemani musim bercermin
Pada darah yang tumpah pertama
Atau nafas terakhir dalam usia
Segerombolan kafilah melintas menggemuruhkan syahadat keyakinan
Memikul keranda mengirim pesan pada renungan
Dari jauh ada yang bertanya
Lebih mulia mana kaki dengan kepala?
Lebih mulia mana tangan kiri dan tangan kanan?
Lebih mulia mana penyair dengan puisinya?
Lebih mulia mana kepala dengan pantat manusia?
Lebih mulia mana guru dengan murid?
Lebih mulia mana?
Aku terdiam sebelum menjawabnya

14 Maret 2017

Di Kampus Hijau IAIN Purwokerto

kesepakatan siang membuka jalan kepastian.
Memasuki pemandangan kampus
Mata cahaya mulai reda kabut menyekap nyala
Kafilah lelah merebah di lantai hijau

Hujan melewati berpasang mata
para penyair mengheningkan cipta merangkai aksara
Bait-bait tentang hujan membuat cerita
Salam pamitan mengantar langkah
meneruskan ikhtiar di ruang asah.

Di puncak ketinggian dan keluasan
adalah ketulusan mengasuh niat awal pengabdian.
Diantara maksiat bukan sekedar melalaikan shalat.
Tapi salah jalan dan niat.

aku masih menunggumu datang
Malam menyelimuti kenyataan.
perbincangan masih dilanjutkan.
Adzan memberi peringatan pada setiap kesibukan.
Memanggil ketadziman penghambaan padaNya
Dikalahkan ketakdziman pembantu pada majikan.
Ketakdziman bawahan pada atasan
Ketakdziman pada pakaian

Kau merapatkan kesempatan ketika hujan belum pulang
Janji kesepakatan mengulang pertemuan.
Pertanyaan tersampaikan mencari kabar kabar kepastian
Jarum waktu termangu menunggu
Gelisah mulai berhamburan kusampaikan pertanyaan
Kau melepas jawaban tentang deretan rambu-rambu yang menyekap kehadiran
Gusar menjalar menjelama tawar menawar
titik kesimpulan akhirnya mengiyakan

Malam membuat lingkaran
keawaman memanjat bintang
sampai menjadi bintang.
Sesekali kesungguhan digandulkan kekonyolon.
Malam semakin dini subuh mendapat giliran mengabdi.

Jazakumullahu khairan.
Kusalurkan puisi sekedar menulis saksi.
Kita sempat satu waktu
Santun adalah mendung yang dimaknai embun
Pagi melepasmu pulang
Kupandamgi langkah berlalu menitipkan sesuatu

 

Berbicara Sendiri

Aku menuju percakapan puisi
Pada malam langka dalam kamus sejarah usia
Apa saja yang menjanjikan di depan mata
Seringkali mendesak perhatian dan keadilan

Tidak semua diam
Bisa dimaknai bongkahan bebatuan
Menuju kehancuran
Barangkali berpindah kesibukan bersembunyi dari keriuhan
Mencari suasana menyegarkan
atau kehilangan kesempatan
menyia-nyiakan kesempatan
Jenuh bergulat kejenuhan
Matahari hilang dari mata
Matahari gemilang dalam jiwa

Baca Juga:  KNKT Yakinkan Data Memori Card JT610 Tidak Terhapus

Ada keriuhan dari halaman perguruan tinggi
Mahasiswa kuliah pulang
diantara ruang perkuliahan dan kamar kontrakan
Berpacaran alasan taarufan
Sibuk membual dengan bahasa mual dan janji gombal
Gonta ganti pasangan alasan penjajakan
atau balas dendam pada mantan

Ayam ayam kampus berkeliaran
Menjajakan malam menggiurkan
Menerbangkan kupu-kupu
Menggoda siapa saja membuka pintu

Guru dan murid
Sepakat menjadi penjahat akademisi
Dengan instansi berakreditasi manipulasi
Siapa yang turun jalan
Menuntut keadilan melempar hujatan
Padahal diam-diam sudah menjadi hewan

Lulusan sarjana gamang
Menyaksikan kampung halaman
Menyiapkan sambutan dengan semangat harapan
Sementara kenyataan kaku tanpa bisa memastikan

Lapangan pekerjaan
Sudah memperhatikan darah dan silsilah
Kedekatan dan titipan bahkan ancaman
Idealitas tanggal dihadapan realitas
Tawakkal mulai menipis
Dalam hidup meringis serba apatis
Orang orang pedalaman
Mengasah ikhtiar dan kepasrahan
Membanting tulang tanpa mengandalkan ijazah
Keringat berbaur dengan tanah
Nafas tersengal menunda lelah
Demi mengantarkan penerusnya
berpendidikan dan bernasib cerah

Aku bersandar
Membayangkan pertemuan
Kembali menyatukan
Diantara setiap kapan ada kapan-kapan

Kudengar ibu menyapu
Memanggilku membakar sampah
Mengembalikan pada tanah
Daripada merusak usia dan suasana

Anak-anak belia menaiki surau
Mengumandangkan adzan dan dzikiran hijau
Aku bergegas melepas hadast
Suara iqamah memberi aba-aba
Perjalanan segera menempuh sajadah
Kita sedang memainkan peran berwarna naskah
Apapun jangan sampai ditelan mentah-mentah
Perhatikan ada apa dibaliknya

Malam
selamat malam
Selamatan malam
Selamatkan malam
Semangat malam!

23 Maret 2017

 

Riuh Para Lidah

Kusaksikan lidah lidah
Menyalakan suasana memutar aksara.
Ada rangkaian kesimpulan
dengan peta dan bermacam cara pandang.

Aku tersenyum sendirian
keputusan lebih baik diam.
Biarkan hakim hakim persidangan
Memberikan tuduhan menyudutkan kenyataan.
Aku tak punya waktu menjadi tawanan dan tahanan.
Barangkali cara pandang sibuk membuat bulan bulanan.
Aku tak punya kesempatan memberikan penyegaran
atau menghilangkan keriuhan.

Yakinlah itu bagian dari kemesraan persaudaran.
Bukan kebencian dan ejekan.
Cacian atau penghinaan
Perjalanan keakraban pentingkah dipertahankan?
Meski sulit setabah perbincangan sepanjang malam
Tanpa alasan bagaimana bertahan.
Saling menyempurnakan sedikit menegaskan
Atau harus menyerah dan patah
Terbawa arus ditimbun dan dikaramkan

Kita bersaudara silahkan
kalau para mufassir memberikan tafsir tafsir berbeda.
Semua sudah mabni tak perlu dii’rab lagi.
Bukankah begitu saudari?

Kalau ada jawaban lebih maslahat kujadikan itu nasihat.
Dalam keheningan ada doa pada luka
segera terobati dan hari hari adalah senyum pelangi.

Saudari. Kita bukan diantara yang bukan bukan.
mungkinkah sudah saatnya membuat naskah drama.
Merancang pamflet pamflet sandiwara
Menerbitkan dilayar layar maya.
Siapun bisa menjadi sutradara atau aktor aktornya.
Kita menonton saja sesekali tertawa. Bagaimana?

Sebuah Nama

Sebuah nama mengisi teras sunyi
Dalam perjalanan malam menuju pulang
Letih menyempatkan berterima kasih
Melepas munajad dalam kesempatan salam

Baca Juga:  11 Program Prioritas Tito di Polri

Dalam diam angan bermesraan
Jembatan putus di tengah jalan
Tak sempat memberi balasan
Aku terbangun turun di tepi alun-alun
Ada patung santria berkuda
Sepasang mata menaikkan bendera
Mengucurkan kisah bernafas darah masih basah
Lampu-lampu kesepian bertahan menuang cahaya
Masjid disamping seperti terasing

Angin melempar dingin pada lantai dan dinding
Menemani butiran debu menasihati waktu
Menunggu gumam wiridan kekhusuandan tahajjud keakraban
Kampung halaman mementaskan kerinduan
Memanggil manggil segera datang
Sebuah nama sempat melintaskan kelebat wajah
Pada tanah sambil menimang senja
Meninggalkan pertemuan keluar ruang
Memacu perputaran meneruskan perjalanan
Aku tersekap lamunan berpapasan melambai-lambai perpisahan
Sampai bertemu kembali tanpa harus berjanji
Sebuah nama sempat singgah menutur sapa
“ Saudara belum tentu lahir dari orang tua yang sama
Tapi punya semangat dan ruh perjuangan yang sama”
Guru membacakan puisi
Pada barisan kepalan tangan dan kehampaan hati

Grujugan, 07 Maret 2017

 

Ornamen Malam

Empat mata masih meracik gula dan kopi
Sebelum diteguk sunyi
Sekumpulan mata menutup tirai tergeletak di ranjang mimpi
Nyanyian alam memutar tasbih
Desir dingin menghujani pori-pori
Halaman halaman di luar mulai hening dan basah
Lampu-lampu masih menjadi satpam
mempersilahkan langit menyalurkan bening tinta

Ada rahasia pada kesetian yang terasah
Dalam palung jiwa yang menyimpan anugerah dan mematangkan usia
Semalaman tanpa ada kesepakatan
Sepasang mata kita dinyalakan
Bertahan dalam larutan perbincangan

Kincir-kincir ingatan diputar
Pada lalu lintas berwarna masa
Melahirkan dan menghadirkan pada suasana
Menyusun serakan mengais endapan
Mengungkap dan menangkap pesan
Itulah pengajian kehidupan
Tanpa buku dan papan
Tanpa kurikulum dan kelas kelas
Guru dan murid bergiliran
Saling berbagi bermacam macam

Masa silam adalah bekal dan pelajaran
Masa depan adalah cita-cita dan perjuangan
Sekarang adalah pohon menjulang
Bagaimana senantiasa bertahan dihempas panas dan hujan
Menyimpan akar-akar
Menyiapkan bunga dan buah segar

Malam berpacu pulang
Ada yang melanjutkan pemakaman
Di sela-sela kematian berdatangan kehidupan
Kusaksikan dari kejauhan
Sejumlah sungai mengalir di wajah purnama
Di dalamnya ada yang menimba sumur dan memetik cahaya
Selamat istirahat
Besok adalah hari kiamat

 

 

Riwayat Penulis: Nurtaufik

Penulis beralamat di Dusun Airlangga RT 06 RW 02 Desa Suling Kulon Kecamatan Cermee Kabupaten Bondowoso. Sehari-hari bergiat sebagai Guru Bahasa Indonesia MA Nurut Taqwa Grujugan Cermee Bondowoso. Buku kumpulan puisinya termuat dalam antologi bersama yaitu Negeri Bahari (Komunitas Negeri Poci), Wasiat Debu(kumpulan puisi santri dan alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Siubondo), Requiem Tiada Henti (Kumpulan Puisi Penyair ASEAN), Pesan Damai Aisyah, Maria, Zi Xing (Kumpulan Puisi Penyair Asean). Saat ini sedang berproses menerbitkan kumpulan puisi tunggalnya Sokarajjhe Semerbak Jejak. Penulis bisa dihubungi melalui email: [email protected], FB: Muhammad Nur Taufiq Mu’thi, IG: Muhammad N Taufiq

Loading...

Jurnalis dan editor di Nusantara News, researcher lepas. | life is struggle and like in silence |

Terpopuler