Connect with us

Budaya / Seni

Perempuan Jadi-Jadian Itu yang Mati Bawah Kasur

Published

on

The elegant oil paintings of Sergei Marshennikov 16 (Ilustrasi)

Cerpen: Ferry Fansuri

Kamar itu letaknya di lantai dua hotel murahan itu, ukuran tidaklah terlalu besar. Single bed room berhadapan layar lcd televisi saluran channel digital satelit, lampu sedikit remang-remang kekuningan. Sirikit telah lama berada di kamar itu tapi tak tahu tanggal dan bulan berapa sekarang, tak tahu kapan masuk dalam ruangan itu. Ia hanya terdiam terpaku di sana, terkadang mendengar suara kebisingan lalu lintas Pattaya di luar jendela kamarnya.

Di waktu malam Sirikit tidak bisa tidur, matanya terus melek tak bisa dipejamkan sama sekali. Suara-suara itu itu terus mengganggu dari luar dan kamar sebelah, ia tidak bisa menutup telinga. Menusuk ke gendang telinga bagai tawon berseliweran kesana kemari bahkan membuat mata merah pedih.

Sirikit merasa sendirian tanpa teman, tidak ada yang memperhatikan tapi ia tidak bisa pulang. Ada sesuatu yang menahannya di sana, tubuhnya seperti kaku tak bisa bergerak sama sekali.

Saat pintu kamar itu terbuka, seorang cleaning service tampak membawa kain pel, sapu dan bak berisi air. Suara Sirikit ingin berteriak tapi pita suara seperti tercekik tak mengeluarkan kata sekatapun. Cleaning service tetap melakukan aktivitasnya, memberesin selimut, menata bantal dan menyapu kotoran di lantai. Tak ketinggalan menggosok bekas kotoran-kotoran manusia melekat di toilet.

“Dasar penyewa tengik, buang hajat tak disiram” gerutu cleaning service terlihat gemulai dan jari lentik tapi terlihat ia adalah seorang pria. Dan ia tidak melihat Sirikit sama sekali disana atau tidak tampak.

Bau apek dan menyengat membuat hidung cleaning service mengendus-endus mencari asal bau. Tapi tak ia temukan, akhirnya ia menyemprot wangi-wangian ke seluruh ruangan.

“Jangan pergi, tolong aku” Sirikit memohon dengan sangat tapi kata-kata tersendak dengan ludah di tenggorokannya. Saat terakhir cleaning service menutup pintu, malam itu Sirikit kembali sendiri di sana. Berteman sepi dan berselimut keheningan hingga menjelang esok

***

Hari berganti hari, senja merayap ke malam. Sirikit hanya bisa diam dan di dalam otaknya terus berputar mencari jalan keluar dari tempat sial ini. Tapi sia-sia, semua syarafnya tidak bisa ia kendalikan sama sekali. Sirikit tak bisa menggerakkan jari-jari tangan ataupun kakinya, semua lumpuh tapi inderanya masih berfungsi. Telinga dan mata masih normal, bisa mendengarkan dan bola mata bisa bergerak ke kanan-kiri seperti mencari sesuatu.

Baca Juga:  Lima Isu Krusial Garapan Maraton Tim Sinkronisasi Pansus RUU Pemilu

Sirikit memang tidak berdaya tapi dalam ruangan itu tapi bisa merasakan dan melihat semua peristiwa yang terjadi. Pagi itu ada sepasang berlain jenis, pria separuh baya kira beumur 50 an postur tambun, kepala sedikit beruban dan botak meranggas terlihat mengkilap. Datang bersamaan wanita berumur 30-an terlihat cantik dengan setelan kemeja bluse dan rok terusan.

Khun (pak) kenapa Som dibawa kesini? Katanya kita akan hotel berbintang kok malah hotel murahan begini” sungutnya si wanita

“Nong (dik) jangan marah, disini lebih aman. Kalau di hotel berbintang itu nanti istriku tahu. Mata-matanya dimana-mana nong, di sini saja kita juga bisa gituan” kekeh pria tambun hingga perut yang bergelambir naik turun. Sambil mencolek dagu wanita ini, pria merayu untuk meredakan kesewotannya.

“Ah khun nakal” berusaha beringsut menjauh jual mahal, sang pria semakin menggebu-gebu mendekap dan sang wanita tidak menolak.

“Khun kapan mau menceraikan istri, katanya janji menikah aku secepatnya.”

“Sabar nong, pasti aku ceraikan tapi masih waktu yang pas tapi sekarang terpenting senang-senang dulu”

Pria ini langsung menindih tubuh asoy semok itu dan mencium bertubi-tubi melampiaskan syahwatnya. Pekikan dan legungan sang wanita membuat Sirikit mual karena telinga tidak bisa disumbat sama sekali. Sirikit merasakan gumulan dan desahan mereka ada di atas tubuhnya.

Mata dan telinga menyaksikan adegan demi adegan tersaji apik di mata Sirikit, sepertinya dipaksa menyaksikan tiap peristiwa yang terjadi di kamar itu.

Terkadang ini bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia telah mati atau menjadi arwah penasaran menghantui kamar itu? Tapi tak tahu jawaban, seberapa berat Sirikit mengingat terus terasa ada palu godam menghantam kepalanya. Sirikit merasa masih hidup, napas bisa ia rasakan dalam hembusan hidungnya. Pori-pori kulit juga merasakan dingin dan panas, gendang telinga bisa mendengarkan jelas bahkan detak jantungnya sendiri terasa dekat. Tapi mengapa tiap orang yang datang dikamar 313 itu tak melihatnya sama sekali.

Seperti juga pada suatu malam ada seorang pemuda datang, raut muka masam dan perawakan ceking yang semalam memandang sebuah foto. Matanya tampak sembab oleh linangan airmata, sesekali ia memukul dadanya, menampar wajahnya atau menjambak-jambak rambutnya sendiri.

“Nongsa, kenapa kau begitu jahat kepadaku? Kau lari dengan begundal itu …hah, …kenapa Nongsa?” matanya melototi foto itu. Ia remas dan terus dibuang di ujung kamar tapi kemudian diambil lagi, dicium foto gadis manis berambut sebahu.

Baca Juga:  Tak Ada Kata ‘Tidak’, Penyelenggara Negara Wajib Jalankan Pancasila

“Maafin aku Nongsa, tadi aku aku menyakiti kamu?” kata-kata memelas dan mulai tertawa sendiri kehilangan akal. Pemuda tak pernah keluar dari kamar itu, bergelut dengan kesedihan dan keputusasaan. Menenggak bir, menelan extacy atau menyuntikan beberapa morfin dilengan kanannya. Merusak dirinya sendiri dan menyesali kebodohan tak bisa mendapatkan gadis idamannya.

Selepas teler memasukan morfin ke dalam urat nadi, pemuda ini tergeletak di ranjang. Berhalusinasi bahwa ia terbang tinggi ke langit ke tujuh, Sirikit tak bisa berbuat apa-apa hanya melihat nasib pemuda ini. Keesok hari pemuda ini ditemukan overdosis tapi nyawa sempat tertolong di rumah sakit.

Sunyi kembali, Sirikit sendirian lagi. Sebenarnya orang-orang datang lalu lalang masuk ke kamar itu membuat dirinya sedikit terhibur. Banyak kelakuan unik dan agak konyol,  membuat Sirikit senyum-senyum sendiri.

Macam ada sepasang muda-mudi yang janjian untuk ketemu di kamar itu, sebelumnya belum pernah ketemu hanya bersua di medsos facebook. Si cewek menjanjikan akan memberikan tubuhnya, sang cowok mengiyakan bagaikan anjing yang ketemu tulang, menggonggong. Setengah telanjang dari tahap foreplay sampai menjelang intercourse, tiba-tiba.

“Stop, aku tidak mau melakukannya kalau kau tak pakai pengaman” cewek menghentikan gerilya si cowok untuk mengerayanginya.

“Sana cari dulu, baru aku mau” usir cewek itu dan cowok itu mengangguk iya keluar dari kamar.

Berselang beberapa menit, cowok itu datang membawa kondom kebahagiaan buat pujaan tercintanya. Tapi yang ia dapati kamar kosong melompong, dompet, Iphone dan kunci matic raib bersama sang cewek kabur.

Mulut Sirikit mau tertawa terpingkal-pingkal, pita suaranya tak mau diajak kompromi tak suara sama sekali.

Banyak cerita dan peristiwa-peristiwa Sirikit saksikan tapi mereka tidak bisa melihat dia. Ia merasa nyata hadir di kamar itu, tapi tidak semua mengacukan Sirikit. Sempat ada duo suami istri bule ostrali backpacker menyewa kamar itu, saat mereka datang ke kamar sang istri mencium bau tak sedap. Terus mencari-cari asal bau tersebut, saat melongok ke bawah ranjang, mata bule itu memandangku tapi ia seperti tidak melihat aku.

“Tolong miss, help me” Sirikit mencoba berkomunikasi dengannya tapi sia-sia. Bule ostrali itu memanggil pemilik hotel murahan tersebut untuk komplain bahwa ada bau yang menyengat sekali. Sang owner dengan santai mengatakan semua bisa ditangani, bos memanggil anak buahnya untuk menyemprot pewangi lavender. Bau aneh menghilang, duo backpacker melepas lelah diatas ranjang.

Baca Juga:  Sudirman Said: Bung Karno Cermat Mengelola Negara dan Keberagaman

Sirikit hanya menghela napas dalam kesendirian, kamar itu gelap kembali hanya sinar matahari kecil menerobos. Beberapa hari kamar 313 tidak ada yang menyewa, Sirikit tidak melihat pintu itu dibuka. Terasa lama sekali tidak orang masuk, apakah sedang ada renovasi atau low season turis di Pattaya lagi menurun.

Sempat sekilas pintu itu terbuka, Sirikit melihat bos hotel bercakap-cakap dengan pria berseragam, bersepatu boot, berkacamata hitam dan bertopi brigadir. Ada wajah pucat basi dari bos ketika pria itu menjelaskan sesuatu,..ah aku tak tah apa yang dibicarakan mereka. Sebelum pintu itu ditutup, sekelebatan sebuah pita yellow line melintang depan pintu kamar itu.

***

Chiangrai Times. Polisi Thailand menahan 2 remaja terkait kasus pembunuhan terhadap seorang lady boy. Mayat korban dibunuh dan disembunyikan dibalik ranjang hotel Pattaya agar tidak ketahui. Berawal dari pertemuan korban di Facebook, mereka bertemu dikamar 313 hotel itu. Korban dicekik setelah menolak berhubungan intim, mayat membusuk selama 3 atau 4 hari tersimpan rapi dibalik tempat tidur tertumpuk kasur, baru ketahui jasad tersebut saat sepasang muda-mudi chek in mencium bau busuk dan meminta staff hotel untuk disemprotkan pengharum ruangan. Tanpa disadari, mereka telah tidur diatas mayat itu. (neo)

Pematang Siantar, Maret 2017

Ferry Fansuri

Ferry Fansuri

Ferry Fansuri, kelahiran Surabaya adalah travel writer, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Puisi-puisinya masuk dalam antalogi puisi festival puisi Bangkalan 2 (2017) dan cerpen “pria dengan rasa jeruk” masuk antalogi cerpen senja perahu litera (2017). Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional. Dalam waktu dekat menyiapkan buku antalogi cerpen dan puisi tunggal.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

 

Loading...

Terpopuler