Connect with us

Budaya / Seni

Perempuan dan Kapitalisme

Published

on

Perempuan dan Kapitalisme (Ilustrasi). Foto: Pinterest

NUSANTARANEWS.CO – Bicara permasalahan yang dialami oleh perempuan, tentu tak luput juga dari pembahasan mengenai kapitalisme. Kapitalisme pada sekarang ini telah bertransformasi menjadi ekonomi global. Artinya, sekarang kapitalisme tidak hanya mencakup di sektor negara saja, melainkan sudah masuk ke dalam tatanan global atau lebih tepatnya penjarahan dalam skala luas.

Dengan tumbuhnya teknologi yang semakin canggih, membuat kapitalisme semakin berdiri tegak di puncak kejayaaannya. Apalagi dengan ditambahnya globalisasi dan pasar bebas, kapitalisme menemukan jembatan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya di berbagai negara.

Namun dari sekian permasalahan yang rumit ini, dalam kapitalisme baru, perempuan tidak lagi dipandang sebagai subjek tapi menjadi objek. Perempuan bukan saja diisap tenaganya tetapi juga sudah diperdagangkan dan dijadikan komoditas.

Apa yang saya maksud dengan diperdagangkan?

Yaitu kapitalisme telah mengonstruksi pola pikir masyarakat − terutama perempuan − melalui berbagai media, seperti dalam iklan, majalah, media sosial, atau acara televisi. Perempuan tidak terlihat cantik kalau tidak putih, tinggi, dan langsing seperti yang ada di media. Makna kecantikan ini sebenarnya telah dihomogenisasi oleh kaum kapitalis agar hasil penjualan produknya semakin laris di pasaran.

Banyak sekali model perempuan di media massa ataupun elektronik yang menampilkan tubuh perempuan yang cenderung homogen. Perempuan Indonesia yang memiliki kulit sawo matang jarang sekali menjadi ikon dalam sebuah majalah busana atau majalah fashion lainnya. Kebanyakan yang menjadi modelnya yaitu perempuan yang memiliki kulit yang putih. Tentu ini tidak masuk akal melihat dari khas warna kulit orang Indonesia itu sendiri.

Sebenarnya perempuan yang ingin memiliki kulit putih bukan menjadi masalah, itu juga merupakan pilihan dari individu masing-masing. Namun, bila kecenderungan ini telah menjadi stereotip agar perempuan bisa dikatakan menjadi ‘cantik’, tentu ada sebuah kesalahan. Hal ini tak lain merupakan bentukan dari kapitalisme yang memaknai dan mendefinisikan sebuah kecantikan menjadi sempit. Dengan kata lain, kalau ingin terlihat cantik harus meniru barat.

Dalam dunia kapitalisme yang memandang perempuan sebagai objek ternyata tidak hanya sebatas melalui media saja, bahkan sampai di bidang pekerjaan. Dalam bidang pekerjaan misalnya, seperti Sales Promotion Girls (SPG). Para perempuan yang bekerja dalam bidang ini tentu dituntut untuk berdandan atau bahkan memakai rok seksi saat menjual produk. Jadi ketertarikan konsumen untuk membeli produk yang dijual oleh SPG tidak lagi bersifat rasional. Konsumen (yang dalam kungkungan patriarki) lebih memilih membeli produk tersebut dikarenakan ketertarikannya terhadap ‘kecantikan’ si SPG, bukan pada kelebihan dari produk yang akan dibelinya.

Ini adalah salah satu strategi kapitalisme untuk mendapatkan keuntungan dari hasil barang produksinya. Kapitalisme tentu tidak segan-segan untuk menjadikan perempuan sebagai objek demi menukarnya dengan keuntungan. Kapitalisme memanfaatkan budaya patriarki yang ada pada masyarakat untuk menarik pelanggannya, dengan menjadikan perempuan sebagai komoditas untuk diperdagangkan.

Hal yang serupa ini tentu tidak terjadi pada SPG saja, di perusahaan-perusahaan besar sekalipun seringkali membuat aturan yang terkadang bias gender. Seperti aturan yang tidak membolehkan karyawannya mengenakan hijab, harus memakai rok, atau diharuskan berpenampilan menarik. Alih-alih mengatakan perempuan pada saat ini ikut berperan dalam pembangunan, tapi aturan yang ada di perusahaan tetap menjadikan perempuan sebagai kaum subordinasi.

Kapitalisme pada sekarang ini begitu lihai. Ia dapat mengilusi masyarakat agar susah membedakan antara need (kebutuhan) dan want (keinginan). Maka, tak heran bila banyak perempuan yang rela mengeluarkan banyak uangnya untuk membeli produk kecantikan agar menjadi putih atau tinggi (cantik model barat). Semua itu merupakan hasil konstruksi kapitalisme yang telah dibangun untuk menghilangkan kesadaran melalui berbagai ranah. Seakan menjadi sebuah keharusan atau kebutuhan bagi perempuan untuk membeli produk tersebut agar dilihat tampil cantik.

Dalam dunia kapitalisme sendiri hanya akan menghasilkan dua kategori manusia saja yaitu sebagai pemenang atau pecundang. Kapitalisme memang tidak memandang jenis kelamin, lelaki dan perempuan tentu akan dijadikan sebagai objek untuk mendapatkan keuntungan. Namun parahnya lagi, kapitalisme ini juga dibalut oleh budaya patriarki yang akhirnya membuat penderitaan dan diskriminasi terhadap perempuan semakin tajam.

Ibu rumah tangga yang juga bekerja di luar tentu akan memiliki beban ganda sepulangnya di rumah. Ia harus membereskan pekerjaan rumah, mengurus anak, dan menyediakan makanan. Tenaga perempuan benar-benar dikuras dari pekerjaan luar ataupun rumah. Inilah yang terus menjadi sorotan kaum feminis untuk memperjuangkan hak-haknya. Ternyata ada ketidaksetaraan dan ketimpangan antara laki-laki dan perempuan.

Kapitalisme yang lebih banyak didominasi oleh kaum laki-laki ini, tentu telah mengkerdilkan dan menempatkan perempuan menjadi kelas yang paling bawah. Baik itu dengan cara mengilusi perempuan untuk terus membeli produk kecantikan atau menjadikannya komoditas untuk diperdagangkan.

Melihat perempuan dijadikan seperti barang dagangan, tentunya sama saja menghilangkan dari nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Apalagi ditambah dengan peran negara yang lemah dan bisa diselingkuhi oleh kapitalis. Maka, jeratan perempuan untuk memperbaiki kesetaraan akan semakin sulit didapat.

Bila kaum perempuan telah menyetujui dan menganggap kehidupan yang benar tersebut seperti ini, maka tak heran perempuan hanya akan terus dijadikan sebagai objek semata. Apalagi ditambah dengan kesadaran perempuan masih relatif sedikit, juga tak heran emansipasi perempuan hanya sekedar jadi impian semata.

Jadi, bercermin pada judul artikel saya ini “Benarkah Perempuan Itu Komoditas?” tentu bila saya melihat pada kapitalisme yang semakin baru ini, maka saya akan menjawab: ya!

Penulis: Revin Mangaloksa Hutabarat, pecinta musik yang akhirnya berkuliah di jurusan Sosiologi. Bermukim di Bekasi. Rumah sosmednya seperti Line/Facebook/Instagram: revinmangaloksa.

Komentar

Penulis dan editor di nusantaranews.co. Pecinta puisi dan suka mengarsip | kemarin dan esok adalah hari ini

Advertisement

Terpopuler