Connect with us

Mancanegara

Perang Kacau Balau Terus Meluas Melanda Suriah

Published

on

Perang Kacau Balau Terus Meluas di Suriah

Perang kacau balau terus meluas melanda Suriah. Turki menganggap SDF bentukan AS-NATO sebagai bagian dari organisasi teroris Kurdi. Dengan dalih tersebut Turki kemudian melakukan agresi militer untuk menghancurkan kekuatan militer SDF di Suriah.

NUSANTARANEWS.CO – Perang kacau balau terus meluas melanda Suriah. Dalam beberapa hari terakhir, pasukan pemerintah Suriah telah melakukan serangan rudal berskala luas pada posisi teroris dan pemberontak di Aleppo barat sebagai tyanggapan atas serangan 21 November yang membunuh dan melukai sedikitnya hampir 50 orang di kota Aleppo.

Pasukan pemerintah juga telah menghabisi pasukan teroris dan pemberontak dengan rudal dan serangan artileri di sekitar Rakaya Sijneh dan puncak bukit al-Nar. Pada hari yang sama, Rusia melakukan serangan udara yang menghancurkan markas Jayish al-Izaa, yang berafilisasi dengan al-Qaeda, dekat Kafr Nabl.

Pada 24 November, Damaskus melancarkan serangan darat di Idlib Selatan bertempur melawan Hayat Tahrir al-Sham dan kelompok-kelompok teroris lainnya. Pasukan pemerintah akhirnya berhasil merebut kota Misherfah berkat dukungan serangan udara dan artileri. Pasukan pemerintah juga berhasil mengamankan beberapa posisi penting di sekitarnya.

Sebelumnya pasukan pemerintah telah berhasil pula merebut Luwaybidah dan Bukit Khaznah di daerah yang sama sebagai upaya menghabisi sisa-sisa kekuatan utama teroris dan pemberontak di Idlib Selatan.

Sementara itu, dalam beberapa minggu terakhir, Angkatan Darat Turki telah memperkuat beberapa posisi pertahanan di dekat jalan raya M4 di Raqqa utara dan al-Hasakah timur. Turki tampaknya ingin menggunakan situasi ketidakstabilan di Suriah timur laut untuk menduduki lebih banyak wilayah. Jalan raya M4, merupakan target yang jelas sebagai jalur transportasi utama di bagian negara ini.

Dengan demikian pasukan agresor Turki dan pasukan SNA proksinya telah membuat pertahanan baru di daerah-daerah yang diduduki di sepanjang jalan raya M4 yang strategis di timur laut Suriah. Sebuah citra satelit pada 24 November merilis gambar-gambar satelit yang menunjukkan posisi baru itu, yang terletak 10 km sebelah timur kota Suluk di Raqqa utara. Posisi tersebut tampaknya menjadi tempat kendaraan militer Angkatan Bersenjata Turki.

Baca Juga:  Kinerja Perseroan Semakin Cemerlang, Laba Bersih Telkom Tumbuh 27,4 Persen

Militer Turki juga terlihat telah mendirikan dua pos baru di utara jalan raya, antara kota Ain Issa dan Tell Tamr.

Persaingan sengit muncul untuk mendapatkan kendali atas jalan jalan raya internasional M4. Posisi jalan raya ini sangat strategis posisinya karena jalan raya internasional M4, yang menghubungkan Irak dan Turki.

Wilayah Eufrat adalah tempat bentrokan besar antara Tentara Nasional Suriah (SNA) yang didukung Turki, dan Pasukan Demokrat Suriah (SDF) bentukan AS yang mendapat dukungan Damaskus dan Moskwa untuk mendapatkan kendali atas Tel Tamer di al-Hasakah barat, dan Ain Issa di Raqqa utara yang dilalui  raya internasional M4.

Pihak mana pun yang dapat mengontrol jalan raya M4 akan mengendalikan gerakan militer dan pasokan militer. Pentingnya distrik Tel Tamer adalah karena merupakan perempatan jalan raya internasional M4 antara bagian al-Qamishli dan al-Hasakah dan bagian Aleppo, Ain Issa dan Manbaj. M4 memanjang dari perbatasan Irak-Suriah ke Laut Mediterania di Latakia. Jalan melewati al-Qamishli di dekat perbatasan Turki, al-Raqqa di wilayah Eufrat, serta Aleppo dan Idlib sebelum berakhir di Latakia.

Jalan raya juga terkoneksi dengan jalan raya M5 internasional di kota Saraqib di Idlib timur. Jalan raya M5 membentang dari Aleppo ke Damaskus, melewati Hama, dan selanjutnya ke Yordania dan Lebanon.

AS dan NATO telah menempatkan pasukan SDF untuk menduduki wilayah Eufrat sejak tahun 2015 lalu setelah menyingkirkan ISIS, namun Turki yang menganggap SDF sebagai bagian dari organisasi teroris Kurdi kemudian terprovokasi untuk melakukan agresi militer untuk menghancurkan kekuatan militer SDF.

Pertempuran besar terus berlangsung hingga hari ini dengan menggunakan artileri berat dan drone meskipun telah ada persetujuan Sochi antara Presiden Rusia, Vladimir Putin, dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan. Perjanjian yang bertujuan untuk mengakhiri pertempuran antara angkatan bersenjata Turki dan SNA di satu sisi dan SDF di sisi lain di wilayah timur Sungai Eufrat. (Agus Setiawan)

Baca Juga:  Untuk Yang Dzalim - Ruchman Basori

Loading...

Terpopuler