Connect with us

Hankam

Perang Generasi Kelima Langsung Menusuk Pusat Kekuatan Indonesia

Published

on

Cyber Crime/Ilustrasi. (Foto: FBI)

Cyber Crime/Ilustrasi. (Foto: FBI)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Hinsa Siburian menyebut dunia dan Indonesia saat ini memasuki perang generasi kelima, yakni perang tak kasat mata yang bisa langsung menusuk pusat kekuatan Indonesia.

Perang ini adalah adalah perang informasi dan propaganda, perang ekonomi, hingga serangan siber. “Sekarang ini perang generasi kelima, yakni perang informasi siber. Jadi sekarang yang diserang itu tidak dengan bom atau peluru,” kata Hinsa dalam acara peluncuran Gov-CSIRT, Jakarta, Rabu (10/7/2019).

Salah satu contoh dari perang tak kasat mata ini, kata Hinsa, misalnya meretas PLN sehingga listrik di Indonesia lumpuh.

Dalam perang generasi sebelumnya, lanjut Hinsa, lebih banyak memakai kekuatan fisik serta senjata. “Perang generasi pertama adalah peperangan dengan senjata tajam maupun api,” jelasnya.

Kemudian perang generasi kedua adalah peperangan dengan strategi manuver. Misalnya, dengan melakukan persembunyian di pohon, atau melakukan strategi melalui tipu daya kepada musuh.

“Perang generasi ketiga adalah perang dengan senjata lintas cakrawala dan teknologi mutakhir seperti bom atom, peluru kendali, hingga drone,” paparnya.

Hinsa mengungkapkan bahwa, dampak dari perang generasi ketiga adalah melahirkan perang generasi keempat. Pasalnya perang generasi ketiga tidak mungkin dimenangkan oleh negara-negara dengan sumber daya terbatas atau miskin.

Loading...

“Perang generasi ketiga itu pasti dimiliki negara kaya dengan teknologi persenjataan. Perang itu tidak mungkin dihadapi oleh kelompok miskin. Akan muncul perang generasi keempat atau perang teror. Contoh saat tragedi WTC di Amerika Serikat, hingga saat ini tetap ada jenis perang itu,” kata Hinsa.

Perang, sambung Hinsa, sebagaimana ahli strategi perang Sun Tzu nyatakan, terjadi setiap saat. Kutipan tersebut bagi Hinsa cocok apabila dikaitkan dengan konteks perang generasi kelima yang terjadi setiap saat.

“Tiap detik itu ada serangan siber ke Indonesia. Setiap hari adalah perang dalam konteks siber. Data ketika disimpan dalam data center atau jaringan itu bisa diserang oleh pihak asing,” ujar Hinsa.

Hinsa mengatakan baru-baru ini juga terjadi perang generasi kelima di Indonesia, perang tersebut menggunakan hoaks yang mengancam kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). NKRI tercermin dari sila ketiga Pancasila.

“Pancasila itu pusat kekuatan Indonesia. Jadi perang generasi kelima itu langsung menusuk pusat kekuatan Indonesia,” kata Hinsa. (red/nn)

Editor: Achmad S.

Terpopuler