Connect with us

Resensi

Peran Generasi Muda untuk Memajukan Karakter Bangsa di Hari Kemerdekaan

Published

on

Anak muda dan masa depan Indonesia. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO)

Anak muda dan masa depan Indonesia. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO)

Judul : Anak Muda dan Masa Depan Indonesia
Penulis : Tim Suara Kader Bangsa
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : I, Maret 2018
Tebal : xix + 288 Halaman
ISBN : 978-602-441-050-6
Peresensi: M Ivan Aulia Rokhman*

NUSANTARANEWS.CO – Di Hari kemerdekaan mengenang sejarah Indonesia tahun 1945 yang dulu merebutkan negara dari penjajah. Bung Karno sebagai presiden pertama menyampaikan kepada masyarakat Indonesia untuk memajukan kesejahteraan bangsa Indonesia dari segala ancaman yang bisa melenyapkan negara. Sementara bagi generasi muda berperan untuk mengguncangkan dunia, khususnya tanah air yang dilindungi. Sejalan dengan generasi kepresidenan yang terbagi dalam setiap program kerja kabinet tersebut memiliki pemikiran secara otentik. Namun ada beberapa kendala yang terjadi.

Ada tujuh jendral TNI telah dibunuh oleh tentara komunis. Presiden Soeharto betapa negara ini makin kacau bila mengalami krisis ekonomi dan hukum yang dapat menghambat kemajuan negara. Waktu demi waktu telah dilalui oleh Bangsa Indonesia. Kini pada zaman Milenial yang difavoritkan oleh anak muda dengan mencandu gadget makin digencar oleh masyarakat zaman sekarang. Dengan menciptakan media sosial yang diminati masyarakat dapat mengakses apa saja untuk merakitkan nilai positif. Sebagai generasi muda bangsa berperan untuk membangun karakter demi memajukan inovasi demi karya bangsa.

Buku ini menjadi solusi yang tepat untuk menyampaikan aspirasi anak muda berupa kontribusi terbaik demi mengembangkan pemikiran secara modern dan dapat dipercaya. Seiring pergeseran tradisi, kebiasaan, bahkan peradaban yang bergerak berdasarkan perkembangan teknologi informasi yang masif dan revolusioner. Menariknya buku ini berperan media internet dan aplikasi media sosial menjadi sangat dominan dan mempengaruhi perilaku anak muda yang jumlah dan partisipasinya meningkat secara tajam, unik, dinamis, otonom, serta anti mainstream, kritis dan tak terduga. Buku ini akan merancang kan masa depan bagi Indonesia agar senantiasa memikirkan inovasi apa di berikan sebagai membangkitkan karya bangsa.

Baca Juga:  Jokowi Gagal Paham Esensi Bernegara: Saat Oposisi Isi Kekosongan, Negara Hadir Bak Monster Leviathan

Pasca Orde Baru, dunia politik Indonesia memasuki babak baru menuju upaya mewujudkankan kemaslahatan dan kebijaksanaan itu. Dalam hal formasi dan struktur konstitusi dan kepimpinan, kita saksikan betapa era demokrasi telah berupaya menghadirkan dan mengakomodasi multikulturalisme masyarakat Indonesia. Namun penting untuk kita untuk mulai mentransformasikan kualitas dan tradisi kepimpinan untuk tidak lagi berporos pada paradigma “kepimpinan ketua” atau “kepimpinan figurisme”. Masyarakat pun juga harus keluar dari tradisi menjadi “true Beliebers” atau pendukung buta sehingga politik menjadi lebih rasional, objektif dan ‘rahmatal Lil ‘alamin’. Sejarah mengajari kita bahwa “Kepimpinan orang” yang bersifat figur sentris atau person-centered pada akhirnya gampang terakumulasi dan terjebak pada berbagai dampak kerugian bagi masyarakat.

Realitas saat ini kepimpinan adalah kolektivitas dan kolaborasi yang harus mampu merespons perkembangan ekonomi-politik-sosial budaya dan teknologi yang begitu cepat demi kemaslahatan dan penting negara-bangsa. Dunia saat ini seolah semakin “tanpa batas” akibat globalisasi finansial dan teknologi informasi. Namun, di saat yang sama juga semakin resistensi terhadap kemajemukan sebagaimana saat ini kita saksikan betapa diskursus “kanan” dan konservatisme semakin meningkat dalam konstelasi politik di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia (hal 96-97).

Esai Kepimpinan dan Multikulturalisme di Indonesia karya Teuku Fahmi memaparkan era kepimpinan negara semakin terdeteksi dengan multikulturalisme masyarakat Indonesia. Tradisi kepimpinan memiliki kriteria yang membangun janji kerja dengan segala pemberdayaan program kerja yang bisa menumbuhkan keyakinan terhadap masyarakat. Indonesia memang punya kemantapan informasi yang lebih mendalam. Kemajuan politik Indonesia penting untuk meningkatkan nilai kemajemukan bangsa. Bagi mereka kepimpinan adalah kebajikan, kerja nyata, kolaborasi, partisipasi, dan tentu saja kegembiraan. Dari sinilah, pemimpin-pemimpin sejati negara-bangsa ini seharusnya muncul dan segera dimunculkan untuk membawa Indonesia selamat dari tekanan politik globalisasi yang membelah dan para pemain politik lokal yang berpikir dangkal (hal 99).

Baca Juga:  Mendagri Anggap Wajar Jika Presiden Jengkel dan Marah Dituding PKI

Indonesia sejak awal negara-bangsa ini baru merdeka sudah menjalankan strategi perubahan untuk memperkuat aspek pengelolaan negara oleh para birokrasinya. Di zaman Bung Karno, pemerintah sempat mengirimkan putra dan putri terbaiknya ke Sejumlah negara untuk sepulangnya bekerja dan memperbaiki birokrasi di Indonesia ya g dinilai masih bermental kolonial saat itu. Para birokrat itulah saat kembali pulang ke Indonesia secara efektif membantu rezim orde baru pemimpin Presiden Soeharto dan menjalankan dan memperkuat pemerintahannya di berbagai sektor pembangunan (hal 144).

Esai Jangan Salahkan Birokrasi karya Yogi Suprayogi Sugandi menjelaskan birokrasi di negeri ini memperkuat pemerintah pada sektor pembangunan. Salah satu kemutlakan untuk pemerintah presiden Jokowi-JK untuk menbangun infrastruktur dan lembaga ghnan ekonomi yang gencar dilakukan pemerintahan saat ini. Pemerintah harus lebih serius dan Tegal dan bal Lee akan dan peningkatkan kualitas layanan publik ini (hal 145). Intinya jika menjadi penjabat daerah dan negara untuk mempersembahkan program kerja yang dapat membantu permasalahan layanan masyarakat lebih baik.

Media sosial media adalah kekuatan politik baru yang menyimpan energi besar untuk melahirkan perubahan. Gelombang demokratisasi di negara-negara Timur Tengah seperti halnya Mesir, juga tidak lepas dari fenomena sosial media. Meskipun demikian, sosial media dan. Dunia Maya adalah sekadar alat, instrumen. Demokrasi digital adalah jawaban dan media bagi kerja-kerja politik untuk membangun relasi dengan memilih mula dan Muda. ini merupakan tradisi baru dalam berpolitik, meskipun tidak akan menggantikan pada nilai-nilai politik itu sendiri yang tetap merajut kepercayaan dan kejujuran demi terwujudnya sebuah keadilan dan kesejahteraan. Hal ini semakin menguatkan argumentasi dan. Memori publik kita saat ini. Anak muda membutuhkan perubahan untuk mereka mendapatkan ruang ekspresi diri dan menyiarkan. Kelengkapan publik dengan gaya dan media yang anti-mainstream, baru, energik, dan tentu saja fresh. Demikian juga sebaliknya, perubahan juga membutuhkan peran anak muda yang sanggup menaklukkan proses perubahan itu sendiri (hal 19).

Baca Juga:  IndiHome Apresiasi Pelanggan dengan Hadiah 30 Paket Umroh

Esai Anak Muda dan Perubahan karya Yohan Wahyu melahirkan media sosial yang dijadikan penilaian kinerja politik terhadap demokrasi Digital. Peran sosial media bagi pemuda sebagai pembangkit ekspres diri dan menyiarkan apa yang digagas untuk menumbuhkan generasi peradaban bagi Indonesia. Jadi kesimpulan dalam buku ini adalah Bangsa Indonesia akan maju serta memiliki ide menarik dengan segala kontribusi ini agar senantiasa membangkitkan semangat bangsa. Khususnya pada hari kemerdekaan berperan untuk mengenang bangsa dari penjajah hingga masa depan yang lebih cemerlang.

*M Ivan Aulia Rokhman, Mahasiswa Universitas Dr Soetomo Surabaya. Lahir di Jember, 21 April 1996. Lelaki berkebutuhan khusus ini meraih anugerah “Resensi / Kritik Karya Terpuji” pada Pena Awards FLP Sedunia. Saat ini aktif di Devisi Kaderisasi FLP Surabaya, FSLDK Surabaya Raya, UKM Pramuka, dan Departemen Kaderisasi UKKI Unitomo Surabaya.

Loading...

Terpopuler