Connect with us

Opini

Penyebab Kekeringan dan Aspek Keimanan Manusia

Published

on

Penyebab Kekeringan dan Aspek Keimanan Manusia

Warga Kampung Gununghaur, Blok Pancurendang, Kelurahan Sinangkasih, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka sudah sekitar tiga bulan mengalami kesulitan air bersih, akibat sumber air mengering. Untuk memperoleh air bersih warga harus berjalan kaki sejauh 1 km serta antre, karena hanya satu sumber air yang dianggap paling dekat, itupun harus menunggu beberapa menit karena air kecil.

Air adalah kebutuhan asasi manusia. Tanpa air, manusia akan mengalami berbagai kesulitan, bahkan kematian. Tak boleh ada penghalang sampainya air sebagai kebutuhan manusia untuk dikonsumsi hingga tingkat rumah tangga. Bahkan Islam melarang swastanisasi air pada jumlah yang terus mengalir dan berpengaruh pada kehidupan publik. Al-muslimûna syurakâun fî tsalâtsin: fî al-kalâi wa al-mâ`i wa an-nâri. Artinya, kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Berdasarkan hadist di atas, sudah seharusnya penyelenggara urusan rakyat, alias pemimpin, memastikan bahwa air yang dikonsumsi oleh perorangan atau perusahaan tidak menyedot pasokan air hingga merugikan warga lain. Tidak boleh ada alasan sektor industri lebih penting sehingga mendapat toleransi dalam mengonsumsi air dalam jumlah besar hingga warga biasa cuma dapat air sisa-sisa, itupun kalau ada. Hal itu sebagaimana terjadi pada prinsip kapitalis, sektor yang menguntungkan secara ekonomi akan dianakemaskan.

Negara juga wajib mengupayakan jaringan prasarana penyalur air dari sumbernya ke tempat dimana pun air itu dibutuhkan. Administrasi dan birokrasi tidak boleh menghambat upaya pelayanan penguasa kepada rakyatnya, termasuk dalam upaya penyaluran air ke daerah rawan kekeringan. Justru birokrasi seharusnya merupakan uslub (tata cara) yang digunakan oleh pemerintah untuk melayani kemaslahatan masyarakat.

Baca Juga:  BPK dan KPK Harus Segera Selidiki Izin Konsentrat Freeport
Loading...

Birokrasi dibentuk dari akumulasi uslub (tata cara) dan wasilah (sarana) yang dapat dimanfaatkan untuk merealisasikan kemaslahatan tersebut. An-Nabhani dalam buku Sistem Pemerintahan dalam Islam menjelaskan birokrasi Islam mempunyai prinsip yang sederhana, cepat dalam pelayanan dan penyelesaian, dan dikerjakan oleh orang yang profesional.

Keringnya berbagai wilayah di dunia, termasuk di Majalengka berawal dari keringnya aspek ruhiyah manusia. Artinya, kekeringan tidak semata dampak siklus cuaca. Lebih dari itu, ada faktor hilangnya konsep penghambaan kepada Pencipta yang menciptakan alam. Ada ketidakbecusan manusia yang mengelola alam di dunia dan lingkungan di suatu wilayah.

Aktivitas manusia mungkin telah menjadi penyebab kekeringan dunia sejak awal abad ke-20. Selain perubahan langsung pada suhu dan curah hujan global dan regional, kekeringan berskala global kini juga diketahui dipengaruhi oleh aktivitas manusia, jelas Paul Durack, penulis penelitian dari Laboratorium Nasional Lawrence Livermore, Australia.

Islam telah berabad-abad ke belakang memahamkan manusia bahwa kerusakan di bumi disebabkan karena ulah tangan manusia. Salah satunya adalah kegiatan-kegiatan manusia yang tidak bersandar pada syariah hingga merusak siklus air yang telah padu tatanannya. Pembangunan tanpa kendali di area resapan air, eksploitasi air berlebihan, pengelolaan penyediaan air berbasis bisnis adalah kemaksiatan-kemaksiatan yang mengantarkan pada kekeringan. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Ar-Rum Ayat 41:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Betul, pada akhirnya bencana itu dikehendaki Allah agar manusia kembali ke jalan yang benar. Kembali kepada aturan yang benar. Menempatkan air sebagai kepemilikan bersama. Pembangunan ditata agar kita manusia mulia dapat lestari bersama makhluk Allah lainnya. Wallahua’lam.

Penulis: Tawati, Aktivis Dakwah Muslimah Majalengka

Baca Juga:  Divonis 3 Tahun Penjara, Sidang Perantara Suap Kajati DKI Ricuh

 

 

Catatan Redaksi: Artikel ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian dari tanggungjawab dan tidak mewakili redaksi nusantaranews.co

Loading...

Terpopuler