Connect with us

Khazanah

Pentas Teater Masegit: Pentas ingatan, tegangan, dan sesilangan di Kota Pahlawan

Published

on

Poster Teater Masegit/Ilustrasi nusantaranews (istimewa)
Poster Teater Masegit/Ilustrasi nusantaranews (istimewa)

NUSANTARANEWS.CO – Pentas Teater Masegit akan digelar di dua kota, perta di Gedung Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya dan kedua di Auditorium STAIN Pamekasan, Madura. Pementasan teater Masegit sebagai repsentasi dari tiga bagian kecil yang diberi nama:  ingatan, tegangan, dan sesilangan merupakan karya pekerja teater dan juga penyair Shohifur Ridho Ilahi.

Masegit menurut Sri nama panggilan lain Shohifur Ridho Ilahi merupakan situs di mana relasi di dalam kehidupan Masyarakat saling bertautan. Ia lebih dari sekadar tempat ibadah di mana kewajiban pribadi kepada Tuhan dilaksanakan dan fatwa-fatwa agama disampaikan.

“Ia juga bisa dimaknai sebagai ruang sosial dan kebudayaan di mana gagasan seseorang dengan orang lain dipertemukan, persoalan-persoalan masyarakat dipecahkan, cita-cita bersama diperjuangkan, dan seterusnya. Pertunjukan Masegit ingin memotret situs tersebut dalam kerangka nalar kebudayaan manusia Madura,” papar Sri melalui keterangan tertulisnya yang diterima nusantaranews, Jumat (12/8) malam.

Sri menambahkah bahwa pertunjukan Masegit sebagai penerima Hibah Seni Yayasan Kelola 2016 untuk karya inovatif ini diciptakan oleh seniman-seniman diaspora Madura (dan beberapa seniman rekanan) yang tinggal di Jawa. Jarak spasial, nyatanya, turut mempengaruhi sudut pandang dalam melihat sesuatu, turut memberi peluang pembacaan baru, tapi turut pula menjadi lubang jebakan sewaktu-waktu.

“Dalam satuan jarak tertentu, berbekal sebuah tatapan mata dari tanah Jawa yang diproyeksikan ke daratan (dan lautan) Madura, kami berupaya mereka ulang ruang kenangan, menggali ingatan, menyusur fenomena sosial yang telah dan tengah berlangsung, serta membaca ulang arsip sejarah. Dengan menyadari bahwa identitas adalah hasil dialektika diri dan liyan, barangkali di situlah kami bisa melihat ihwal diri dengan lebih benderang, barangkali kami bisa masuk menemu makna dan pengetahuan,” ungkap penulis naskah teater “Pengantar Ilmu Ekonomi” itu.

Baca Juga:  Jito Banyu Serukan Antikekerasan Pada Anak Lewat Film "Untuk Angeline"

Terkait dengan ingatan, tegangan, dan sesilangan sebagai representasi dari Masegit, penyair yang pernah hidup di Teater ESKA Yogyakarta itu menjelaskan bahwa, ‘ingatan’ memapar Bagaimana identitas madura yang dikonstruksi oleh kolonial masih berlangsung hingga sekarang. Dan bagaimana manusia Madura menjadikan masegit sebagai lumbung semangat perlawanan.

“Sementara tegangan menunjuk pada konflik sosial yang dilatari oleh keyakinan dan praktik keagamaan serta sejumlah paradoks dan tegangan yang terjadi di dalamnya. Adapun sesilangan fokus pada perkara kaum muda Madura sebagai generasi yang berdiri di atas keterbelahan, diri sekaligus orang lain: berdiri di altar masegit sembari membuka diri seluas-luasnya terhadap pengaruh dari luar. Narasi ulang alik ini serupa bentangan Suramadu yang gagah. Jembatan ini tidak hanya menghubungkan Madura dan Jawa, melainkan juga jembatan industri, akulturasi budaya, dan percepatan ekonomi,” tandas Ridho alias Sri.

Pertujukan yang diproduksi oleh Rokateater ini menghadirkan beberapa aktor dari berbagai disiplin seperti Abdul Ghafur, Efendy Mazila, Eka Wahyuni, Habiburrahman, Neneng Maryam, Radha Puri. Dengan penata artistik Imam Syaifurrahman, Suvi Wahyudianto dan penata musik diampu oleh Giyarian Harik. Sementara desain cahaya dijaga oleh Oong M. Pathor.

Adapun waktu pelaksanaan pentasnya sebagai berikut: Pentas 1, Minggu, 28 Agustus 2016, Pukul 19.30 WIB, di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. Dan pentas 2, Rabu, 31 Agustus 2016, Pukul 19.30 WIB di Auditorium STAIN Pamekasan, Madura. Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi no: 085648156555 (Aprilia Fatmawati)

Sebagai informasi, Rokateater merupakan Kelompok Pengkajian dan Penciptaan Seni adalah sebuah jejaring bagi seniman lintas disiplin untuk menciptakan lingkungan kreatif yang berkelanjutan di Indonesia, khususnya di wilayah di Madura. Jejaring ini juga dikondisikan sebagai media pertukaran wacana untuk menjelajahi dan merancang berbagai kemungkinan penciptaan seni. (Selendang/Red-02)

Baca Juga:  Khuldi, Pentas Produksi Teater ESKA: Isu Sosial Pasca Reformasi

Loading...

Terpopuler