Connect with us

Berita Utama

Penjarahan Minyak Oleh AS di Suriah Terus Berlanjut

Published

on

Penjarahan Minyak AS di Suriah Terus Berlanjut

Penjarahan minyak oleh AS di Suriah terus berlanjut.

NUSANTARNAEWS.CO, Damaskus – Amerika Serikat (AS) yang mengendalikan 90 persen wilayah penghasil minyak Suriah terus menggerogoti sumber devisa negara yang sangat dibutuhkan oleh Presiden Bashar al Assad untuk membangun kembali negerinya yang dilanda perang berkepanjangan.

Wilayah Suriah Timur adalah sumber terbesar kekayaan minyak dan gas Suriah yang kini diduduki oleh pasukan AS dan sekutu Kurdinya yang terus mengeksploitasi secara besar-besaran selama empat tahun belakangan ini.

Pada hari Selasa lalu, SANA melaporkan bahwa konvoi 80 kendaraan dari wilayah al-Jazeera telah dibawa ke luar negeri, menggunakan penyeberangan al-Waleed. Sebelumnya dilaporkan pula bahwa sebanyak 25 mobil tanki juga terlihat melintasi Irak.

Baru-baru ini Kantor Berita Arab Suriah juga melaporkan sebanyak 55 mobil tanki bermuatan minyak dan kendaraan pengawal dilaporkan telah keluar dari Suriah menuju ke Irak melalui penyeberangan perbatasan al-Waleed.

Media Suriah memang terus rutin secara konsisten melaporkan kegiatan penyelundupan militer AS, bukan hanya minyak tetapi juga pencurian produk pertanian Suriah seperti gandum

Suriah yang dilanda perang kini mengalami kesulitan ekonomi karena kehilangan sumber energi dan swasembada pangan yang selama ini dinikmati sebelum dimulainya agresi militer asing pada tahun 2011. Akibatnya, Suriah kini sangat bergantung pada Iran dan Rusia untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar dan makanan dalam beberapa tahun terakhir.

Meski kerap mendapat serangan dalam perjalanannya oleh Israel, kapal-kapal tanker Iran sejauh ini terus mengirim pasokan bahan bakar darurat ke Suriah untuk membantu mengatasi kekurangan energi negara tersebut.

Presiden Assad sendiri telah berulang kali menuntut agar semua pasukan asing yang tidak diundang ke negara itu oleh pemerintahnya, termasuk AS dan Turki, serta pasukan Israel yang menduduki Dataran Golan Suriah, segera meninggalkan daerah yang mereka duduki.

Baca Juga:  Dua Saksi Kasus Suap Perizinan Pembangunan Meikarta Dipanggil KPK

Seperti diketahui, kehadiran militer AS di Suriah timur tidaklah memiliki dasar hukum internasional – meski begitu pemerintahan Presiden Biden ternyata tetap kekeh melanjutkan kebijakan pendahulunya Presiden Donald Trump meski dibungkus dengan dalih memerangi teroris – tidak seperti Trump yang lebih jujur dengan mengakui kehadiran militer AS adalah untuk mengambil minyak Suriah.

Presiden Assad selama kunjungannya ke kawasan industri di luar Damaskus baru-baru ini, meyakinkan rakyatnya bahwa Suriah pada akhirnya akan mengatasi semua kesulitan yang dihadapinya dan memulihkan pembangunan ekonomi negara meski mendapat sanksi Barat. (Agus Setiawan)

Loading...

Terpopuler