Connect with us

Budaya / Seni

Pengantin Kuda

Published

on

Franz Marc Poster - Dreaming Horse. Foto: fr.pinterest.com

Puisi Norrahman Alif

Dramatik Sakera

Bagai lengkung alis bunga melatih
tampa sarung celurit menggantungkan lehernya dibalik pintu
wajahnya berkilau maut dan tajam ujung matanya
berkilat-kilat merindukan tanah wangi darah
digenggaman tangan orang-orang Madura
sebagai lambang kehormatan berjiwa kesatria

Dan celurit tak pernah diam di tangan pendendam
ketika bunga-bunga melati ayu
berbibir madu dan berkulit langsat itu
selingkuh dan  layu di semak-semak kekasih yang lain

Sebab sejak silam nenek moyangku mendidik jiwa untuk
angkuh menjunjung tonggak rasa malu

Loading...

lebih baik putih tulang dari pada putih mata

Itulah semboyan Sakera yang tetap berakar, menjalar
dalam otot-otot jiwa Madura sekekar pohon lontar
sebab sobeknya harga diri bunga melati tak bisa dijahit
dengan maaf dan rupiah di cermin mata kaum pria

Dan pesona bunga melati bukan sekedar cantik di cermin lelaki
atau pembeli lelah jiwa suami sehabis mencangkul bumi
bunga melati adalah perempuan berjiwa matahari dan berhati embun pagi
sama-sama memeras keringat kuning di dekapan terik mentari

Sewon, 2017

Dramatik Kuda-kuda Rantau

Kulihat gugur dedaunan hari berwarna kuning di taman Sumenep
setelah patah sayap kuda-kuda terbang jauh ke kota
adalah nasib yang selalu berjarak dengan kemelaratan

Dan di kala sepi, hanya senyap menghuni rumah-rumah bambu
berdinding gedek kenangan dengan pintu-pintu berdebu
terbuka menebar babad duka di halaman ingatanku

Ada kalanya, kuda-kuda rantau pulanglah ke kandang kelahiran
lalu jenguklah sawah-ladang kini tumbuh pohon kesedihan
dengan setundun buah buih air mata

Tak rindukah pada sapi-sapi bergaung rindu
ingin membajak bumi dengan gerimis bermusik
mengiring burung jalak merdu berlagu musim kesuburan di punggungnya

Baca Juga:  Ratu Lebah, Bunda - Puisi Dewi Sukmawati

Namun, kini kandang tinggal tenggala
kusam terpacak pada tonggak bambu sejarah.

Sewon,2017

Pengantin Kuda

Gendang di tabuh sepanjang jalan, gemanya mengingatkan jiwa pada kesedihan
dan suara seruling nyanring bunyinya dari dekat perih mengiris kalbu
sungguh kombinasi yang sempurna menjadi lagu pengiring bunga-bunga
seiring gaung musik terus bertalu-talu dari jauh,rindu merapatkan diri yang jauh.

Lalu di sepanjang jalan itu bunga-bunga cilik berlenggak-lenggok
menunggangi kuda hitamnya dengan kaki-kakinya berjejak rapi
sungguh cantik dan berkilau tatarias di seluruh tubuhnya
dengan di kepalanya tumbuh mawar melati merekah,

Indah. Seindah jiwa-jiwa mereka yang sedang berbahagia
Sejauhnya jalan waktu yang bising
Kaki-kaki kuda itu terus mengimbangi lagu
Sambil menyibak keremangan waktu malam

Kemudian, seluruh kebisingan yang terbuat dari lelah dan gembira itu.
sampai di halaman rumah, sambil lalu semua bunga itu memutar
menyabung keindahan kaki kuda-kuda yang lincah
lalu rekah gembira tak terkira dan sedikit air mata dari masing-masing
Wajah tetangga dengan berharap kelak seikat sehati dalam satu cinta

Madura,2017

Norrahman Alif. Lahir di Banuaju Barat Sumenep. Saat ini menetap di Yogyakarta sebagai pemandu literer sastra. Dan karya-karya puisinya bisa dinikmati di koran maupun antologi: Wasiat Darah , Sasoma, dan terpilih 100 puisi terbaik dalam Antologi lomba PCINU Maroko), terpilih 100 puisi terbaik dalam buku antologi puisi: Ketika Burung-burung Telah Pergi, Majalah Buletin Jejak, NusantaraNews, dan Minggu Pagi dll.

 

Loading...

Terpopuler