Connect with us

Politik

Pengamat Ini Sentil Program Unggulan Gus Ipul-Puti

Published

on

Ribuan Buruh Perempuan Doakan Gus Ipul Jadi Gubernur Jatim. Foto: Setya/ NusantaraNews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ada delapan program unggulan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur, Gusti (Gus Ipul-Puti). Analis politik dan media Hanif Kristianto mengingatkan, jujur dan harus diakui bahwa untuk menjadi gubernur banyak urusannya. Hal ini dikarenakan Gubernur itu pemimpin bagi rakyatnya. Tidak semata-mata delapan program unggulan.

“Gubernur seperti manusia super, mampu mengelola potensi Jatim sehingga memberi manfaat bagi rakyatnya,” kata Hanif dalam keterangannya, Jakarta, Rabu (7/3/2018).

Adapun delapan program unggulan Gusti tersebut di antaranya PKH (Program Keluarga Harapan) Super, Mas Metal (Masyarakat Melek Digital), Seribu Dewi (Seribu Desa Wisata), Dik Dilan (Pendidikan Digratiskan Berkelanjutan), Satria Madura (Satu Triliun untuk Madura), Desa Cemara (Desa Cerdas Maju Sejahterah), Tebar Jala (Pusat Ekonomi Baru Jalur Selatan, dan Madin Plus Berkelanjutan.

“Delapan program unggulan Gusti bisa saja dinilai baik. Baik menurut timnya belum tentu baik menurut rakyat. Pasalnya, kekompleksitasan masalah mendasar di Jatim berkutat pada ekonomi, sosial politik, pendidikan, dan kesejahteraan. Mampukah delapan program itu terwujud selama 5 tahun? Apa juga perlu dibawa di periode kedua? Inilah tanda tanya besar,” papar Hanif.

Menurut Hanif program unggulan yang ditawarkan pasangan Gusti semisal Seribu Dewi, Satria Muda, Desa Cemara, Tebar Jala, dirasa belum mampu menyelesaikan akar masalah.

“Desa dijadikan wisata tak jua mampu menjual nilai yang ada. Malahan lupa pada pemanfaatan dan perlindungan pada petani. Pun Satria Muda bisa menjadi kecemburuan daerah lainnya,” kata dia

Terakhir, Hanif mengatakan sebenarnya program berkelanjutanlah yang sejatinya dirindu rakyat. Bukan ganti pejabat, ganti kebijakan. Ketiadaan program berkelanjutan inilah yang semakin menjauhkan dari terwujudnya pembangunan.

Pewarta: Alya Karen
Editor: Eriec Dieda

Jurnalis dan editor di Nusantara News, researcher lepas. | life is struggle and like in silence |

Advertisement
Advertisement

Terpopuler