Connect with us

Politik

Pengamat: Indonesia Bisa Tinggal Serpihan Kehancuran Tahun 2019

Published

on

Peta gepolitik bangsa Indonesia. (Foto: Istimewa)

Peta gepolitik bangsa Indonesia. (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pengamat Ekonomi Politik Salamuddin Daeng menilai Indonesia sebagai negara bisa hanya tinggal serpihan kehancuran pada tahun 2019 mendatang. Penyebabnya, kata dia, bukan hanya lantaran Indonesia dilanda banyak bencana sepanjang tahun 2018 ini, seperti gempa di Lombok, gempa dan tsunami di Palu-Donggala, tetapi Indonesia juga dilanda gempa ekonomi dan tsunami krisis.

“Ada tiga krisis yang dihadapi bangsa ini yang membawa bangsa dan negara indonesia menuju jurang kehancuran. Pemilu 2019 akan menjadi Medan penghancuran negara Indonesia,” kata Daeng melalui pesan elektroniknya, Jakarta, Selasa (23/10/2018).

Baca Juga:

Menurut Daeng, pada pemilu 2019 akan bertemu tiga krisis yakni: pertama, krisis ideologi dan krisis kebangsaan yang akan berujung pecahnya bangsa dan negara Indonesia menjadi serpihan yang tak terselamatkan.

Kedua, krisis ekonomi yang akan berujung pada ambruknya pemerintahan dan kocar kacirnya kehidupan ekonomi masyarakat pada semua tingkatan.

Dan ketiga, kata dia, krisis sosial budaya yang akan berujung pada masyarakat yang super exlusive tidak peduli saru sama lain, dan saling meniadakan satu sama lain, hilangnya kehormatan pemyelemggara negara dan tokoh-tokoh masyarakat.

“Krisis ekonomi akan menjadi pemicu ledakan krisis multidimensi. Jikapun Jokowi bisa lolos 2019 dengan selamat maka akumulasi beban kehidupan berbangsa dan bernegara akan menggunung di 2019. Saya kurang yakin Jokowi bisa lolos 2019,” jelasnya.

Ada tiga beban ekonomi yang dihadapi, tambah Daeng, yang tidak mungkin dapat dipecahkan oleh sistem yang tengah dipakai saat ini yakni: Perta, beban bunga internasional meningkatnya suku bunga internasional, indoneisa bisa dapat utang dengan bunga makin mencekik. Untuk bayar bunga sekarang aja sudah setara dengan jumlah uang beredar di dalam negeri.

“Kedua, beban kurs yang semakin mencekik. Penurunan nilai tukar rupiah terhadap USD akan meningkatkan utang berkali kali lipat. Sementara kurs mengarah ke 20 ribu per USD, dikarenakan defisit neraca eksternal permanen,” ungkapnya.

Simak:

Ketiga, lanjut Daeng, beban bunga dalam negeri yang kian menjerat leher. Bank bank sudah memasang bunga 14 persen di 2019. Rakyat sudah menjerit. Perusahaan, rakyat tidak akan bertahan lama dengan bunga mencekik. Karema oada saat yang sama harga harga sudah melilit usus.

“Jadi pie masih tetap mau berjalan dengan pemilu ini,” ujar Daeng ringan.

Pewarta: Roby Nirarta
Editor: M. Yahya Suprabana

Advertisement

Terpopuler