Connect with us

Opini

Pengakuan Para Pilot: Manajemen Lion Air Tidak Manusiawi

Published

on

Maskapai Lion Air/IST

NUSANTARANEWS.CO – Pengakuan Para Pilot: Manajemen Lion Air Tidak Manusiawi. Dalam sebuah pengadilan negeri Jakarta Pusat beberapa waktu lalu, seorang pilot maskapai Lion Air, bernama Capt Olive bercerita bahwa terjadi ketimpangan gaji pilot asing dan pilot dalam negeri. Bayangkan saja katanya, “Saya di gaji hanya Rp 40 juta per bulan, sementara pilot asing sekitar USD 10 sampai USD 11.000 (Rp 150 juta) per bulan. Belum lagi fasilitas yang juga berbeda, mereka (pilot asing) dibayar menggunakan dolar, diberikan apartemen. Sangat timpang dan tidak adil,” ujarnya.

Lebih jauh diungkapkan bahwa, “Pilot asing yang bekerja di Lion Air banyak yang nol pengalaman, mereka hanya mengambil keuntungan dan pengalaman jam terbang untuk lisensinya dan setelah mendapatkan pengalaman dan lisensi mereka pulang lagi ke negaranya, kemudian dibayar lebih tinggi di negaranya.”

Radaksi nusantaranews.co mencoba melakukan pengecekan informasi bahwa memang pilot-pilot asing hanya dengan semacam kursus 3 (tiga) bulan saja, memang sudah boleh terbang. “Sedangkan kita, pendidikan pilot di Indonesia harus melalui pendidikan selama tiga tahun. Sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan oleh seorang pilot. Kita nomor satu adalah menjaga keselamatan penerbangan, keselamatan penumpang. Sebelum terbang, kita pasti akan mencek satu-satu kondisi pesawat, mulai dari baling-baling, kalau pesawat itu baling-baling. Demikian pula mesin pesawat bila itu pesawat jet. Sampai bahan bakar.”

Kalau pilot asing itu, mereka tahunya cuma terbang, karena urusan cek dan ricek pesawat itu urusan maintenance. Bukan bagian dari tugas pilot.

“Jadi demo-demo dan protes kita selama ini sebetulnya bukan sekedar persoalan tunjangan dan gaji seperti yang diberitakan banyak media. Kalau hanya soal itu, ya dangkal sekali tuntutan kita.”

Persoalan sistem uang transport adalah salah satu saja dari sekian banyak persoalan yang dihadapi para pekerja. Bayangkan saja untuk urusan uang receh saja, seperti uang transport manajemen memberlakukan sistem reimburse. Padahal, berdasarkan perjanjian kontrak antara manajemen dan para pilot, uang transpor harusnya dibayar di muka. Ini sudah dibayar belakangan, selalu terlambat pula.

Seorang nara sumber lain menyebutkan bahwa persoalan para pilot dan pekerja Lion Air adalah bukan hanya persoalan uang transport dan tunjangan. Tapi yang lebih penting adalah suasana kerja yang manusiawi. “Jangan kita para perkerja dianggap sebagai robot atau budak.”

Menurut seorang pilot, selama bekerja di Lion Air kita hidup dan bekerja sudah seperti budak, hak-hak kita sebagai manusia sudah dirampas. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Cuti dibatasi. Bayangkan ketika tugas terbang kita diberi libur satu hari, itupun kita pulang sudah tengah malam. Setelah libur kita berangkat lagi dini hari. Sekarang bagaimana kita bisa libur, kalau juga harus mengerjakan e-Learning di waktu kerja dan libur.

Meal crew sembarangan, apa adanya tanpa aturan dan quality control yang jelas. Uang jam terbang, uang PATA yang kabur hitungannya. Bahkan slip gaji saja tidak ada, jadi bagaimana hak dan kewajiban kita sebagai pekerja demikian pula hak dan kewajiban perusahaan menjadi tidak jelas. Jadi jangan harap ada transparansi. Itulah drama yang dilakukan oleh pihak manajemen. Misalkan pemberian BPJS saja tidak ada. Jadi jangan harap ada uang pensiun di Lion Air. Demikian kami BP APLG berjuang tanpa pamrih ikhlas lillahi ta ala. Kami siap mempertaruhkan kelangsungan hidup kami dan keluarga, tegas mereka. (Banyu)

Terpopuler