Connect with us

Mancanegara

Penelitian: Tentara Wanita Memiliki Daya Tahan Lebih Tinggi dalam Perang dan Operasi Militer

Published

on

Tentara wanita dalam sebuah latihan perang dalam program Armada Baltik, kursus pelatihan militer intensif. (Foto: RIA Novosti/Igor Zarembo)

NUSANTARANEWS.CO, Norwegia – Tentara wanita dinilai memiliki daya tahan lebih tinggi dalam menghadapi stres yang eksrtim saat latihan, perang dan operasi militer.

Dikutip Russia Today, dikatakan, tentara wanita dapat menahan latihan yang sejatinya menuntut sama baiknya, jika tidak lebih baik, daripada tentara pria.

Norwegia adalah sebuah negara di Semenanjung Skandinavia yang telah memperkenalkan wajib militer bagi wanita pada tahun 2015 silam. Sejak saat itu, jumlah wanita yang bertugas di militer Norwegia semakin meningkat.

Kendatipun meningkat, penelitian yang mengulas tentang bagaimana pria dan wanita mengatasi kerasnya menjadi tentara masih minim sekali. Memang, sudah banyak studi tentang perbedaan individu soal bagaimana tentara beraksi terhadap ketegangan luar biasa yang mereka tanggung selama perang dan operasi militer. Tapi, penelitian tentang bagaimana para wanita mengatasi kerasnya menjadi tentara belum banyak.

Hal itu lantas menginspirasi Lembaga Penelitian Pertahanan Nowegia (FFI) untuk melakukan sebuah penelitian sekaligus melihat bagaimana pria danw anita mengatasi kehidupan militer.

Peningkatan proporsi perempuan di Angkatan Bersenjata telah memberi kami kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak pengetahuan tentang konsekuensi ekstrem militer bagi kalangan perempuan,” kata FFI.

Massa otot, berkurangnya kinerja fisik dan perubahan hormon adalah reaksi umum dalam latihan militer. Ini yang kemudian menjadi fokus juga dalam penelitian FFI.

“Wanita memiliki pembakaran lemak yang lebih baik selama aktivitas. Ini bisa menjadi keuntungan selama latihan atau operasi jangka panjang,” kata peneliti FFI, Hilde Teien. Para wanita juga ditemukan pulih lebih cepat, katanya.

Namun, sampel penelitian FFI kali ini tergolong sangat kecil karena hanya melibatkan 23 tentara pria dan 12 pasukan penerjun payung perempuan dari Komando Khusus Angkatan Bersenjata (Armed Forces Special Command). Meskipun sampel kecil, kata Teien, hasil penelitian ini menjadi kabar baik bagi siapa saja yang menginginkan, terutama kalangan perempuan, untuk bergabung dengan angkatan bersenjata.

Baca Juga:  JSM Produksi Norwegia: Rudal Khusus Bagi Pesawat Tempur F-35

“Ada lebih banyak fokus pada pria yang memiliki kapasitas fisik lebih besar daripada wanita. Namun perbedaannya bisa dikurangi karena wanita memiliki lebih banyak lemak di tubuh,” kata Teien.

Lebih lanjut para peneliti menyarankan kepada tentara pria dan wanita untuk tetap menjaga lemak yang ada di dalam tubuh mereka agar dapat membantu mengatasi operasi militer yang berat.

“Dalam masyarakat saat ini, sangat penting untuk memiliki massa otot yang besar dan sedikit lemak di tubuh anda. Bagi para prajurit penting untuk memiliki lebih banyak lemak di tubuh. Ideal untuk menjadi sangat langsing dan memiliki otot yang ditentukan mungkin tidak ideal untuk prajurit yang optimal,” katanya.

Pewarta: Almeiji Santoso
Editor: Eriec Dieda

Terpopuler