PolitikTerbaru

Peneliti UGM: Media Perburuk Kata ‘Pribumi’

NUSANTARANEWS.CO, Yogyakarta – Kata ‘pribumi’ yang diucapkan Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Anies Baswedan dalam pidato perdananya menjadi perbincangan dan viral di jagat maya. Berbagai pandangan dan pendapat mengalir deras dari banyak kalangan terkait penggunaan kata ‘pribumi’ itu. Padahal, kata tersebut bukan hal asing karena sejumlah tokoh nasional juga pernah mengucapkan kata tersebut. Lalu mengapa Anies jadi sasaran banyak pihak?

Menurut Peneliti Bidang Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan Universitas Gadjah Mada (UGM), Samuel H. Kallawaly, hal itu terwujud karena adanya andil penting dari media massa di Indonesia.

“Media massa berperan besar dalam memperburuk kata ‘pribumi’, seperti yang terjadi saat ini,” ujar dia dalam siaran persnya Menanggap Pidato ‘Pribumi’ Gubernur DKI Jakarta, Yogyakarta, Rabu (18/10).

Sebenarnya, kata dia, banyak meme bermunculan yang menunjukkan bahwa selain Anies Baswedan, masih banyak tokoh lain yang pernah berbicara tentang pribumi, namun jauh dari hiruk pikuk kontroversi.

Baca Juga:  Mendagri Resmi Lantik Achmad Marzuki Jadi Penjabat Gubernur Aceh

“Sebut saja Megawati, Susi Pudjiastuti, bahkan nama Jusuf Kalla pun disebut pernah mengungkapkan kalimat tersebut. Namun tidak menjadi hiruk pikuk yang kontroversi,” katanya.

BACA JUGA:

Menarik memang, kata dia, sebab belakangan kalimat ini kembali dipersoalkan karena disebutkan oleh Anies Baswedan dalam pidato politiknya yang pertama.

“Secara sederhana muncul satu pertanyaan, mengapa kata ini menjadi ‘hot‘ ketika diungkapkan oleh Anies Baswedan dan bukan yang lain?” ungkap dia.

Politik – Media

Samuel menuturkan, politik dan media merupakan dua sisi yang tidak bisa terlepas satu sama lain. Kepemilikan media oleh politisi menjadikan media sebagai sarana dalam memuluskan rencana. Sebab, citra dibangun melalui framming.

“Media tidak saja mengatakan apa yang seharusnya kita pikirkan, tetapi media juga memberitahukan bagaimana memikirkan objek tersebut, demikian ungkap McCombs, dalam merespon pengaruh media dalam membangun citra,” jelas Samuel lagi.

Baca Juga:  Pemkab Nunukan Soft Launching Tanda Tangan Elektronik Pada Naskah Dinas

Sejak Pilkada DKI Jakarta bergulir, media punya cara tersendiri dalam menggambarkan sosok Anies. Dari beberapa media besar, terutama Metro TV, nama Anies Baswedan cenderung dikaitkan dengan aksi demo berjilid-jilid, FPI, Habib Riziq, serta berbagai aksi kampanye bernuansa SARA lainnya.

Menurut dia, sedikit rasanya porsi yang diberikan untuk menggambarkan sisi positif dari Anies Baswedan. Atas framming yang demikian, opini masyarakat pun terbentuk, di mana ada penilaian yang negatif tentangnya. Kedekatannya dengan beberapa ormas yang dianggap intoleran, anti kafir dan anti asing, terus diangkat oleh media, alhasil membuat citra Anies Baswedan buruk.

“Dengan citra yang demikian, sudah pasti apapun yang dilakukan oleh Anies Baswedan akan terus diamati. Jika ada titik lemah, maka celah itu akan ‘disikat’. Kesempatan emas pun tiba, ketika Anies Baswedan mengucapkan kata ‘Pribumi. Kata yang tak ada dampak apa-apa jika disebutkan oleh tokoh lain, namun menjadi ‘bom atom’ karena disebutkan oleh Anies Baswedan,” papar Samuel lagi.

Baca Juga:  Menengok Nasionalisme Paskibaraka Sebatik Yang Sampai Rela Swadaya Seragam Sendiri

Harus berhati-hati

Samuel menambahkan, atas insiden itu tak salah jika banyak kalangan menyerukan agar Anies Baswedan berberhati-hati dalam bertutur kata. Jangan sampai pengalaman Ahok terulang lagi olehnya, kata dia.

Meski ucapan Anies merupakan bagian dari manuver politik, di mana sengaja memunculkan cerita kolonialisme dan isu pribumi yang multi tafsir, namun Anies harus tetap waspada, karena bisa saja kontraproduktif, bahkan menjadi bumerang.

“Sebagai Gubernur yang baru saja dilantik, Anies harus ingat bahwa merebut jabatan itu tak semudah mempertahankannya,” kata Samuel. (ed)

Editor: Eriec Dieda/NusantaraNews

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 28