Connect with us

Mancanegara

Pendiri Blackwater Sarankan Pasukan AS di Suriah Diganti dengan Kontraktor Militer Swasta

Published

on

blackwater, kontraktor militer swasta, erik prince, pasukan as, perang suriah, perang afghanistan, nusantaranews

Pasukan Kontraktor militer swasta, Blackwater USA. (AP Photo/Gervasio Sanchez)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pendiri Blackwater USA, Erik Prince mendukung langkah Presiden Donald Trump menarik tentara aktif Amerika Serikat yang sudah bertahun-tahun bertugas di Suriah dan Afghanistan sejak kedua negara Timur Tengah itu dilanda perang.

Perang Afghanistan sudah berlangsung selama hampir 18 tahun. Sementara Perang Suriah sudah berlangsung selama hampir 8 tahun. Ribuan tentara aktif AS yang dikerahkan dalam perang di dua negara tersebut. Ribuan tentara juga telah gugur di medan pertempuran.

Presiden Trump kemudian berencana menarik pulang pasukan AS di kedua negara tersebut. Rencana ini disampaikan Presiden Trump pada Desember 2018 lalu. Beberapa bulan mendatang, Presiden Trump ingin tentara AS pulang ke tanah air.

Baca juga: Beredar Isu Blackwater Bakal Gantikan Pasukan Militer AS di Suriah dan Afghanistan

Namun, rencana Washington ini tentu tak mudah. Pasalnya, sekutur AS di Suriah, yakni Kurdi boleh jadi berada dalam bahaya menyusul rencana Turki menggelar operasi militer di timur Sungai Eufrat setelah sebelumnya menggelar operasi Ranting Zaitun di perbatasan Turki-Suriah yang menargetkan pasukan Kurdi (YPG).

Pada dasarnya, rencana Presiden Trump baik. Bagaimana pun, perang di Suriah dan Afghanistan beberapa waktu belakangan semakin ganas dan tak terkendali. Sementara, Presiden Trump tak ingin tentara aktif AS yang merupakan aset masa depan bangsa jatuh berguguran di medan pertempuran.

Selama wawancara dengan Fox Business seperti dikutip Sputnik, Erik Prince mendukung keputusan Presiden Trump yang berencana menarik pasukan Amerika itu. Menurut Erik, Washington sudah tidak memiliki kewajiban stretegis jangka panjang untuk tetap bertahan di kedua negara tersebut dan harus segera mengakhiri perang yang sepertinya tanpa akhir.

Baca juga: Membaca Kepentingan AS dan Israel di Balik Perang Suriah

Baca juga: Operasi Militer Turki di Perbatasan Dinilai Membuka Pintu Teroris Masuk Suriah

Kendati setuju dengan rencana Presiden Trump, Erik juga mengatakan salah bila sekutu-sekutu Amerika di Suriah dan Afghanistan ditinggalkan begitu saja. Pasukan Demokratik Suriah (SDF) merupakan sekutus AS selama Perang Suriah. Karenanya, Erik menyarankan agar Presiden Trump menyerahkan urusan tersebut kepada kontraktor militer swasta untuk menggantikan pasukan AS dalam rangka melindungi sekutu.

Sebab, kata Erik, tanpa bantuan kontraktor militer swasta, sekutu AS akan dihancurkan oleh pasukan Iran dan Suriah. Namun, baru-baru ini Turki dan Amerika telah setuju untuk membangun zona keamanan atau zona penyangga 32 kilometer di Suriah utara guna mencegah kelompok teroris menyerang Turki dan pasukan Kurdi.

Baca juga: Al-Qaeda dan 16 Tahun Perang Afghanistan

Sekadar tambahan, Erik Prince adalah pendiri perusahaan militer swasta ternama, Blackwater. Kontraktor militer swasta ini telah membantu pasukan AS di Irak dan Afghanistan. Namun, Blackwater sempat mengalami skandal besar pada 2007 silam karena dinyatakan bersalah dalam tragedi pembunuhan 14 warga sipil Irak di Baghdad. Kritik keras pun menerjang perusahaan yang dikomandoi Erik Prince.

Setelah skandal itu, Blackwater berganti nama dua kali dan sekarang dikenal dengan nama Akademi. Tambahan lagi, Blackwater terdiri dari lima perusahaan di antaranya Blackwater Training Center, Blackwater Target System, Blackwater Security Consulting, Blackwater Canine dan Blackwater Air.

(eda/asq)

Editor: Almeiji Santoso

Terpopuler