Connect with us

Budaya / Seni

Pendidikan di Tengah Pandemi: Menciptakan Karakter yang Kritis dan Berdaya Saing Tinggi

Published

on

Pendidikan di Tengah Pandemi

Pendidikan di Tengah Pandemi.

Pendidikan di Tengah Pandemi: Menciptakan Karakter yang Kritis dan Berdaya Saing Tinggi

Perkembangan Pandemi Covid-19 yang terus menjalar, menuntut semua lembaga untuk melakukan kegiatannya di rumah masing-masing, tak terkecuali lembaga pendidikan.
Oleh: Pang M Jannisyarief

Sejak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh pemerintah, mengharuskan seluruh kegiatan belajar-mengajar dilakukan melalui metode sistem daring. Baik dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi. Dengan sistem daring ini, membuat peserta didik belajar melalui bermacam platform seperti: Zoom, Google Meet, Google Classroom, Canvas, hingga Whatsapp Grup. Dengan metode pembelajaran yang seperti ini, membuat perbedaan yang signifikan dengan metode pembelajaran konvensional. Ketika metode konvensional, guru atau dosen menjadi sarana pendidikan yang proaktif dalam mengajar anak didiknya untuk  memaksa peserta didik memahami materi yang ia ajarkan.

Namun, dalam metode daring ini tidak hanya guru atau dosen yang aktif, namun, peserta didik juga dituntut untuk bisa memahami materi yang diajarkan oleh guru atau dosennya. Karena ketika peserta didik tidak aktif dalam mempelajari materi, mereka bisa ketinggalan materi karena peserta didik tidak sebebas metode konvensional dalam bertanya. Hal ini karena tidak semua dosen atau guru dapat menggunakan IPTEK dengan baik sehingga terkadang mereka hanya membalas pertanyaan peserta didik melalui chatting atau melalui PPT yang ia berikan.

Metode pembelajaran daring juga menuntut peserta didik untuk lebih kritis lagi dalam menanggapi materi yang diberikan oleh pengajar. Jika dalam metode konvensional peserta didik tidak terlalu kritis dengan materi yang diberikan oleh pengajar karena mereka sudah terbebani dengan jadwal pembelajaran mereka yang membuat mereka letih karena di beberapa sekolah, mereka dijadwalkan masuk dari pagi hingga sore hari. Hal ini membuat mereka letih ketika belajar di sekolah sehingga level kritis mereka tidak berkembang secara signifikan.

Baca Juga:  Istilah Politik Genderuwo Tampaknya Ditujukan Kepada Prabowo Subianto

Namun, dalam sistem daring peserta didik memiliki waktu yang leluasa untuk menyusun jam istirahat dan belajar mereka dengan pengajar sehingga tidak membuat mereka bosan karena hanya mendengar ceramah dari pengajar mereka di kelas. Hal ini sangat bagus bagi perkembangan peserta didik karena mereka dapat mencari kembali materi yang diajarkan oleh pengajar mereka di internet dan membandingkan keilmuan yang didapat dari pengajar dan internet sehingga peserta didik dapat menemukan sintesis dari materi yang telah diajarkan agar tidak menerima mentah-mentah materi yang diberikan.

Level kekritisian peserta didik ini diperlukan dalam perkembangan pendidikan Indonesia. Mengacu pada hasil riset yang disusun oleh PISA yang merupakan badan riset untuk mengetahui kualitas pendidikan di suatu negara, Indonesia berada di posisi ke-73 dari 78 negara yang diteliti. Indonesia tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei. Tiongkok menjadi negara dengan sistem pendidikan terbaik diikuti oleh Singapura. Hal ini menjadi miris ketika Indonesia telah menggelontorkan dana pendidikan sebesar Rp. 444,131 triliun namun hasilnya tidak berbanding lurus dengan jumlah anggarannya.

Merosotnya kualitas pendidikan di Indonesia karena pengajar masih mengandalkan metode yang cukup kuno. Walaupun sudah ada perbaikan kurikulum menjadi kurikulum 2013 pada level SD hingga SMA, nyatanya peserta didik hanya dibebani dengan hal-hal yang bersifat hafalan dan tidak sama sekali meningkatkan level kritis dan analisis dari peserta didik. Padahal, peserta didik seharusnya lebih ditekankan pada level analisis dan kritis agar mereka tidak menjadi manusia yang menerima suatu hal dan ditelan mentah-mentah.

Dengan adanya sistem daring ini justru membuat metode konvensional dan kuno sedikit menghilang karena peserta didik dituntut untuk mencari jawaban atas materi yang diberikan oleh pengajar. Mereka tidak hanya diberikan materi lalu pembelajaran tersebut selesai, namun, mereka juga dituntut untuk mencari jawaban yang hakiki dari materi yang diajarkan.

Baca Juga:  Din Syamsuddin: Soal Lahan HGU Itu Dimensi Personal, Tak Perlu Didebatkan

Selain itu, dengan keadaan seperti saat ini, peserta didik juga diharapkan belajar untuk memiliki karakter berdaya saing. Karena di situasi yang membosankan, banyak platform-platform pendidikan yang menyediakan event-event lomba untuk diikuti. Seperti yang dilakukan @bemfkip.untirta mereka mengadakan lomba menulis secara gratis bahkan ada hadiah yang akan didapat ketika berhasil menjadi juara. Event seperti ini diperlukan oleh peserta didik Indonesia jika melihat laporan Global Talent Competitiveness Index (GTCI)  sebuah badan untuk meneliti indeks daya saing pendidikan di sebuah negara, Indonesia menempati urutan ke-6 dari 9 negara di ASEAN dan tertinggal dari Malaysia dan Filipina yang anggaran pendidikannya di bawah Indonesia. Padahal, untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0, menjadi hal yang esensial bagi suatu negara memiliki SDM yang berdaya saing tinggi.

Merosoknya peringkat Indonesia disinyalir karena peserta didik tidak memiliki tingkat persaingan sehat sejak dini karena sistem pendidikan kita yang hanya berbasis hafalan tidak menuntut peserta didik untuk mengikuti lomba-lomba yang dapat membangkitkan tingkat daya saing mereka. Oleh karena itu, sangat penting bagi peserta didik untuk mengikuti event-event seperti ini, selain mengisi waktu luang, peserta didik juga belajar meningkatkan level daya saing dan tingkat kritis untuk memperbaiki kualitas pendidikan negara Indonesia menghadapi bonus demografi tahun 2020 hingga 2030 dan persaingan di era globalisasi.[]

Penulis: Pang M. Jannisyarief Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Loading...

Terpopuler