Connect with us

Mancanegara

Penderitaan Tiada Akhir Rohingya

Published

on

Pengungsi Rohingya banyak yang tiba di Bangladesh setelah menyeberangi sungai Naf yang merupakan perbatasan Myanmar-Bangladesh. (Foto: APF/Fred Dufour)

NUSANTARANEWS.CO – Dilaporkan sedikitnya 14 pengungsi Rohingya yang kebanyakan anak-anak, tenggelam dan hilang pada Senin (9/10) setelah kapal mereka kelebihan muatan sehingga menyebabkan kapal terbalik. Ini adalah tragedi terbaru dari serangkaian pelarian diri Rohingya dari Rakhine State, Myanmar ke Bangladesh.

AFP melaporkan, pihak berwenang di Bangladesh mengatakan bahwa kapal tersebut membawa sekitar 60-100 orang saat terbalik lalu tenggelam di laut lepas pada Minggu (8/10) malam.

Akibatnya, 11 anak-anak, dua wanita dan seorang pria terdampar di pulau Shah Porir Dwip di Bangladesh dan penjaga perbatasan mengevakuasi 13 orang yang selamat dari insiden ini, namun yang lain nasibnya masih belum diketahui.

Lebih dari setengah juta Rohingya telah meninggalkan Myanmar sejak 25 Agustus lalu. Serangan brutal pasukan keamanan pemerintahan Myanmar telah menciptakan tragedi kemanusiaan yang memilukan bagi Rohingya di Rakhine. PBB lantas menyebutnya sebagai tindakan pembersihan etnis. Sebab, kalau pun hanya berdalih memburu militan Rohingya sudah barang tentu jumlahnya tak sebanyak penduduk Rakhine.

Sekitar 150 orang tenggelam dalam usaha untuk melakukan perjalanan di kapal nelayan kecil dan reyot yang menurut para pengawal pantai sangat tidak memadai untuk mengarungi laut lepas.

Seorang yang selamat, Sayed Hossain, menangis saat melihat mayat anak laki-lakinya yang berusia dua tahun dibawa ke pemakaman setempat.

Organisasi Internasional untuk Migrasi mengatakan beberapa anak di dalam kapal telah kehilangan seluruh keluarga mereka dalam bencana tersebut dan sekarang sendirian di negara asing.

Penduduk desa di Shah Porir Dwip, di mana sebagian besar kapal mendarat, mengatakan kepada AFP bahwa orang-orang Rohingya semakin bepergian pada malam hari untuk menghindari patroli perbatasan yang ketat di Bangladesh, membuat perjalanan ini menjadi lebih berbahaya.

Baca Juga:  Gus Yaqut Ajak Publik Cerdas Melihat Akar Persoalan Rohingya

Pekan lalu para penjaga menghancurkan setidaknya 30 kapal penangkap ikan di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa mereka digunakan untuk membawa obat metamfetamin, yang populer dikenal secara lokal sebagai Yaba. Mereka khawatir, obat haram itu masuk dengan memanfaatkan derasnya arus pengungsi yang berdatangan.

Arus kedatangan pengungsi dilaporkan masih terus berdatangan. Beberapa ribu pendatang baru melonjak ke Bangladesh pada hari Senin setelah arus masuk baru-baru ini melambat menjadi sekitar 2.000 per hari.

Komandan Letnan Manzurul Hassan Khan, seorang komandan penjaga perbatasan setempat, memperkirakan bahwa 6.000 orang telah tiba di siang hari setelah melintasi sungai Naf di desa perbatasan Anjumanpara.

Pemerintah Myanmar yang beragama Buddha menolak untuk mengakui Rohingya sebagai kelompok etnis mereka dan menganggap Rohingya sebagai migran ilegal dari Bangladesh.

Sementara kekerasan terburuk tampaknya telah mereda. Ketidakamanan, kekurangan pangan dan ketegangan dengan tetangga Buddhis masih mendorong ribuan orang Rohingya untuk melakukan perjalanan yang sulit ke Bangladesh.

AFP melaporkan, setidaknya 10 ribu orang tiba sepanjang hari sampai malam hari.
Di antara arus masuk terakhir ada dua anak laki-laki, berusia dua setengah tahun dan tiga tahun, yang meninggal karena kelaparan dan kelelahan saat mereka memasuki Bangladesh.

“Orang tua mereka mengatakan kepada kami bahwa mereka meninggal karena kelaparan. Mereka dimakamkan di pemakaman desa kami,” kata Khan. (ed)

(Editor: Eriec Dieda/NusantaraNews)

Loading...

Terpopuler