Pemulung di Lembang. Foto/Ilustrasi: Detikcom
Pemulung di Lembang. Foto/Ilustrasi: Detikcom

Cerpen: Suroso*

“Saat ini aku ingin tidur sesaat, kemudian terbangun dengan keindahan dan kemewahan”. Itulah yang selalu Sarmadi katakan ketika menjelang tidurnya. Dia merasa lelah dengan profesinya sebagai pemulung. Bahkan, ia sering mengeluh dalam sujudnya. Dalam sujudnya ia mengatakan “kalau hidup ini tidak adil untuk dirinya”.

Waktu  sudah menunjukkan malam yang penuh dengan gelap gulita. Terlebih rumahnya yang masih belum terlihat mewah dan belum ada lampu untuk menerangi ruangan tidurnya. Membuat dirinya tertidur dengan pulas.

Seperti biasa, Sarmadi tertidur sendiri, karena dia adalah pemuda yang sebatang kara, tidak tau asal-usulnya. Terakhir ia hanya mengenal seseorang laki-laki tua yang dianggap  sebagai kakeknya. Namun, kakek yang merawatnya telah pergi memenuhi panggilan ilahi.

Jika Sarmadi merindukan kakeknya, ia selalu mengatakan. “Aku kesepian Kakek” setelah itu Dia tertidur. Dalam tidurnya ia sering bermimpi memanggil-manggil kakeknya. Hingga dirinya meronta-meronta seperti orang yang akan kehilangan jasad. Tapi sayangnya ia tidak bisa mengetahui semua itu. Sarmadi hanya tau, bahwa hari ini dirinya bermimpi lagi.

Pernah suatu ketika ia bermimpi tentang kakeknya. Seperti biasa, ia pun berteriak-teriak, kemudian terdengar oleh beberapa orang yang kebetulan melewati rumahnya yang sepi. Akan tetapi, tidak ada respon yang positif dari orang yang mendengarkan. Orang yang lewat tersebut lebih sering mengatakan “Sudah biarkan, sudah menjadi bagian hidupnya dan dia juga menyukai”

Apa yang dikatakan orang tersebut memang benar.  Itu sudah menjadi rutinitas atau tradisi bagi dirinya untuk menghilangkan letih dalam hidup yang menuntunnya untuk berpura-pura bahagia. Kehidupan yang menuntut dirinya untuk menjadi lelaki yang tegar dan berpendidikan dengan caranya sendiri.

***

Matahari sudah memperlihatkan cahaya dari timur, yang menandakan kalau pagi sudah mengajaknya jalan-jalan menuju tempat sampah satu ke tempat sampah lain. Dengan pakaian khasnya, putih yang ada hitam-hitam di bagian tengah, ia berangkat dengan senyum yang seharusnya tidak ia keluarkan ketika bertutur sapa dengan orang yang ia kenal.

Dia senyum bukan karena menghargai. Tapi hanya itulah keluarganya yang tersisa. Karena sendiri itu menyakitkan. Itulah mengapa lebih baik senyum dengan orang yang mau mengenalnya dari pada harus teracuhkan dengan kesepian.

Terlihat dengan tegarnya ia berjalan menuju kota yang penuh dengan kerusuhan. Dari seberang jalan terlihat beberapa laki-laki berdasi masuk ke kantor-kantor yang ada di tengah-tengah kota Gede ini. Di depan kantor ada beberapa pedagang kaki lima yang mengerjakan profesinya sebagai penjual Nasi Uduk dan penjual beraneka es untuk menyambut pagi yang semoga menjadi keberuntungan masing-masing pedagang itu.

Dari seberang jalan Sarmadi terlihat sedang asyik mengamati dengan perasaan yang lelah dan perut yang keroncongan. Perutnya seakan berteriak-teriak. “Aku lapar Tuan”. Sergah perut untuk menagih haknya.

“Kamu harus sabar perut, aku belum mendapatkan sekarung barang bekas untuk makan hari ini”. Jawab Sarmadi yang seakan mengerti teriakan perutnya.

“Sudahlah, jangan mengeluh, nikmati saja apa yang sudah menjadi bagian hidupmu”. Bisik angin yang berhembus di sekelilingnya.

“Apa menikmati?, apa kau tidak bosan dengan kehidupan yang demikian. Selalu berada di bawah dan diacuhkan”. Sergah debu-debu yang lewat depan mukanya.

“Atau kau ingin menjadi seperti aku, terjatuh dan terlupakan”. Kata daun yang terbang terbawa hembusan angin.

“hahaha, sayangnya kau tidak akan berubah, profesi menjadi pemulung adalah takdir untuk memenuhi kebutuhan perutmu”. Sergah semut yang berlalu-lalang di sebelahnya.

“Coba kau lihat pemulung itu, matanya pucat ditertawakan oleh segerombolan semut. Kasian,!!!”. Tutur seekor burung pada pohon yang dihinggapi.

“Sudahlah, jangan kau hina orang baik itu. Kalau tidak ada orang seperti mereka di negeri ini, sudah seperti apa kota Gede ini.” Sergah pohon yang merasa iba dengan keadaan pemulung.

Terik matahari yang menyengat membangunkan lamunan Sarmadi yang belum mendapatkan sekarung barang bekas untuk kebutuhan hidupnya. Akhirnya ia pun memutuskan untuk berjalan kembali untuk mengelilingi kota Gede. Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini harus mendapatkan sekarung barang yang bisa ditukar dengan uang atau makanan.  Agar tidurnya nyenyak dengan perut kenyang dan bermimpi bertemu dengan orang yang dicintai.

***

Matahari sudah berjalan menuju ke ujung barat. Ini menandakan kalau hari ini sudah sore. Sarmadi sudah berhasil mengumpulkan sekarung barang bekas. Dan pastinya   kebutuhan perutnya hari ini akan tercukupi.

“Makan besar hari ini”. Katanya sambil mengusap-usap perutnya.

“Jangan makan terus yang dipentingkan, sesekali belilah baju, sudah tidak sedap baunya”. Sergah hidungnya yang berusaha membisikkan.

“Kakiku juga tanpa alas, apa kau tak kasian”. Suara kaki yang ingin dimanjakan juga.

“Tapi, bagaimana dengan rambutku yang gimbal”. Rambutnya pun mencoba menawarkan diri.

“Kalau begitu tanganku juga butuh pelindung, agar tidak terasa sakit ketika bekerja”. Tangan kirinya merengek dengan nada ibanya.

“Sudahlah kau jangan ikut-ikutan menjadi manja, biarkan mereka merengek. Karena dia tidak tau betapa pedihnya hidup yang ia rasakan.” Tangan kanan yang mencoba menenangkan saudara kirinya itu.

Memang benar, hidup yang dijalani oleh Sarmadi seperti halnya seseorang yang di tuntut untuk menyeberangi lautan tapi tanpa kapal ataupun perahu, sangat mustahil. Hingga akhirnya, ia pun harus menjadi laki-laki yang bisa menguatkan dirinya sendiri. Karena hidup ini bukan mimpi, tapi kenyataan yang benar-benar harus di hadapi. Dan menjadi pemulung adalah salah satu cara terbaik untuk dirinya. Bertahan dalam kesepian dan kerinduan yang sebenarnya. Kerinduan terhadap Ayah dan Ibu yang belum ia jumpai sampai saat ini.

***

Senja kini sudah memperlihatkan dirinya sebagai warna yang sangat indah untuk dinikmati beberapa penggemarnya. Kali ini Sarmadi juga ikut menikmati penawaran senja itu. Dalam senyumnya ia berkata betapa indahnya ciptaan-Nya.

Lantas kenapa Kau harus mengeluh. Bukankah Kota ini akan selalu terlihat indah dengan profesimu sebagai pemulung. Karena banyak orang-orang yang tidak bertanggung jawab di kota ini. Mereka dengan tanpa dosa membuang sampah di sembarang tempat, tanpa memikirkan alam yang sering menangis. Menangis karena tidak ada yang mau menjaga keindahannya.

Memang benar negeri ini tidak akan terlihat indah tanpa adanya orang-orang seperti Sarmadi. Hari sudah mulai malam, senja yang indah sudah pergi dengan senyum bahagianya. Dan Sarmadi, lelaki pemulung itu telah tertidur di dalam kesepian. Tertidur dalam dekapan ibu dan ayahnya. Meskipun itu hanya bayangan yang melintas dalam mimpinya.

*Penulis adalah Pegiat Sastra  di Garawiksa Instituate. Kini bermukim di Jln. Gedong Kuning. Gg, Irawan. RT 08, Rw 34 (Jogjakarta).

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar