Connect with us

Lintas Nusa

Pemuda Penabur Toleransi: Dari DIY Untuk Indonesia

Published

on

Lokakarya yang diselenggarakan oleh PGI di Student Center GMKI Wisma Immanuel. Foto Halimah/Nusantaranews
Lokakarya yang diselenggarakan oleh PGI di Student Center GMKI Wisma Immanuel. Foto Halimah/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Bertajuk Menabur Toleransi Bersama Pemuda Yogyakarta, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar lokakarya, 11-12 Januari 2017 kemarin. Pada kesempatan ini, PGI menggandeng Institut DIAN/Interfidei dan berhasil merangkul 47 pemuda lintas iman dari berbagai daerah yang tinggal di Yogyakarta.

Lokakarya yang diselenggarakan di Student Center GMKI Wisma Immanuel ini diikuti para peserta dengan antusias, khidmat, sekaligus semarak. Selain dua narasumber yang berasal dari Polda DIY dan seorang Bhikkhu dari Vihara Mendut Borobudur Magelang, para fasilitator dari DIAN/Interfidei menyuguhkan kegiatan-kegiatan kreatif yang dibungkus dalam permainan-permainan yang unik, menantang, dan menyenangkan. Hal ini menjadi media yang efektif dalam menyampaikan maksud-tujuan fasilitator kepada peserta yang datang dari beragam agama. Kecairan antar peserta dan panitia sudah dapat dirasakan semenjak hari pertama, tidak saling canggung karena latar agama yang berbeda.

Suryatama, perwakilan dari Polda DIY dalam bidang DITBINMAS, di hari pertama menyuguhkan tema Kebangsaan dalam kaitannya dengan tema yang diangkat oleh panitia PGI. Dalam sesi ini, peserta mendapat kesadaran bahwa dalam keikut-sertaan dalam upaya pembelaa Negara, pertahanan, dan keamanannya adalah kewajiban setiap warga Negara. Suryatama juga menjelaskan bahwa bela Negara adalah berlandaskan cinta tanah air, berbangsa, dan bernegara.

Selain fanatisme dan egoisme, Suryatama memandang bahwa degradasi materi pembelajaran juga menjadi poin kendala dan permasalahan penyebaran toleransi di Indonesia. “Misalnya, penghapusan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila diganti dengan Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) yang berbeda substansi atau kurang menanamkan butir-butir nilai-nilai dalam Pancasila yang berhubungan dengan cinta tanah air dan toleransi,” terangnya.

Bhikkhu Atthapiyo membacakan Prasasti Batu Kalinga No.XXII Raja Asoka sebagai penutup di sesi terakhir hari ke dua. Sebuah ajaran yang sarat nilai-nilai penghormatan, toleransi, dan kasih. (HG)

Baca Juga:  Kalah, Agus Yudhoyono Telepon Dua Paslon Ucapkan Selamat

Loading...

Terpopuler