Politik

Pembudayaan Keteladanan Pandu Indonesia‎ Tentang Bapak-bapak Pandu Indonesia

NUSANTARANEWS.CO – Apel Nasional Nusantara Bersatu berikat kepala Merah Putih 30 Nopember 2016 mengingatkan kembali peran Bapak-bapak Pandu Indonesia saat berjoang mengusung Persatuan Indonesia seperti melalui PAPI (Persatoean Antar Pandoe Indonesia, 23 Mei 1928), KBI (Kepandoean Bangsa Indonesia,15 Desember 1929) dan PRI (Pandoe Rakyat Indonesia, 29 Desember 1945).

Nama Indonesia dicetuskan pertama kali pada tahun 1850 oleh James Richardson Logan, seorang pengacara di Penang sekaligus pengamat sosial budaya. Nama Indonesia ini dilekatkan sebagai identitas lembaga2 pengusung nasionalisme pada tahun 1925 oleh Perhimpunan Indonesia di Belanda, dan pada tahun 1927 oleh Partai Nasional Indonesia di Bandung.

Yang menarik dicermati pada pra Resoloesi Kerapatan Besar Pemoeda Indonesia 28 Oktober 1928 yang ikrarkan 1 (satu) Nusa, Bangsa dan Bahasa Indonesia, pada tanggal 23 Mei 1928 telah lebih dulu ada pertemuan antara wakil-wakil Kepandoean Nasional, seperti Moewardi dari Pandoe Kebangsaan, Mr. Soenarjo dari INPO (Indonesische Nationale Padvinders Organisatie), Mr Kasman dari NATIPIJ (Nationale Islamietische Padvinderij), Ramlan dari SIAP (Syarikat Islam Afdeling Padvinderij), yang berujung pembentukan federasi kepanduan nasional PAPI‎ (Persatoean Antar Pandoe-pandoe Indonesia).

Baca Juga:  Ketum Ganjarist Hina Ning Imaz Di Medsos, Gus Fawait Kecam Eko Kuntadhi

‎Artinya semangat Persatuan Indonesia (Sila-3 Pancasila) telah jadi pijakan bagi tokoh2 penggiat Kepanduan kala itu sebagai akar perekat bagi kebersamaan mengusung KeIndonesiaan.

Langkah kebijakan Kepanduan Indonesia ini dilanjutkan dengan prakarsa pada tanggal 15 Desember 1929 di temu PAPI Batavia dengan usulan SOKI (Satoe Organisasi Kepandoean indonesia) berprinsip “pandoe yang satoe adalah saoedara pandoe yang lainnya, oleh karena itu seloeroeh pandoe haroes menjadi satoe” yang lalu ditindaklanjuti dengan fusi PK, INPO dan PPS (Pandoe Pemoeda Soematera) jadi KBI (Kepandoean Bangsa Indonesia) dan Moewardi dilantik jadi Komisaris Besar pada tanggal 8 Pebruari 1930.‎ KBI ini di era pendudukan militer Jepang pada tahun 1944 dibekukan.

27-29 Desember 1945 di Solo berlangsung Kongres Kesatoean Kepandoean Indonesia (dari 300 perwakilan Pandoe) membentuk Pandoe Rakyat Indonesia (PRI) yang kemudian diketuai Dr Moewardi.

Dalam konteks pasca Nusantara Bersatu 30 Nopember 2016, bijak juga Bapak-bapak Pandu Indonesia yaitu Moewardi, Soenarjo, Kasman, Ramlan dikenang pula sebagai perintis aksi-aksi penegakan Persatuan Indonesia sekaligus perkuatan bagi amanat Pandu Ibuku [lagu kebangsaan Indonesia Raya, WR Soepratman 28 Oktober 1928] termasuk H Agoes Salim selaku penggagas istilah Pandu pengganti istilah Padvinder [1928] dan H Mutahar yang juga dikenal sebagai Pandu penyelamat Bendera Pusaka [1945]

Baca Juga:  Kemendagri Dukung Penuh Transformasi di Bidang Kesehatan

Intinya, Ke-7 nama-nama tokoh termaksud diatas yaitu 1) Moewardi, 2) Soenarjo‎, 3) Kasman, 4) Ramlan, 5) WR Soepratman, 6) H Agoes Salim, 7) H Mutahar direkomendasikan memperoleh pengakuan publik dan negara sebagai Bapak-bapak Pandu Indonesia.

Pembudayaan Keteladanan Bapak-bapak Pandu Indonesia termaksud diatas ditujukan kepada segenap Generasi Penerus Angkatan 45 (GPA45) agar senantiasa terbekali dengan karakter Persatuan Indonesia sebagai modal bermasyarakat, berbangsa dan bertanah-air Negara Kesatuan Republik Indonesia kini dan esok. (Pandji R Hadinoto)

*Penulis adalah Ketua, Majelis Pandu Indonesia dan Ketua, GPA45/DHD45 Jakarta

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 3