Connect with us

Hukum

Pembubaran Tidaklah Mencerdaskan, Hanya Alat Pembodohan Negara

Published

on

Cendekiawan muda NU Muhammad Al-Fayyadl. Ilustrasi NUSANTARAnews via Card image cap
Cendekiawan muda NU Muhammad Al-Fayyadl. Ilustrasi NUSANTARAnews via Card image cap

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Cendekiawan muda NU Muhammad Al-Fayyadl menilai rencana pembubaran ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh pemerintah dianggap sebagai suatu langkah yang tak mencerdaskan. Sebaliknya pembubaran hanya akan menjadi alat pembodohan negara.

“Ini hanya akan menyiram bensin pada sekam. Pembubaran tidak mencerdaskan siapapun, hanya alat pembodohan negara,” ungkap Fayyadl.

Alumnus program Filsafat dan Kritik Kebudayaan di Université de Paris VIII (Vincennes-Saint-Denis), Prancis itu berpandangan bahwa tidak ada satu pun ormas yang layak dibubarkan, sejauh itu “ormas”, organisasi yang lahir dan tumbuh dari masyarakat — dan membubarkannya dengan tangan Negara.

“Hati-hati, kaum moderat, kita yang NU, jangan mudah memakai tangan negara untuk memukul, karena tangan ini dapat juga dipakai untuk memukul kita di kemudian hari,” pesan Fayyadl melalui kanal media sosial baru-baru ini.

Lebih lanjut, tulis Fayyadl, negara dapat membubarkan atau menutup korporasi/perusahaan, karena korporasi/perusahaan adalah milik segelintir orang (pemodal), bukan masyarakat. Tetapi, negara, secara aksiomatik, tidak dapat membubarkan ormas, karena ormas milik masyarakat.

Loading...

“Sekarang, tinggal dilihat, sejauh mana HTI benar-benar ‘milik masyarakat’. Itu mungkin dapat diuji melalui peradilan, tapi yang terpenting, melalui proses sosial yang panjang,” sambung pria yang memperoleh gelar S1 dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Menurut dia, hanya masyarakat itu sendirilah yang dapat membubarkan organisasinya, bukan Negara. Dengan membuatnya tidak relevan/tidak efektif (mandul) karena ketidaksesuaian ormas itu dengan kemaslahatan yang ingin dicapai oleh masyarakat itu.

Pewarta/Editor: Romandhon

Loading...

Terpopuler