Asisten Operasi (Asops) Kapolri Irjen M Iriawan memberikan hormat dan berterima kasih kepada personil/prajurit TNI yang telah berhasil membebaskan warga yang disandera di Desa Kimbeley dan Bunti, Tembagapura, Papua. Foto: Dok. Istimewa
Asisten Operasi (Asops) Kapolri Irjen M Iriawan memberikan hormat dan berterima kasih kepada personil/prajurit TNI yang telah berhasil membebaskan warga yang disandera di Desa Kimbely dan Bunti, Tembagapura, Papua. Foto: Dok. Istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Selama tiga pekan, situasi keamanan di Distrik Tembagapura mencekam. Kehadiran kelompok yang menamakan diri Papua Barat Merdeka menjadi pemicunya. Kelompok ini diduga tak lain adalah Organisasi Papua Merdeka (OPM) itu sendiri. Papua Barat Merdeka merupakan strategi baru gerakan OPM untuk mengkampanyekan gerakan separatisnya.

Situasi di Distrik Tembagapura kian mencekam setelah dua anggota Brimob tersungkur merenggang nyawa akibat timah panas bersarang di tubuh mereka. Keduanya belakangan diketahui bernama Brigadir Satu Berry Permana Putra dan Brigadir Firman, keduanya sama-sama anggota Brimob Detasemen B Polda Papua.

Brigadir Satu Berry Permana Putra dan Brigadir Firman tewas di waktu berbeda. Nama pertama tewas usai kontak senjata dengan kelompok separatis pimpinan Sabinus Waker pada Minggu (22/10). Dalam kontak senjata waktu itu, beruntung empat anggota Brimob lainnya selamat kendati luka-luka terkena peluru yang dilepaskan anggota Sabinus.

Bulan berikutnya, tepat pada Rabu 14 November, Brimob Polda Papua kembali harus kehilangan satu personilnya, Brigadir Firman. Ia juga tewas karena ditembak kelompok Sabinus. Dalam insiden ini, Brigadir Kepala Rumente selamat, tetapi tidak bagi Brigadir Firman.

Sabinus dan kelompoknya semakin trengginas. Mereka menyandera 1.300 warga dari Desa Kimbely dan Desa Bunti, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua. Warga jelas ketakutan. Harta benda mereka juga dirampas, dan warga dilarang keluar meninggalkan desa.

Setelah tiga pekan penyanderaan, tak ada pilihan lain; warga harus diselamatkan. Tiga pekan adalah waktu yang sudah terlalu lama, polisi jelas tak kuasa meladeni keganasan Sabinus dan kelompoknya yang diperkriakan berjumlah 20-an orang serta bersenjata lengkap. Dari beberapa video yang beredar, Sabinus dkk memegang senapan serbu jenis Steyr AUG (Armee Universal Gewehr), produk Steyr Mannlicher, sebuah produsen senjata asal Austria. Di Indonesia, Steyr AUG digunakan oleh Satuan Polisi Khusus Indonesia yakni Gegana Brimob Polri.

Artinya, kelompok Sabinus sangat berbahaya. Mereka lebih menguasai medan, apalagi Desa Kimbely dan Bunti dikelilingi hutan lebat dan bukit-bukit. Bahkan, saat insiden kontak senjata pertama, anggota Brimob terjebak di lokasi yang dihimpit dua bukit. Celakanya, Sabinus dkk menyebar di dua bukit tersebut dan akibatnya Brigadir Berry tewas.

Tewasnya Brigadir Berry dan Brigadir Firman serta nasib warga yang disandera tak kunjung menemui kejelasan, membuat aparat keamanan tak punya pilihan lain selain mengerahkan TNI. Lagi pula, Sabinus dkk adalah kelompok separatis, bukan sekadar hanya kelompok kriminal bersenjata biasa. Butuh penanganan dan operasi khusus.

Karena Papua Barat Merdeka ini adalah kelompok separatis, sudah barang tentu itu menjadi tugas TNI. Lagi pula, Sabinus dkk ini diduga merupakan sempalan OPM.

TNI pun dikerahkan. Tantangannya cukup berat, karena TNI harus mendahulukan tindakan persuasif dan menghindari adanya korban, terutama warga yang disandera termasuk Sabinus dan anggotanya. Jika dipikir sekilas, bagaimana mungkin operasi pembebasan semacam ini tidak akan menimbulkan korban jiwa, sementara kelompok yang akan digrebek bersenjata lengkap dan pasti melakukan perlawanan. Minimal, terjadi kontak senjata.

Bukan TNI namanya kalau tak jago melakukan sebuah operasi pembebasan. Operasi kali ini pun akhirnya diberi judul Operasi Raid dan Perebutan Cepat Area Kimberley Papua. Pertama-tama, Peleton Intai Tempur (Tontaipur) Kostrad melakukan pengintaian lokasi target operasi. Dengan penuh sabar dan perhitungan matang, Tontaipur mengintai setiap titik dan sudut lokasi target. Semua benda yang bergerak dicermati, bahkan mungkin daun yang jatuh dari pohon sekalipun. Sebab, dalam sebuah operasi pembebasan, instrumen apapun menjadi sangat penting dan berharga.

Setelah pengintaian dan data terkumpul dirasa cukup, Pasukan Parako Batalyon-13 Grup-1 Kopassus yang berjumlah kurang dari 15 personil serentak melakukan Operasi Raid dan Perebutan Cepat Area. Suara tembakan ke langit dan derap langkah kaki Parako Kopassus membuat Sabinus dkk terkejut. Saat itu, mereka sedang berkumpul di kandang babi. Karena terkejut dan tak menduga-duga, Sarbinus dkk lari tunggang-langgang ke dalam hutan meninggalkan lokasi penyanderaan. Mereka lari berhamburan dan terbirit-birit tanpa sempat melakukan perlawanan, serta melupakan warga yang sudah mereka sandera selama tiga pekan itu.

Sementara itu, Yonif-715/Raider dan Tontaipur, serentak dengan 2 Tim dari Taipur Kostrad lainnya bertugas menguasai Bunti. Jam 08.18 seluruh area jatuh ke tangan TNI. Dan Pangdam Cenderawasih, Mayjen TNI George Elnadus Supit memerintahkan untuk bergerak menguasai pos-pos pengamanan separatis tersebut.

Dan tak kurang dari 78 menit, seluruh area berhasil dikuasai dan Sarbinus dkk sudah lari jauh. Hanya sayup-sayup suara tembakan ke langit terdengar dalam pelarian mereka. Suasana kabut tebal waktu itu membuat proses evakuasi warga yang disandera menjadi prioritas utama. Dan setelah situasi dinyatakan aman terkendali, Pangdam berkoordinasi dengan Kapolda agar segera mengirimkan tim evakuasi kepolisian ke lokasi. Tidak lama kemudian Tim Satgas Terpadu TNI/Polri tiba di lokasi melaksanakan evakuasi. Sebanyak 347 orang terdiri dari warga Papua dan Luar Papua dievakuasi secara beregu. Setiap regu dikawal satu anggota TNI. Sementara warga penduduk asli setempat memilih tetap tinggal dengan jaminan keamanan dan dukungan logistik.

Rasa dan ucapan terima kasih patut disematkan kepada TNI. Bagaimana tidak, misi cukup berat ini nyatanya dijalankan dengan sempurna, tanpa menimbulkan korban jiwa. Pendekatan persuasif lebih dikedepankan sesuai rencana awal. Artinya, ini merupakan salah satu contoh besarnya rasa kemanusiaan di dalam diri TNI, bahkan terhadap musuh sekalipun ketika tidak melakukan perlawanan, apalagi jika memilih untuk menyerahkan diri.

Keberhasilan gemilang TNI ini merupakan yang kedua kalinya sepanjang satu tahun terakhir. Kita tentu masih ingat, pada Juli 2016 lalu Tim Bravo Batalyon 515 Raider Kostrad berhasil membekuk kelompok kriminal bersenjata Santoso alias Abu Wardah dkk di pegunungan Desa Tambrana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Kelompok sipil bersenjata yang mengaku kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) ini sejatinya sudah diburu polisi selama 8 bulan. Namun, perburuan tersebut tak kunjung berhasil, malah Santoso dkk semakin ganas.

Alhasil, TNI ditugaskan. Dalam operasi bertajuk Operasi Tinombala, Tim Bravo Batalyon 515 Raider Kostrad berhasil membekuk Santoso dan lima anggotanya. Santoso sendiri yang menyebut dirinya pimpinan MIT tewas tertembus timah panas dalam kontak senjata di titik koordinat 2027-6511. Selang tiga hari kemudian, Tim Alfa 17 Yonif 303 Kostrad menangkap Umi Delima, istri Santoso, satu dari tiga kawanan Santoso yang melarikan diri. Umi Delima disergap di sebuah gubuk tanpa perlawanan.

Keberhasilan TNI ini tentu saja tak mungkin terlupakan bagi Kapolri Jenderal (Pol) Prof. Tito Karnavian. Pasalnya, Tito Karnavian dilantik menjadi Kapolri pada Rabu (13/7/2016) lalu. Sementara lima hari kemudian TNI membekuk Santoso dkk. Artinya, itu boleh dibilang menjadi hadiah dari TNI untuk Tito Karnavian yang baru dilantik menjadi Kapolri menggantikan Jenderal (Pol) Badrodin Haiti.

Kapolri Tito patut mengakui bahwa TNI telah sukses tanpa cela membantu polisi, bahkan tanpa pamrih. Dan operasi pembebasan sandera di Papua ini adalah hadiah kedua kalinya dari TNI untuk Kapolri Tito Karnavian. Sayang, Kapolri Tito Karnavian dalam beberapa media nasional justru menyebut TNI hanya membantu, padahal faktanya tidak demikian. Apakah Kapolri sedang berusaha membohongi publik? Wallahu a’lam. (red)

Editor: Eriec Dieda

Komentar