Connect with us

Cerpen

Pelacur Negeri (Bagian 3: II) – Novelet Yan Zavin Aundjand

Published

on

Lukisan Pablo Picasso "Les Femmes D'Alger" atau "Women of Algiers"/Foto: waow-nesia.blogspot.co.id
Lukisan Pablo Picasso "Les Femmes D'Alger" atau "Women of Algiers"/Foto: waow-nesia.blogspot.co.id

NUSANTARANEWS.CO – Orang tua itu kemudian mengajak aku meninggalkan tempat itu sebelum mereka menemukan aku, perasaanku. Kami terus berjalan menelusuri lembah-lembah berbatu. Gemericik air sungai masih terdengar syahdu. Di salah satu tempat yang mungkin sama seperti dunia yang belum ada penduduknya, aku mencari-cari sanguku di dalam tas yang aku gendong itu, namun tidak ada. Aku merasakan lapar sekali. Semua yang kudapati di jalan-jalan itu tak mampu aku sentuh, apalagi memakannya, padahal buah-buahan di tempat itu sungguh segar-segar seolah menawarkan diri untuk dimakan. Tapi, aku sendiri seperti tidak mampu untuk memetiknya.

Entah, aku mau dibawa ke mana oleh orang tua itu. Dia sama sekali tidak berbicara apa-apa ketika sama-sama menelusuri jalan yang mau kami tempuh. Sementara aku sangat lapar sekali, dia seperti tidak tahu bahwa aku sangat lapar. Kami terus berjalan, jalan melikung, jalan menaiki gunung, namun orang tua itu seperti tak mengenal lelah. Aku sudah jatuh berkali-kali. Aku ikuti saja, karena aku merasa tidak punya siapa-siapa, tempat itu seakan-akan hanya milik kami berdua.

Di salah satu tempat, kami berhenti sejenak, menenangkan diri. Tempat itu banyak buah-buahan, sungai mengalir dengan jernihnya, ada madu menetes di mana-mana, ada banyak kolam berisi air, kolam madu, dan kolam susu. Indah sekali tampat itu, aku merasa bahwa aku tak sedang hidup di dunia. Aku bertanya-tanya dalam diriku, tempat apakah ini? Tempat itu tak pernah aku jumpai sebelumnya, seperti dunia yang baru saja diciptakan oleh Tuhan. Hewan-hewannya ramah-tamah menyapa kami yang duduk di pinggir salah satu kolam itu. Aku tidak menyangka bahwa ada hewan yang bisa menyapa dan bertutur sapa dengan manusia. Sungguh ini terlihat aneh.

“Ini tempat apa?”

“Tempat dulu nenek moyang kita dilahirkan.”

Loading...
Baca Juga:  Pelacur Negeri (Bagian 10: II) – Novelet Yan Zavin Aundjand

“Oh, iya?”

“Ini yang disebut surga.”

“Surga?”

“Iya, dulu Adam diciptakan di tempat ini. Di sini sudah tidak ada kehidupan, yang ada hanya kenangan. Ini tempat yang dirindukan oleh jiwa-jiwa keturunan Adam, atau pun yang lainnya. Inilah asal muasal kita dulu diciptakan oleh Tuhan.”

“Katanya di surga itu banyak Bidadari. Di mana Bidadari-bidadari itu berada?”

“Mereka belum diletakkan di Surga. Mereka masih di alam sana. Ketika nanti sudah sampai saatnya manusia itu memasuki tempat ini, bidadari itu sudah ada. Manusia belum waktunya kembali ke tempat ini.”

“Kapan manusia itu kembali ke surga?”

“Tidak tahu. Ini sudah menjadi rahasia Tuhan. Atau mungkin ketika manusia sudah tidak lagi menjiwai dan merindukan kehidupan di muka bumi. Bumi itu sebagai jembatan bagi mereka setelah mereka terlempar jauh dari tempatnya semula, yaitu surga yang kita lihat sekarang ini. Sebuah pelanggaran besar bagi nenek moyang kita dulu terhadap Tuhan, sehingga dia terlempar dari tempat yang sangat indah ini. Manusia membawa kebencian itu dari surga, lalu mereka tumpahkan darah kebencian di muka bumi tiada henti, sampai semuanya menyadari jalan hidupnya masing-masing untuk menuju surga yang Tuhan janjikan kepada mereka kembali. Kita sendiri tidak menyadari bahwa apakah kita bisa melewati jembatan dunia itu menuju tempat ini.”

“Kita sudah sampai di surga.”

“Tidak. Jiwa kita belum sampai ke tempat ini. Kita tidak sadar akan diri kita. Jiwa kita masih di alam sana menunggu kedatangan kita kembali. Yang ada di sekitar kita ini hanya sebatas bayang-bayang. Kita dalam keadaan tersesat dari alam manusia, karena kebisingan yang kita dengar.”

“Aku tidak mengerti apa maksudmu, Kakek Tua.”

“Iya, aku tahu. Sebaiknya kamu kembali sebelum semuanya menghancurkanmu. Cepatlah kembali. Kau belum siap tinggal di tempat ini.”

Baca Juga:  Konon, Namanya adalah Celurit: Bayu (10 Tahun) – Hadiah untuk Aku?(5)

“Kamu sendiri bagaimana, Kakek Tua?”

“Aku manusia yang sudah tidak punya ikatan dengan alam manusia. Jiwaku bebas bertebangan di mana-mana, tak satu pun orang yang mampu mengikat jiwaku ini, sampai semuanya berakhir dengan kehendak-Nya. Cepatlah kau kembali, dan ingatlah masa lalu kamu sebelum kau terlanjur hilang dari jiwamu.”

Kepalaku menunduk mengingat masa lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku, sehingga aku lupa akan diriku sendiri. Jiwaku ke mana dan di mana. Jalan ini cukup menghilangkan kesadaran murni ditelan sampah-sampah kerakusan manusia di alam sana. Aku tidak ingat apa-apa. Masa laluku gelap. Masa laluku hilang entah ke mana. Kucoba sekali lagi untuk mengingat-ngingatnya kembali walau itu dalam mimpi, tapi juga tidak ada, kosong. Hilang makna untuk kukembali ke masa lalu. Mungkinkah alam manusia masih mau menerimaku? Alam manusia terlalu bising, mereka tidak mungkin akan menghiraukan aku. Mereka akan sibuk dengan kemauannya sendiri bahkan menjajah kaum bangsanya sendiri sama seperti kelakuan makhluk-makhluk itu.

Aku lebih asyik hidup sendiri di sini, meski di sini tidak ada kehidupan, tapi cukup untuk aku bertahan sampai semuanya kembali ke tempat ini. Aku berharap, Tuhan tidak mengembalikan aku ke alam manusia yang bobrok tak tahu diri, aku terlalu takut mengenangnya. Iya, mungkin aku harus punya kemampuan bernegosiasi dengan-Nya, dan Tuhan tetap mengembalikan aku ke alam manusia, alam yang aku sendiri tidak tahu di mana tempat kehidupanku di sana. Aku ingin surga sebagai tempatku.

Kuangkat kepala, kutebarkan pandanganku ke seluruh pemandangan surga, indah sekali. Tak ada jalan menuju keluar dari sana, semua pintu di tiap-tiap pojok tertutup rapat, entah aku mau keluar dari arah mana kurasakan dalam mimpi. Kulihat Kakek Tua yang ada di sampingku itu sudah tidak ada, entah pergi ke mana. Tiba-tiba dia menghilang begitu saja tanpa berpamitan pulang kepadaku. Sekarang aku sendiri lagi. Semua hewan yang tadinya bermain-main di pinggir-pinggir kolam itu juga menghilang begitu saja. Keadaan jadi sunyi. Pohon-pohon tak bergerak. Gemericik air mulai tenang. Semuanya tak ada yang bergerak. Semua yang ada di surga itu seperti punya mata, matanya tertuju melihat ke arahku, aku jadi seperti terkalahkan bersimpuh malu. Namun, lama kelamaan aku merasakan takut sekali, seketika itu aku terbangun dari tidurku dalam taksi yang melaju pelan, pelan sekali, sebab jalan begitu ramai dengan kendaran bermotor manusia-manusia Ibu Kota.

Baca Juga:  Bakul Tape Ketela

Saat turun dari taksi di sebuah apartemen, aku merasa ada yang mengangkat aku ke dalam sebuah ruangan yang terang dengan lampu. Mata terus mengikuti Jumailah memasuki apartemennya, tas kugendong di punggung. Sukmaku setelah bangun dari tidur itu belum juga normal, pikiranku ke mana-mana.

Ada wewangian kucium di ruangan apartementnya Jumailah, kurebahkan tubuhku di ranjang seperti menikmati harum ruangan yang wanginya sempat aku jumpai di surga dalam mimpiku. Ada jari-jari tangan menelusuri rambutku dengan lembut. Mataku masih merasakan ngantuk, lelah, dan aku tertidur lagi.

(Bersambung…. Baca cerita sebelumnya: Pelacur Negeri (Bagian 3: I) – Novelet Yan Zavin Aundjand)

Yan Zavin Aundjand

Yan Zavin Aundjand

*Yan Zavin Aundjand, Sastrawan asal Madura. Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain Labuk Dhellika (Antologi Puisi), Jejak Tuhan (Novel), Tarian di Ranjang Kyai (Novel), Sejarah Agama-agama Besar Dunia (Sejarah), Pinangan Buat Najwa (Antologi Puisi), Kupu-kupu di Jalan Simpang (Antologi Puisi), Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan (Kumpulan Cerpen), Garuda Matahari (Buku), dll. Mukim di Jakarta.

_____________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Loading...

Terpopuler