PolitikTerbaru

PDIP Sesumbar Cetak Sejarah Menang Pemilu Dua Kali Beturut-turut

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Politisi PDI Perjuangan, Maruarar Sirait mengatakan tentang kontestasi politik yang ada di Indonesia. Menurutnya, tidak ada partai politik yang menang secara berturut-turut saat Pemilu pasca reformasi 1998 silam.

“Ada data yang menarik pasca reformasi 98 berarti pemilu pertama yang adalah PDI Perjuangan. Tahun 2004 yang menang adalah partai Golkar, 2009 yang menang Demokrat, 2014 yang menang PDIP,” kata politisi yang akrab dipanggil Ara, Jakarta, Minggu (3/12).

Ara mengatakan, fenomena tersebut memberikan gambaran merebut kekuasaan lebih mudah dibandingkan dengan mempertahankan kekuasaan. “Artinya memelihara kepercayaan itu jauh lebih sulit dari pada merebut kemenangan,” terangnya.

Melihat elektabilitas dan popularitas PDIP yang semakain meningkat dirinya menyatakan saatnya PDI Perjuangan membuat sejarah baru dalam kontestasi politik pasca reformasi.

“Ini waktunya PDI Perjuangan membuat sejarah. Dalam pemilu yang kurang lebih 2 tahun lagi sekarang PDI Perjuangan 30 persen jauh di atas partai lain dan jauh diatas perolehan tahun 2014,” paparnya.

Baca Juga:  Rusuh di Kanjuruhan Tewaskan Ratusan Aremania, PKS Buka Posko Pengaduan

Menurutnya, hal yang saat ini akan dilakukan oleh PDI Perjuangan adalah konsisten dengan mendukung Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang. “Nah, posisi ini yang harus dijaga oleh PDI Perjuangan konsisten memdukung Jokowi mendukung Pancasila mendukung kemudian jauh dari korupsi kader-kadernya. Saya kira kita akan membuat sejarah 2 kali menang secara berturut-turut,” pungkasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan hasil survei yang telah dirilis Indo Barometer tentang elektabiltas partai, PDIP menempati urutan pertama partai yang disukai oleh masyarakat.

Hasil suvey tersebut sebagai berikut: Partai yang paling banyak dipilih adalah PDI-P 30,2 persen, Golkar 12,5 persen, Gerindra 10,8 persen, Demokrat 7,7 persen dan PKB 6 persen, PKS 5,0 persen, Nasdem 3,8 persen, PPP 3,3 persen, PAN 2,0 persen, Hanura 2,0 persen, Perindo 1,5 persen, PSI 0,2 persen.

Reporter: Syaefuddin Al Ayubbi
Editor: Eriec Dieda

Related Posts

1 of 6