Peristiwa

PBNU Tak Takut Dengan Pelaku Teror Bom yang Berjiwa Hipokrit

H Robikhin Emhas saat acara Focus Discussing Group di Gedung PBNU, Kramat Raya selasa (24/10/2017). Foto Panitia FGD/ NusantaraNews
H Robikin Emhas saat acara Focus Discussing Group di Gedung PBNU, Kramat Raya selasa (24/10/2017). (Foto Dok. Nusantaranews)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ledakan bom di Surabaya, Minggu, 13 Mei 2018, membuat Ketua PBNU, Robikin Emhas turut angkat bicara. Dikutip dari keterangan persnya, Robikin mengaku bahwa NU tidak takut dengan aksi teror yang dilakukan oleh para orang yang disebutnya berjiwa hipokrit.

“Saya percaya jiwa patriotik bangsa Indonesia tidak permah padam. Perlawanan terhadap kolonialisme dengan bambu runcing di era prakemerdekaan adalah bukti tak terbantahkan. Apalagi sekedar teror bom oleh mereka yang berjiwa hipokrit,” ungkapnya, Minggu (13/5/2018).

Untuk itu lanjut dia, NU mengutuk keras tindakan ledakan bom tersebut. Penggunaan kekerasaan dalam kawasan damai (bukan perang) adalah kejahatan. Dan apapun alasannya, tidak dapat dibenarkan.

“Mari beri dukungan kepada Polri untuk secara profesioanal dan berintegritas mengungkap tuntas apa motiv dan siapa pelakunya,” ujar dia.

Baca Juga:
Ansor Jateng Tuding Bom Surabaya Ada Kaitannya dengan Mako Brimob
ISIS Klaim Serang Mako Brimob, Segera Pindahkan Ahok ke Lapas Lain

Baca Juga:  Mengganggu Pembelajaran, Bangunan Sekolah di Kabupaten Malang Rusak Parah

Sementara itu menanggapi kasus serupa, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siroj menyampaikan beberapa hal; pertama, mengecam dan mengutuk keras segala tindakan terorisme, apapun motif dan latar belakangnya. Segala macan tindakan menggunakan kekerasan, apalagi yang mengatasnamakan agama dengan cara menebarkan teror, kebencian, dan kekerasan bukanlah ciri ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Islam mengutuk segala bentuk kekerasan. Bahkan tidak ada satu pun agama di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan.

Kedua, menyampaikam rasa bela sungkawa yang sangat mendalam kepada keluarga korban atas musibah yang sedang dialami. Segala yang terjadi merupakan suratan takdir dan kita harus menerimanya dengan penuh sikap kedewasaan, lapang dada, ketabahan dan kesabaran.

Ketiga, mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut secara cepat dan tuntas motif, pola, serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut. Gerakan terorisme sudah semakin sedemikian merajalela, maka diperlukan penanganan khusus yang lebih intensif dari pelbagai pihak, utamanya negara melalui keamanan.

Baca Juga:  Seorang Warga Blang Mee Hilang

Keempat, mengajak seluruh warga Indonesia untuk bersatu padu menahan diri, tidak terprovokasi serta terus menggalang solidaritas kemanusiaan sekaligus menolak segala bentuk kekerasan. Jika mendapati peristiwa sekecil apapun yang menjurus pada radikalisme dan terorisme segera laporkan ke aparat keamanan. Segala hal yang mengandung kekerasan sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama apapun.

Kelima, mengimbau warga NU untuk senantiasa meningkatkan dzikrullah dan berdoa kepada Allah Swt. untuk keselamatan, keamanan, kemaslahatan, dan ketenteraman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Nahdlatul Ulama (NU) juga meminta kepada semua pihak untuk menghentikan segala spekulasi yang bisa memperkeruh peristiwa ini. Kita percayakan penanganan sepenuhnya di tangan aparat keamanan. Kita mendukung aparat keamanan, salah satunya dengan cara tidak ikut-ikutan menyebarkan isu, gambar korban, dan juga berita yang belum terverifikasi kebenarannya terkait peristiwa ini.

Keenam, Nahdlatul Ulama (NU) mendesak pemerintah untuk mengambil langkah tegas serta cepat terkait penanganan dan isu terorisme dan radikalisme. Langkah ini harus ditempuh sebagai bagian penting dari upaya implementasi dan kewajiban Negara untuk menjamin keamanan hidup warganya. Dan apapun motifnya, kekerasan, radikalisme, dan terorisme tidak bisa ditolerir apalagi dibenarkan, sebab ia mencederai kemanusiaan.

Baca Juga:  Seorang Warga Blang Mee Hilang

Pewarta: Alya Karen
Editor: Romandhon

Related Posts

1 of 643