Connect with us

Rubrika

PBNU: Jika Tidak Mengerti Agama Jangan Jadi Khatib Jumat

Published

on

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siroj (tengah) didampingi Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faishal Zaini (Kanan). (FOTO: Istimewa)

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siroj (tengah) didampingi Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faishal Zaini (Kanan). (FOTO: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Khatib atau penceramah yang tidak mengerti agama Islam disarankan keras alias untuk tidak memberikan khotbah Jumat.

“Sebaiknya khatib itu harus mengerti agama, tidak, jangan sembarang. Kalau yang tidak [mengerti agama], jangan coba-coba jadi khatib Jumat,” ujar Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj usai Acara Pengukuhan Pimpinan Ikatan Sarjana NU (ISNU), di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Minggu (25/11/2018).

Baca Juga:

Menurut Kiai Said, khatib dengan ilmu agama yang ‘cetek’ atau pas-pasan sering kali kekurangan bahan untuk khotbah. Khotbahnya pun, lanjutnya, hanya tentang radikalisme.

“Karena mereka khotbah, khotib-khotibnya tidak berilmu. Tidak mumpuni, jadi apa yang akan disampaikan adalah yang paling gampang, radikalisme,” kata kiai Said.

Sementara itu, Ketua Umum PP ISNU Ali Masykur Musa mengatakan terdapat dua solusi untuk mencegah peredaran radikalisme di masjid. Pertama, ia mengatakan Kementerian Agama (Kemenag) bisa melakukan dialog dengan para dai dam khatib terkait konten khotbah yang akan dibawakan di masjid.

“Pembicaraan antara dai-dai yang cukup punya nama tapi pengetahuan nya belum mendalam, maka konteks itu Kemenag bisa ajak dialog sehingga ketika dakwah itu kontennya bisa sangat dalam,” ujar Ali dalam kesempatan yang sama.

Kedua, lanjut Ali, masyarakat juga harus aktif dalam penangkalan konten radikalisme di masjid ini. Ia mengatakan masyarakat bisa menyaring konten-konten atau ajakan apa yang bisa berdampak positif bagi kehidupannya.

“Yang kedua masyrakat sendiri menginginkan ada siraman rohani, dengan demikian kami berharap masyraakat luas juga bisa memilah-memilah mana ajaraan ajakan dari dai yang betul-betul bisa menenangkan jiwa,” kata Ali.

Sekadar diketahui, Juru Bicara Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto sebelumnya mengatakan pihaknya mendapat laporan dari Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) NU bahwa ada 50 penceramah di 41 masjid lingkungan pemerintah terpapar radikal. Dari 41 masjid tersebut, 17 di antaranya masuk dalam kategori radikal tinggi, 17 lainnya radikal sedang dan tujuh masjid berkategori radikal rendah.

Pewarta: Robi Nirarta
Editor: M. Yahya Suprabana

Advertisement
Advertisement

Terpopuler