Connect with us

Mancanegara

PBB: Lebih dari 20 Juta Orang Hadapi Risiko Kelaparan di Yaman, Somalia, Sudan dan Nigeria

Published

on

Pengungsi Sudan Selatan di sebuah kamp PBB di Sudan. (AFP Photo/ASHRAF SHAZLY)

Pengungsi Sudan Selatan di sebuah kamp PBB di Sudan. (AFP Photo/ASHRAF SHAZLY)

NUSANTARENEWS.CO – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan lebih dari 20 juta orang menghadapi risiko kelaparan di Yaman, Somalia, Sudan Selatan dan timur laut Nigeria.

Dewan Keamanan secara resmi mengumumkan untuk pertama kalinya bahwa ancaman tersebut terkait langsung dengan konflik bersenjata yang berkecamuk di daerah-daerah yang menderita.

“Dewan Keamanan mencatat dampak yang menghancurkan pada warga sipil atas konflik bersenjata dan kekerasan yang sedang berlangsung,” kata DK PBB seperti dikutip AFP.

PBB juga menekankan dengan keprihatinan mendalam bahwa konflik dan kekerasan yang terus berlanjut telah menghancurkan kemanusiaan dan menghambat respons kemanusiaan yang efekti dalam jangka pednek, menengah dan panjang. Itulah penyebab utamanya yang berimbas pada kehidupan warga di beberapa daerah tersebut.

Badan yang berjumlah 15 anggota itu menyerukan semua pihak yang terlibat dalam berbagai konflik untuk menghormati dan melindungi fasilitas medis dan personil serta sarana transportasi dan peralatan yang telah disediakan.

“Dewan Keamanan menggarisbawahi kewajiban semua pihak dalam konflik bersenjata untuk menghormati dan melindungi warga sipil,” katanya.

DK PBB kemudian mengeluarkan seruan untuk semua pihak di Yaman, Sudan Selatan, Somalia dan Nigeria Timur Laut untuk segera mengambil langkah-langkah yang memungkinkan respons kemanusiaan lebih efektif.

Dewan tersebut juga meminta anggota PBB untuk memberikan bantuan ikrar mereka untuk membantu mengatasi ancaman kelaparan yang sedang berkembang.

Menurut koordinator bantuan kemanusiaan dan koordinator darurat PBB, hanya $ 2,5 miliar yang sejauh ini telah dibayar oleh donor untuk mengatasi krisis tersebut, dari total $ 4,9 miliar yang sangat dibutuhkan. (ed)

Editor: Eriec Dieda

Terpopuler