Connect with us

Mancanegara

PBB Kembali Desak Aung San Suu Kyi Hentikan Kekerasan Terhadap Muslim Rohingya

Published

on

Foto tentara Myanmar ini diambil pada 10 Oktober 2017 di sebuah perbatasan Myanmar-Bangladesh dekat An Nout Pyin Village yang juga di sekitar Rathedaung, Northern Rakhine State. (Foto: AFP)

NUSANTARANEWS.CO – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali mendesak pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi untuk segera menghentikan kekerasan dan diskriminasi yang terus berlanjut terhadap minoritas Muslim Rohingya di negara tersebut.

“Permintaan kami terhadap Aung San Suu Kyi segera menghentikan kekerasan,” kata Direktur HAM Asia Pasifik PBB, Jyoti Sanghera seperti dikutip PressTV.

Sanghera berbicara dalam sebuah briefing di Jenewa untuk mempresentasikan sebuah laporan tentang kampanye militer Myanmar melawan populasi minoritas yang diperangi di negara bagian Rakhine.

Sanghera menyatakan keprihatinannya bahwa pengungsi Rohingya telah melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh mungkin akan ditahan dan dipenjara ketika mereka kembali ke Myanmar. Di satu sisi, kata dia, Rohingya juga tidak diberikan status kewarganegaraan atau hak sipil dan politik oleh pemerintahan Myanmar.

Perkembangan tersebut terjadi sehari setelah badan dunia tersebut menyatakan bahwa mereka tetap “siaga penuh” untuk eksodus massal Muslim Rohingya karena laporan mengindikasikan kenaikan tajam akibat pengusiran yang dilakukan Myanmar yang notabene mayoritas beragama Buddha.

Loading...

Tentara Myanmar mengintensifkan tindakan brutal terhadap populasi etnis minoritas pada bulan Agustus, dengan sejumlah laporan tentang pembantaian dan pemerkosaan oleh tentara Myanmar dan gerombolan Budha melawan Rohingya. Militer telah mengepung kaum Muslim di Rakhine akhir tahun lalu.

Pihak berwenang di Myanmar, yang dipimpin oleh Suu Kyi, telah mengendalikan akses ke Rakhine sejak Agustus, ketika serangan militer oleh Rohingya memicu sebuah respon militer yang brutal yang telah memaksa lebih dari 520.000 orang Rohingya untuk melarikan diri ke Bangladesh.

Tindakan keras tersebut telah membuat sejumlah desa Rohingya terbakar dan hancur total. Perkiraan berapa jumlah Muslim yang terbunuh bervariasi dari 1.000 sampai 3.000 orang.

Baca Juga:  Sudah Sekitar 100.000 Pengungsi Muslim Rohingya Melarikan Diri

Suu Kyi, yang telah memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian, menolak melakukan tindakan apapun untuk mengakhiri kekerasan tersebut.

Sementara itu, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebuah kampanye imunisasi kolera skala besar telah dimulai di dekat Cox’s Bazar, di Bangladesh, dengan tujuan untuk melindungi Rohingya yang baru tiba dan komunitas tuan rumah dari penyakit mematikan tersebut.

WHO selanjutnya mengatakan bahwa 900.000 dosis vaksin oral disediakan untuk didistribusikan pada anak-anak di bawah lima tahun.

(Editor: Redaksi/NusantaraNews/PressTV)

Loading...

Terpopuler