Connect with us

Global

Pasukan Koalisi Pimpinan Saudi Kalah Perang di Hodeidah

Published

on

Pasukan Koalisi Pimpinan Saudi Kalah Perang di Hodeidah

NUSANTARANEWS.CO – Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi kalah perang di Hodeidah. Bandara Hodeideh yang menjadi salah satu target utama dari operasi besar-besara pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman – saat ini kembali dikuasai oleh pasukan Yaman pro Sanaa.

Pasukan paramiliter koalisi yang dikerahkan untuk merebut bandara dan pelabuhan Hodeidah kini terhenti dan tidak bisa bergerak di sekitar area bandara dikepung oleh pasukan Yaman pro Sanaa dan kelompok Ansharullah Houthi. Mereka terdiri Brigade Amalika yang dipimpin keponakan mantan Presiden Saleh Abdullah, yaitu Tariq Afash dan tentara bayaran.

Pasukan Bersenjata Yaman mengklaim telah memenangkan pertempuran memperebutkan kota pelabuhan dan bandara Hodeideh. Klaim ini disampaikan juru bicara militer Kolonel Sharaf Luqman, Minggu (24/6/2018) dalam wawancara dengan media Al-Mayadeen.

Dalam kesempatan itu, Luqman mengibaratkan serangan pasukan koalisi pimpinan Saudi ke Hodeideh sama halnya dengan serangan bunuh diri, menghancurkan sasaran sekaligus pelaku serangannya.

Seperti diketahui, pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan serangan besar-besaran ke Yaman menggempur kota pelabuhan Hudeidah – setelah kubu Houthi menolak ancaman pasukan koalisi. Akibatnya, pasukan koalisi membombardir kelompok Houthi dari laut dan udara.

Serangan besar-besaran pasukan koalisi ini pada hari Rabu, merupakan gempuran terbesar dalam tiga tahun terakhir terhadap kelompok Houthi yang didukung Iran.

Setelah membombardir, Al-Arabiya melaporkan pasukan darat koalisi mulai bergerak memasuki Kota Pelabuhan Hudeidah dan berhasil memasuki area bandara. Namun, serangan gencar balasan pasukan Houthi dan pasukan bersenjata Yaman berhasil memukul mundur pasukan koalisi.

Sampai saat ini, belum ada pernyatan resmi dari pihak koalisi yang mendukung pemerintahan Presiden Abdul Rabho Mansour Hadi yang berkuasa di Aden. Sejak pecah perang sipil tiga tahun terakhir, Yaman terpecah menjadi dua kekuatan politik: Sanaa dan Aden. Kubu Sanaa berkekuatan pasukan Yaman dan kelompok Houthi yang memiliki hubungan kuat dengan Iran. Sedangkan pemerintahan Aden didukung koalisi Arab dan negara-negara barat.

Sebelum pecah pertempuran di Hodeidah, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah berusaha mencegah pihak-pihak yang berperang untuk mencapai kesepakatan. PBB khawatir dengan pecah pertempuran di Hodeidah akan menghambat akses rakyat Yaman untuk memperoleh makanan, bahan bakar dan obat-obatan, sehingga memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman yang memang sudah buruk. (Banyu)

Komentar

Advertisement

Terpopuler