Connect with us

Mancanegara

Pasukan AS Siap Maladeni Ancaman Konfrontasi Turki di Manbij

Published

on

Tanggal 28 Januari 2018, pasukan Turki berhasil menguasai Gunung Bursaya di Afrin setelah mendapat perlawanan sengit dari YPG Kurdi. (Foto: Anadolu Agency)

NUSANTARANEWS.CO – Kepala Komando Pusat AS Joseph Votel menegaskan dirinya tidak akan menarik pasukan Amerika di Manbij di tengah peringatan keras militer Turki. Votel mengatakan, kalau pun terpaksa harus berkonfrontasi dengan pasukan Turki, AS siap meladeninya.

Dengan kata lain, pasukan Turki akan menghadapi kendala besar dalam operasi memburu militan YPG Kurdi di Afrin. Kendalanya tak lain ialah keberadaan pasukan AS di Manbij, sebuah wilayah yang menjadi target serangan tentara Turki di perbatasan.

AS sendiri diketahui sudah hampir setahun terakhir menempatkan pasukannya di Manbij. Selain membawa misi bantuan persenjataan kepada YPG Kurdi melawan ISIS di Suriah, pasukan AS juga memikul tanggung jawab untuk meredakan eskalasi antara Kurdi dan Turki di perbatasan.

Votel menegaskan sikapnya ini sekaligus menjawab ancaman Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mendesak AS menarik mundur pasukannya di Manbij demi menghindari terjadinya pertempuran langsung di tengah operasi Olive Branch militer Turki memburu milisi YPG Kurdi. Cavusoglu juga memperingatkan AS untuk berhenti mempersenjatai Kurdi.

Tampaknya Turki harus mengambil sikap lain untuk meladeni keengganan AS menarik pasukannya dari Manbij. Bagaimana pun, misi lain militer Turki memburu YPG Kurdi adalah menghentikan rencana AS menciptakan pasukan baru di perbatasan setelah ISIS terpukul mundur di Suriah.

Ankara mulai mencium aroma tak sedap rencana AS tersebut yang tak lain disebutnya sebuah upaya menciptakan kelompok teroris baru pasca ISIS kalah.

Apalagi selama perang Suriah, militan Kurdi dipersenjatai lengkap oleh AS meskipun gagal menumbangkan kekuasaan Bashar Al-Assad. AS terus berupaya mencari celah dan cara untuk merongrong pemerintahan Assad yang mendapat dukungan penuh dari Rusia. Sebab, kepentingan AS dan Uni Eropa sangat besar di negara beribukota Damaskus, terutama soal perebutan jalur pipa gas yang selama ini lebih banyak dikuasai Rusia dan Iran.

Dengan keterlibatan Turki baru-baru ini di perbatasan Suriah, perburuan terhadap militan YGP Kurdi sebetulnya tersimpan misi lain yang lebih besar. Konflik di Suriah memang tak bisa dipandang sebagai konflik domestik melainkan perang negara-negara besar di dunia.

Suriah telah menjadi teater perang terselubung (proxy war) negara-negara berkepentingan seperti Amerika Serikat, Rusia, Iran, Arab Saudi, Qatar, Turki, Uni Eropa, dan bahkan Hizbullah di Lebanon.

“Pasukan AS terus mendukung sekutu Kurdi kami, terlepas adanya ancaman Erdogan,” ujar juru bicara koalisi pimpinan AS, Kolonel Ryan Dillon dikutip The World News Daily, Selasa (30/1/2018).

“Turki tahu di mana pasukan kami bermarkas di Manbij, mereka akan tahu apa yang harus mereka lakukan di sana dan mengapa mereka ada di sana. Ya, untuk mencegah terjadinya eskalasi antara kelompok yang ada di daerah itu,” kata Dillon.

AS berkilah, keberadaan pasukannya di Manbij yang bekerja sama dengan YPG Kurdi dan Pasukan Demokratis Suriah (SDF) adalah semata untuk memerangi ISIS yang masih tersisa di Suriah. (red)

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler