Paradoks Utang Indonesia

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Menanggapi utang Indonesia yang terus meroket hingga tembus Rp 4.034,8 triliun, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan aman. Pasalnya kata dia, utang tersebut bukan hal konsumtif melainkan untuk membangun infrastruktur. Dirinya berkesimpulan, dari pembangunan itu nantinya akan menggerakkan ekonomi dan dapat membayar utang luar negeri.

Tapi faktanya penarikan utang yang terus dilakukan pemerintah selama ini ternyata tak mampu mendorong produktifitas perekonomian dalam negeri. Artinya, jika utang bisa disebut menghasilkan sesuatu yang produktif, maka seharusnya neraca perdagangan tak mengalami defisit. Tapi kenyataannya, ekspor Indonesia justru tak menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Hal ini disampaikan Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati, 15 Maret 2018 lalu. Jadi, utang itu dapat dikatakan produktif atau tidak, bisa dilihat apakah utang itu dipakai untuk belanja atau investasi.

“Kalau buat belanja investasi, itu kan memberi stimulus fiskal. Misalnya ketika pemerintah bangun infrastruktur dari utang, itu akan jadi daya tarik investasi. Kalau investasi tumbuh, berarti akan tumbuh sektor riil. Itu yang akan kembali menyumbang pajak,” tegasnya.

Baca Juga:
Jangan Bandingkan Utang Indonesia Dengan Jepang
Utang Pemerintah Gagal Dongkrak Produktifitas Ekonomi Dalam Negeri
Utang Indonesia, Aman atau Rawan?

Secara teori ekonomi apabila ada peningkatan utang, seharusnya tax ratio pun meningkat. Ketika tax ratio meningkat, maka seharusnya, keseimbangan primer (defisit APBN) tidak semakin defisit. BPS mencatat selama tiga bulan terakhir, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit. Tercatat sejak Desember 2017 hingga Januari dan Februari 2018. Bahkan bulan Februari lalu, neraca perdagangan mengalami defisit mencapai US$ 0,12 miliar.

Jika utang dilakukan untuk pertumbuhan investasi, maka seharusnya berdampak kepada sektor riil yang meningkat. Ketika sektor riil meningkat, maka dampak kepada ekspor yang meningkat pula.

Baca Juga:  Kesamaan Kondisi Malaysia dan Indonesia Sebelum Oposisi Tumbangkan Najib Razak

Namun ternyata hasilnya sejauh ini justru menunjukkan ketergantungan akan impor semakin meningkat. Pertumbuhan investasi di Indonesia juga buruk jika dilihat dari defisit primer (APBN) yang saat ini terus melebar. (*)

Editor: Romadhon