Budaya / SeniKhazanahKreatifitas

Para Seniman Bakal “Berpijak Pada Tanah” Dalam Remo Teater Madura

Para Seniman Bakal “Berpijak Pada Tanah” Dalam Remo Teater Madura. (Ilustrasi: NUSANTARANEWS.CO)
Para Seniman Bakal “Berpijak Pada Tanah” Dalam Remo Teater Madura. (Ilustrasi: NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Pamekasan – Para seniman Madura bakal menggelar festifal seni pertunjukan dan forum pertemuan (gagasan) yang disebut dengan Remo Teater Madura (RTM). RTM ini berlaku bagi para seniman Madura baik yang mukim di Madura maupun yang tinggal dan bekerja di luar Madura (Diaspora).

RTM ini memiki guna membangun infrastruktur pengetahuan kesenian yang baik melalui program seperti pertunjukan, pameran, diskusi, dan workshop.

Dalam keterangan resmi, perwakilan penyelenggara, Arsita Iswardhani menjelaskan bahwa, Remo adalah tradisi ‘arisan’ dan/atau ‘pertemuan’ di mana warga dapat membangun hubungan sosial dengan warga lainnya. Remo juga berfungsi sebagai media perkumpulan dalam rangka agenda musyawarah untuk membicarakan soal-soal yang dihadapi warga.

“Selain itu tradisi ini dapat membangun kepedulian sosial antar warga di satu kampung dengan cara memberi sumbangan kepada warga lain yang kurang mampu atau untuk merencanakan agenda kepentingan bersama seperti membangun infrastruktur desa seperti jalan, tempat ibadah, dan lain-lain,” jelas Arsita seperti dikutip nusantaranews.co, Selasa (25/9/2018).

Baca Juga:  Filsafat dan Perannya dalam Kerjasama dan Pembangunan Berkelanjutan Antar Negara BRICS

Tema utama utama festival seni pertunjukan ini ialah “Berpijak Pada Tanah”. Menurut Arsita, tema tersebut dipilih sebagai satu usaha para seniman Madura untuk (1) ‘terlibat’ dalam wacana dan isu sosial di Madura dan (2) menawarkan diskusi dengan ragam sudut pandang pembacaan atas tanah melalui beberapa karya-karya seniman Madura yang ditampilkan dalam festival.

“Pemilihan ‘Tanah’ sebagai pijakan festival adalah sebuah cara membicarakan Madura hari ini. Salah satu pokok penting apabila membicarakan Madura hari ini terutama yang berkaitan dengan Madura sebagai etnis dan Madura sebagai wilayah atau teritori geografis adalah ‘Tanah’,” terangnya.

“Melalui titik ini, RTM bisa membicarakan Tanah dalam dua bingkai percakapan sekaligus, yaitu tanah sebagai ikatan primordial masyarakat Madura—bagaimana orang Madura memaknai tanah, dan bagaimana makna tanah sesungguhnya merujuk pada jagad kene’ (jagat kecil/yang tampak) dan jagad raja (jagat besar/yang tak tampak) yang dijaga supaya seimbang dan harmonis—dan tanah sebagai sumber daya dan lahan dalam konteks sosial-politik dan ekonomi: perebutan dan penguasaan tanah, alih fungsi lahan, kapitalisasi dan privatisasi, dan lain-lain,” imbuh arsita.

Baca Juga:  Minta Kembalikan Nisan Situs Makam Ulama Lamdingin Ke Tempat Semula, Darud Donya Surati Pj Walikota Banda Aceh

Remo Teater Madura “Berpijak Pada Tanah” akan berlangsung di Vihara Avalokitesvara Kabupaten Pamekasan pada tanggal 28-30 September 2018. Festival ini akan menghadirkan karya-karya seniman (di) Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep) dan seniman-seniman Madura yang sudah tidak bermukim di Madura, seperti Suvi Wahyudianto, Hari Ghulur dan Moh. Wail Irsyad. Tak hanya teater, RTM juga menghadirkan pertunjukan tari, performance art, pameran seni rupa, diskusi, dan workshop. Detil agenda terlampir.

Arsita menambahkan, keterlibatan Teater Garasi/Garasi Performance Institute dalam festival ini adalah bagian dari guliran pertemuan dan interaksi dengan seniman dan komunitas-komunitas seni di Madura.

Di awal tahun 2017, lanjutnya, Teater Garasi/Garasi Performance Institute memulai sebuah program bernama AntarRagam di Madura dan Flores. AntarRagam adalah inisiatif baru kami dalam menjalin kontak dan pertemuan-pertemuan baru dengan tradisi, kebudayaan serta seniman dan anak-anak muda di kota-kota di luar (pulau) Jawa, sebagai suatu proses ‘unlearning’ dan pembelajaran ulang atas (ke)Indonesia(an) dan (ke)Asia(an). Karya dan proyek seni (pertunjukan) yang kemudian tercipta di dalam dan di antara kontak serta pertemuan ini diharapkan bisa melahirkan pengetahuan baru dan narasi-narasi alternatif atas kenyaataan-kenyataan perubahan dan keberagaman sosio-kultural di Indonesia dan Asia.

Baca Juga:  Cut Putri Perekam Video Tsunami Aceh 2004 Kunjungi Balai Arsip Statis dan Tsunami (BAST)

“Kontak dan interaksi kami yang berupa riset, diskusi, workshop, dan residensi kemudian menggulirkan beberapa peristiwa penciptaan dan interaksi publik yang dilakukan mitra-mitra kami di kedua tempat tersebut,” kata Arsita.

Pewarta: Roby Nirarta

Editor: M. Yahya Suprabana

Related Posts

1 of 3,146