Potret Kemiskinan di Indonesia/Foto Otomindonews
Potret Kemiskinan di Indonesia/Foto Otomindonews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pandangan para ekonom pendukung pemerintah yang mengatakan bahwa daya beli tidak turun tetapi rakyat menunda konsumsinya mendapat tanggapan serius dari ekonom senior Fuad Bawazier. Menurutnya itu adalah upaya pembodohan terhadap rakyat.

Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) itu mengaku prihatin dengan stetmen para ekonom pendukung penguasa tersebut. “Saya amat miris karena ekonom-ekonom ini sudah berakrobat keluar dari disiplin ilmunya sendiri, tentunya demi agenda-agenda pribadinya,” ujar Fuad Bawazier dalam keterangannya, Minggu (12/11/2017).

Dengan mengutip seorang ekonom peraih nobel, Prof. Milton Friedman, dirinya mengatakan bahwa sebagai ekonom seharusnya mereka tahu bahwa konsumen tidak mudah atau rigid untuk mengubah pola atau behaviour konsumsinya.

Begitu rigidnya, lanjut Fuad Bawazier, dalam pola berkonsumsi sampai-sampai ketika pendapatannya turun, konsumen tetap mencoba bertahan dengan level konsumsinya dengan cara mengambil tabungannya.

Namun, ketika tabungannya habis, untuk mempertahankan pola atau kebiasaan konsumsinya atau gaya hidupnya, konsumen akan menjual aset-asetnya. Setelah asetnya yang bisa dijual habis, maka langkah terakhir adalah berutang. “Bila masih ada yang percaya,” sambungnya.

Karena itu, Fuad Bawazier mengatakan kurang logis bila dikatakan konsumen tiba-tiba menunda konsumsinya. “Kecuali jika terjadi krisis politik atau keamanan. Tapi tidak dalam keadaan normal,” ungkap dia.

Meski demikian, dirinya merasa lega, sebab debat kusir soal penurunan daya beli sudah terjawab dengan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyimpulkan adanya penurunan daya beli.

“Sebelum pengumuman BPS itu saya sudah mengingatkan kepada para ekonom akrobat yang bersilat lidah bahwa daya beli tidak turun tetapi masyarakat cuma menunda konsumsinya, dengan sindiran,” terangnya.

Sindiran itu, kata Fuad Bawazier, agar para ekonom akrobat tidak nekad meneruskan akrobat konyolnya dengan menambahkan pernyataan-pernyataan konyolnya. Dengan mengatakan bahwa rakyat tidak ada yang miskin, cuma menunda jadi kaya. Rakyat tidak ada yang menganggur cuma menunda bekerja dan lain-lain.

“Kata orang dulu, ngono yo ngono ning ojo ngono, atau kata guru agama saya, innalillahi wainnailaihi rojiun,” tegasnya.  (*)

Editor: Romandhon

Komentar