Budaya / SeniFeaturedPuisi

Palestina, Palestina, Kami Bersamamu! – 5 Puisi Sastrawan Indonesia

PUISI TAUFIK ISMAIL
Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer
dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir
dan batu bata dinding kamartidurku bertebaran
di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan
mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan
apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di
Tel Aviv dimasukkan dalam file lemari kantor
agraria, serasa kebun kelapa dan pohon mang-
gaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas
mereka.

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai
kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-
sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening
kita semua, serasa runtuh lantai papan surau
tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an
40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan
yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini
ditetesi airmataku.

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan
umur mereka, menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma,
lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya,
siapakah yang tak menjerit serasa anak-anak kami
Indonesia jua yang dizalimi mereka –
tapi saksikan tulang muda mereka yang patah
akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya,
pembelit leher lawan mereka, penyeret tubuh
si zalim ke neraka, An Naar.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-
Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim
Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang diba-
cakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami
semua berdegup dua kali lebih gencar lalu ter-
sayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami
pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan
kaligrafi

‘Allahu Akbar!’ dan
‘Bebaskan Palestina!’

Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi
dusta, menebarkannya ke media cetak dan
elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi
di padang pasir belantara, membangkangit reso-
lusi-resolusi majelis terhormat di dunia, mem-
bantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser
Arafat dan semua pejuang negeri anda, aku pun
berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at
sedunia: doakan kolektif dengan kuat seluruh
dan setiap pejuang yang menapak jalanNya,
yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu
dengan kukuh kita bacalah
‘laquwwatta illa bi-Llah!

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.

***

PUISI HELVY TIANA ROSA
Kabar apakah yang sampai padamu tentang Palestina?

Apakah sampai padamu berita
tentang rumahrumah yang dihancurkan
tanahtanah meratap berpindah tuan,
bahkan manusia yg dibuldozer?

Apakah sampai padamu berita
tentang airmata yang tumpah
dan menjelma minuman seharihari
tentang jadwal makan yang hanya sehari sekali
atau listrik yang menyala cuma empat jam sehari?

Baca Juga:  Menanti Revolusi Palestina Abad 21

Apakah sampai padamu
berita tentang kanakkanak yang tak lagi berbapak
tentang ibu mereka yang diperkosa atau diseret ke penjara?
Para balita yang menggenggam batu
dengan dua tangan mungil mereka
menghadang tentara zionis Israel
lalu tangan kaki mereka disayat dan dibuntungi

Apakah sampai padamu berita tentang masjidil Aqsha
di halamannya menggenang darah
dan tubuhtubuh yang terbongkar
Peluru yang berhamburan di udara
menyanyikan lagu kematian menyayat nadi
kekejaman yang melebihi fiksi
dan semua film yang pernah kau tonton
di bioskop dan televisi
Kebiadaban yang mahanazi

Tapi orangorang di negeriku masih saja mengernyitkan kening:
“Palestina? Untuk apa memikirkan Palestina?
Persoalan di negeri sendiri menjulang!”
Mereka bersungutsungut tak suka
Membatu, tak jarang terpengaruh
menuduh pejuang kemerdekaan Palestina
yang membela tanah air mereka sendiri
sebagai teroris!

Duhai, maka kukatakan pada mereka:
Tanpa abai pada semua persoalan di negeri ini
Atas nama kemanusiaan: menyala-lah!
Kita tak bisa hanya diam
menyaksi pagelaran mahanazi
sambil mengunyah menu empat sehat lima sempurna
dan bercanda di ruang keluarga
kita tak bisa sekadar
menampung pembantaianpembantaian itu dalam batin
atau purapura tak peduli
Seorang teman Turki berkata:
mereka yang membatasi ruang kemanusiaan
dengan batasbatas negara
sesungguhnya belum mengerti makna kemanusiaan

Hai Amr Moussa tanyakan pada Liga Arab
belum tibakah masanya bagi kalian
bersatu, membuka hati, berani
berhenti mengamini nafsu Amerika
yang seharusnya kita taruh di bawah sepatu?

Hai Ban Ki Moon,
apakah Perserikatan Bangsa Bangsa itu nyata?
Sebab tak pernah kami dengar
PBB mengutuk dan memberi sanksi
pada mahanazi teroris zionis Israel
yang pongah melucuti kemanusiaan dan keberadaban
dari wajah dan hati dunia
Apakah kalian, apakah kita tak malu
Pada para syuhada flotilla, Rachel Corrie, Yoyoh Yusroh
dan George Galloway?

Karena sesungguhnya kita bisa melakukan sesuatu:
menyebarkan tragedi keji ini pada hatihati yang bersih,
memberi meski sedikit apa yang kita punya
dan mendoakan Palestina

Apakah sampai padamu, berita tentang mahanazi itu?
Tentang Palestina yang bersemayam kokoh
di hati mereka yang diberi kurnia?

Seperti cinta yang tak bisa kau hapus
dari penglihatan dan ingatan,
airmata, darah, dan denyut nadi manusia

: Lawan Mahanazi!

***

PUISI ASEP SAMBODJA
Palestina! Palestina!

aku melihat palestina yang terluka
dan berdarah lagi
israel baru saja mengirim pesawat pembom F16
yang berisi malaikat pencabut nyawa
ke jalur gaza
hingga 870 orang mati
di gaza city
aku melihat palestina terluka teramat dalam
oleh tentara-tentara ehud olmert,
ehud barak, dan tzipi livni
dan 3.000 orang terluka lagi
bermandi darah lagi
tahun baru
membawa luka baru
meski yasir arafat dan isaac rabin
pernah bersalaman
di depan bill clinton
di tahun 1993
tapi apa arti salam-salaman simbolik itu?
apa arti senyum simbolik amerika itu?
mahmoud abbas, apa katamu
setelah ratusan jiwa mati lagi?
ismail haniyah, haruskah ada yang mati lagi?
perang ini mengisi sejarah sepanjang hidupku
sebelum aku lahir hingga kiamat nanti
perang ini akan terjadi lagi
dan lagi dan lagi…
masih mujarabkah doa?
masih berartikah airmata?
aku tak habis pikir
kenapa PBB tak mengirimkan pasukan perdamaian
di jalur gaza,
tepi barat,
dan yerusalem?
Kenapa?

Baca Juga:  Jutaan Warga Palestina Melakukan Aksi Pemogokan Umum di Tepi Barat Pasca Serangan Brutal Pasukan Zionis

PUISI JAMAL D. RAHMAN
Menangis, Menangislah, Palestina

Menangis, menangislah, Palestina. Menangislah dengan isakan paling kekal. Sebab, dari tangismu jua, sungai-sungai sorga tercipta. Siapakah berkecipak di sungai itu, memainkan ricik-ricik air bagai suara gerimis yang turun meggugurkan segala luka? Para nabi yang tak henti-henti menyebut namamu.
Masjidil Aqsha
Palestina
Gaza

―Izinkan kiranya sungai-sungai itu bermuara di hatiku.
Menangis, menangislah, Palestina. Menangislah dengan raungan paling baka. Sebab, dari tangismu jua, kebun-kebun sorga tercipta. Siapakah memandang pepohonan yang rimbun di kebun itu, memetik bebuahan yang ranum beraroma anggur? Para nabi yang selalu mengingatmu.
Masjidil Aqsha
Palestina
Gaza

―Izinkan kiranya kebun-kebun itu beroma anggur dalam doaku.
Langit pun menangis, Palestina. Bulan pun menangis. Bintang-bintang menangis. Sebab, mereka tahu: burung-burung yang tercipta dari tangismu telah tiba di sorga.

***

PUISI DENNY JA
Jangan Menangis Palestina

Aku warga Palestina
Aku tak lahir untuk membenci
Tapi kamu membunuh ibuku
kamu perkosa kakak perempuanku
Maka aku makan dagingmu

Aku warga Palestina
Aku tak lahir untuk marah
Tapi kamu larang aku merdeka
Kamu tindas aku
Kamu miskinkan aku
Tak ada yang bisa kumakan
Maka aku kunyah tulangmu

Demikianlah bait puisi dinyalakan
penyair itu membakar massa
Rosa melihatnya di TV
Ada apa dengan Palestina?
Rosa mencari tahu

Dibukanya peta dunia
Di sisi selatan Lebanon
Di sisi barat Jordania
Di situlah Palestina
Di peta itu, di wilayah Palestina
Air mata menetes

Ada apa Palestina?
Tanya Rosa lagi
Dibukanya data sejarah
Ribuan tahun sudah
Anak manusia saling membunuh di sana
Astaga!

Tahulah Rosa
Palestina bukan hanya wilayah geograpi
Palestina bukan hanya isu kekuasaan
Palestina adalah tragedi kemanusiaan

Baca Juga:  Tepi Barat Bergolak, Pasukan Zionis Terus Membunuhi Warga Palestina

Disekanya air mata di peta itu
Kini air mata itu pindah
Menjadi Air Matanya

Agustus 2017


Taufik Ismail merupakan sastrawan Indonesia yang tergolong dalam angkatan 66. Karya-karya puisinya banyak menceritakan tentang kemanusiaan, termasuk konflik kemanusiaan yang terjadi di Palestina. Karya monumentalnya tertulis dalam satu buku berjudul Tirani dan Benteng, yang menceritakan tentang pergolakan yang terjadi saat peralihan zaman Orde Lama ke Orde Baru. Pada 2016, saat diundang dalam Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Islam (KTT OKI), dirinya membacakan puisi tentang Palestina yang mendapat sambutan hangat dari peserta KTT OKI.

Helvy Tiana Rosa merupakan salah satu sastrawan perempuan Indonesia yang banyak mengangkat persoalan hak-hak asasi manusia, baik di Indonesia maupun yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Palestina. Sastrawan serba bisa yang telah menerima segudang penghargaan ini bersama komunitasnya kerap menggelar acara “Solidaritas Sastra untuk Palestina”. Salah satu puisinya tentang Palestina yang menyayat hati adalah “Apakah Sampai Padamu Berita tentang Palestina?”

Asep Sambodja, Aktif sebagai jurnalis sejak 1988, Asep Sambodja telah melakoni profesi wartawan di banyak media Tanah Air. Namun, pada 2005 dirinya lebih memilih berprofesi sebagai dosen Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Indonesia. Pada usianya yang ke-43, Asep Sambodja meninggal dunia, tapi karya-karya puisinya yang kerap membicarakan tentang kemanusiaan terus bergaung hingga saat ini, termasuk tentang Palestina dan mendiang Munir.

Jamal D. Rahman, Penyair, esais, dan dosen sastra UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta. Pemimpin Redaksi “Jurnal Sajak”. Mantan pemimpin redaksi majalah sastra “Horison” (2003-2016). Buku puisinya: Airmata Diam, Reruntuhan Cahaya, Garam-Garam Hujan, dan Rubaiyat Matahari. Bukunya yang akan segera terbit: Wahdatul Wujud: Artikulasi Islam dalam Sastra Indonesia Modern dan Secangkir Kopi Seorang Musafir (kumpulan esai). Penerima Hadiah Sastra Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) 2016.

Denny JA, Peneliti, Sastrawan, sekaligus pengamat sosial politik Indonesia. Ia termasuk intelektual yang aktif dalam dimensi hidup yang beragam. Ia aktif dan membuat reputasi di dunia riset, politik, bisnis, karya budaya dan sastra, social media, aktivis sosial dan kegiatan amal. Buku puisinya menjadi best seller pertama untuk buku orang Indonesia di toko online terbesar dunia Amazon.com pada bulan Juli 2015. Tahun 2014, ia juga dipilih Team 8 dan PDS HB Jasssin sebagai?satu dari 33 tokoh berpengaruh dalam sastra Indonesia. Ia memperkenalkan jenis puisi unik yang disebut puisi esai.

Related Posts

1 of 13