Connect with us

Peristiwa

Paham Ekstremisme Ancaman Generasi Bangsa

Published

on

Menolak radikalisme disekolah/Foto bia dutadamai/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Paham Ekstremisme Ancaman Generasi Bangsa. Pengurus Yayasan Tikar Seni Bidaya Nusantara Bandung, Hairus Salim HS dalam ulasannya menilai ekstremisme saat ini telah menjadi problem nasional, bahkan internasional. Orang-orang mencemaskan banyak anak muda yang terpengaruh pemikiran ekstremisme dalam keagamaan. Bahkan sebagian telah menjurus ke praktik kekerasan untuk memenuhi harapan dan tujuannya: ekstremisme kekerasan.

Dirinya menyebutkan sudah banyak riset yang menunjukkan bagaimana sekolah umum kini telah menjadi wahana persebaran ekstremisme. Melalui kegiatan-kegiatan yang terbuka –bahkan didukung sekolah—maupun klandestin. Para siswa, lanjut dia telah menjadi subjek sekaligus objek penyebaran ekstremisme ini. Angka mereka yang terpapar paham ekstremisme ini bisa diperdebatkan, dan dalam banyak hal sulit dideteksi karena sifatnya yang dinamis dan fluktuatif, tapi diyakini jumlahnya sudah pada level yang mengkhawatirkan.

Direktur Eksekutif Yayasan LKiS, Yogyakarta ini menjelaskan, situasi internal maupun eksternal sekolah hampir semuanya saling mendukung perkembangan ini. Sudah hampir tiga dekade sekolah menjadi ajang kontestasi dan kompetisi untuk mendapatkan nilai tertinggi dan kemudian siswa bisa masuk perguruan tinggi. Untuk itu siswa mengikuti sepenuh hari untuk belajar melalui program bimbingan.

Bakat dan prestasi menjadi tunggal dan satu-satunya yang dianggap capaian hebat adalah berhasil meraih NEM tinggi. Pelajaran agama, meski tidak diujikan dalam ujian nasional, ditekankan sebagai suatu ideologi atau pelajaran surga-neraka, daripada suatu ‘code of cunduct’ atau ‘akhlak’ hidup bermasyarakat.

Dirinya mengaku khawatir karena ini menyangkut masa depan kita sebagai bangsa. Sikap welas asih merosot. Prasangka, intoleransi dan diskriminasi meluas dan dianggap sebagai sikap yang wajar dan semestinya. Kata dia dianggap merugikan, karena siswa-siswa yang tadinya berbakat di bidang riset pengetahuan, olahraga, kesenian dan lain-lain, setelah terpapar paham ini kemudian memalingkan perhatiannya pada kegiatan keagamaan semata. Yang pertama dianggap sebagai duniawi, sedangkan yang kedua lebih berorientasi pada kehidupan kelak setelah mati. Dan hal ini dianggap lebih utama.

Baca Juga:  Pemeriksaan Rizieq Mestinya Tak Perlu Libatkan Massa

Tentu sudah banyak yang telah dilakukan untuk mencegat kecenderungan yang makin meluas ini. Salah satu di antaranya kata Hairus Salim adalah memperkenalkan pemahaman agama yang toleran dan terbuka. Ini bagus dan menarik, kendati demikian, menurut pendapatnya, hal ini tidak terlalu efektif karena, pertama, kembali menempatkan ‘agama’ di sekolah sebagai suatu yang utama.

Padahal menempatkan agama sebagai yang utama ini, bisa jadi merupakan sumber masalahnya. Terutama agama dalam pengertian ‘ideologi’ dan ajaran surga-neraka, bukan etika. Kedua, lanjut dia, menghadap-hadapkan suatu paham agama yang satu ‘yang dianggap eksklusif dan bertendensi kekerasan’ dengan yang lain ‘yang dianggap inklusif dan berorientasi damai.’ Kedua pilihan ini kemudian dipertarungkan. “Celakanya tak akan ada pemenangnya, karena masing-masing pilihan pada akhirnya dianggap benar ‘secara keagamaan’,” ungkapnya.

Editor: Romandhon

Loading...

Terpopuler