Connect with us

Cerpen

Padang Suci : Sebuah Kisah Daripada Po A

Published

on

The Medieval university was a place of study, and was based largely on the works of Aristotle, with added commentary by Arabic scholars/Photo: Quora
The Medieval university was a place of study, and was based largely on the works of Aristotle, with added commentary by Arabic scholars/Photo: Quora

NUSANTARANEWS.CO – Padang yang rerumputnya semakin kering itu kadangkala sedikit menerbangkan debu bila angin datang. Bagi Sumel dia sudah terbiasa dengan suasana dan cuaca sebegitu bahkan lebih daripada biasa. Di padang yang kekeringan rerumputnya itu  dahulu pernah basah, dia juga pernah dirotan ibunya kerana bermain hujan di situ. Di padang yang rerumputnya kekeringan itu juga dia bersama teman-temannya bermain kejar-kejar antara polis dan penjahat, tuju tin dan tuju kasut. Di padang yang kekuningan rerumputnya itu juga dia pernah bergaduh hingga luka-luka dan menyaksikan pelbagai perisitwa.

Ya, bermain kejar-kejar dan adik menjadi polis. Masih teringat lagi akan kenangan dan cita-cita adiknya itu. Cita-cita menjadi seorang anggota polis adalah impian yang sudah dicapai adiknya. Dia bangga. Ibunya juga bangga. Ayahnya turut bangga. Kawan-kawan adiknya ikut serta bangga. Mereka semua bangga adiknya telah mencapai cita-cita tersebut. Tapi tidak Sumel, walaupun dia berbangga dengan kejayaan awal adikya tapi dia tidak bisa memberikan sebuah kebanggaan kepada kedua-dua orang tuanya.

Hidup di kampung harus kental dan sabar. Di kampung tidak sama seperti kota besar. Di kampung Sumel tidak bisa sewenangnya melakukan onar atau sewenangnya bertindak di luar waras akal. Kata Po A, “di kampung, orang-orang hidup dengan penuh rukun. Malu jika ketahuan sama tetangga ada yang melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya.

Hidup dengan tetangga yang pelbagai rencam kelaku ada banyak cabarannya. Kedamaian itu kadang-kadang kala seperti angin kadang-kala seperti debu. Bisa datang entah dari mana, Tidak dapat melihat cuma merasai; tahu-tahu sudah menjadi bualan tetangga. Jika hal yang elok, baguslah. Tapi jika hal-hal yang jelik. Harus bagaimana? Jika tidak bisa berdepan dengan tenang boleh membawa kepada pertikaman lidah dan bermasam muka.”

Misalnya pernah suatu masa, ketika Sumel kecil, padang itu menjadi penyaksian sebuah peristiwa yang mungkin semua warga tidak jelas asalnya, tidak jelas pucuk panggkal bahkan kebenarannya yang harus tertunjuk juga agak samar tapi atas nama tugas suci ia harus disegerakan. Disegerakan tanpa usul periksa yang benar. Lalu pada akhirnya kebenaran hilang tertimbus oleh sikap egois manusia. Hukum tidak bisa tertegak dalam kondisi manusia yang penuh egois dan prejudis. Padang itu menjadi saksi kepada segala kebebalan tersebut.

Po A pernah bilang  dahulu.. “ada sepasang kekasih ditangkap di suatu kawasan sunyi yang tiada penghuni. Lalu dibawa ketemu sama kepala desa, saat pasangan tersebut dibawa bertemu kepala desa sebelum dibawa ke tengah padang tersebut, orang-orang semakin ramai ikut berarak sambil melaungkan kata-kata kesat. Ada yang keluar dari rumah lalu ikut serta, ada yang sedang berniaga lalu meninggalkan hasil jualan untuk ikut serta dan ada yang entah datang dari mana tiba-tiba juga turut ikut serta.”

Po A bilang lagi.. “yang ditangkap itu adalah seorang anak murid kepada Kiyai Ali Hussien. Pasangan tersebut di bawa ketemu kepala desa untuk diadili dan dihukum. Tapi apa bisa seorang kepala tetangga yang sering korupsi dan leweh amanahnya kepada tanggungjawab sebagai orang islam bisa memutuskan sebuah hukuman? Tapi itulah yang bakal terjadi kepada pasangan tersebut. Barangkali sudah menjadi adat leluhur jika ada setiap kesalahan para warga, mereka akan dibawa ketemu kepala desa terlebih dahulu dan setelah itu dirujuk kepada para tokoh ugama, lalu kepala desa desa akan memutuskan hukuman. Para tokoh ugama hanya layak berbincang samada untuk memutuskan tertuduh tersebut salah atau tidak..selebihnya hukuman terletak atas budi bicara kepala desa. Selesai dirujuk dan diputuskan hukuman, para pesalah akan dibawa ke padang tersebut untuk dijatuhkan hukuman.” Ya, sebuah padang suci. Padang yang sedang Sumel pijak yang rerumputnya kekeringan dan tanahnya berdebu bila ditiup angin. Ali Hussien adalah pak kiyai yang paling dihormati oleh segenap warga bahkan jaringan keilmuan, kewarakan, ketokohan dan anak muridnya terpecah dan tesebar merata tanah Nusantara hingga ke Andalusia dan Suriah.

Baca Juga:  Seperti Halnya Debu yang Masuk di Matamu

Po A bilang.. “Dia pernah beberapa kali  melihat sejumlah yang kurang lebih sepuluh buah mobil elit memasuki ruang laman pusat pengajian yang diwujudkan Kiyai Ali Hussien dahulu.” Tidak diketahui apakah yang mereka lakukan dan apakah tujuannya kedatangan mereka. Kiyai Ali Hussien juga adalah pendiri pusat pengajian tersebut setelah pulang daripada tanah arab dan nusantara lalu membuka pusat pengajian agama. Bermula dengan enam orang anak murid iaitu Agus Suleiman, Ahmad Mouso, Bachri Rashid, Risma Burhane, Ruzki Khalid dan Sumardji Mazlan. Keenam-enam mereka yang terawal adalah anak murid yang diambil Kiyai Ali Hussien di jalanan lalu dibawa ke pusat pengajian lalu dipakaikan pakaian indah serta wangian, dijaga makan dan minum serta diberi tinggal di situ. Mereka diajar pelbagai ilmu oleh Kiyai Ali Hussien dari hal keduniaan hingglah hal-hal ketuhanan.

Agus Suleiman anak yang taat, begitu juga lima orang saudaranya. Dia patuh akan segala arahan walaupun agak sedikit keras kepala tetapi baik hati dan bijak menguruskan keramahan bicara. Lalu masa pantas mengalihkan bentuk fizikal mereka, dan begitu juga ruang pusat pengajian. Kini, Kiyai Ali Hussien mempunyai hampir lima ratus orang anak muridnya yang dipantau oleh keenam-enam anak muridnya yang terawal itu. Agus Suleiman juga bijak dalam ilmu perhutanan, suka berburu dan selalu pulang membawa haiwan buruan lalu dihadiahkan kepada Kiyai Ali Hussien.

Kiyai Ali Hussien mendapat gelaran tersebut daripada para warga selepas beliau pulang dari pengajiannya di serata penjuru dunia. Bagi para warga desa Po A, mereka lebih senang menggelar Pak Kiyai Ali Hussien dengan gelaran tersebut walaupun nama asalnya adalah Ahamad ‘Ali “Sudah hampir sebulan lebih hujan tidak menurunkan tetesan airnya apatah lagi mahu menyapa tanah yang kontang gersang ini.” Bilang Po A.

“Ya, sebuah hujan yang seringkali ditunggu dan seringkali membuatkan orang-orang kampung menjadi rawan.” Sumel menyambut kembali ucapan Po A.

Dan dia teringat sebuah kisah tentang hujan dan suatu petang yang tidak pernah terlupakan. Kisah tentang anak-anak zaman kecilnya, kisah tentang suka dan duka. Barangkali kisah ini adalah kisah yang membuatkannya tidak lagi menyalahkan ibunya setelah sekian lama dia menyimpan sebuah dendam rasa, kerana masa dengan perlahan meninggalkan sebuah resah lalu dan membawa kisah yang perlu. Petang yang sedang ditemani hujan, adiknya hampir tewas dalam sebuah pergaduhan. Pergaduhan yang awalnya hanyalah salah faham kecil dan mengundang perkelahian kecil namun memuncak menjadi perkelahian besar antara adiknya dengan Ruhit, teman mereka. Sumel yang menyelamatkan adiknya dan tika membawa adiknya pulang ke rumah, ibu memarahi Sumel kerana tidak bisa menjaga adik hingga menyebabkan kecederaan parah. Sumel tahu itu mungkin salahnya dan ada benarnya ibu berkata bahawa Sumel tidak bisa menjaga adiknya. Tapi, setidaknya Sumel telah berjaya menyelamat adik dan oleh kerana peristiwa itu, ibu menyalahkan Sumel hingga umur Sumel pun menjengah dua puluhan lebih. Lama..terlalu lama kemarahan itu dipendam ibu dan terlalu lama juga Sumel memendam rasa.

Para warga termasuk Po A juga terkadang ada sedikit kerisauan yang membalut resah mereka kerana memandangkan cuaca semakin menuju kemarau. Tanaman padi masih belum bisa diusahakan lagi. Begitu juga padang tersebut, semakin kering, semakin berkurang rerumputnya, semakin berdebu dan semakin dia membenci manusia.

Sebenarnya padang tersebut tidaklah seluas mana ukurannya jika di lihat sekarang, bahkan menurut Sumel jika dia berlari di padang itu sekarang tidak sempat menukar nafas sudah siap satu pusingan. Tapi Sumel tetap akui padang tersebut adalah padang yang paling terindah kenangannya ketika kecil. Padang itu juga adalah padang sejarah buat seluruh warga pada suatu masa dahulu, tapi ada ketika-ketika waktunya, ia mengusik menjadi sebuah kenangan yang ngeri.

Baca Juga:  Cinta Dalam Mimpi - Cerpen Anas Sholehudin JS

Po A merenung langit yang sedikit pun tidak menampakan hujan akan turun, panas membahang, cahaya surya memeritkan. Po A mengeluarkan paipnya dari dalam beg sendengnya, beg sendeng yang berisi buku dan paip adalah kewajipan yang sering dibawa Po A ke mana sahaja. Dia menghancurkan tembakau lalu menyumbat ke dalam paip. Dikeluarkan pemetik api lalu dibakar tembakau tersebut. Dihisap dalam-dalam dan asapnya dihembus. Sumel maseh tercegat melihat padang tersebut. Barangkali peristiwa lalu yang pernah diceritakan Po A itu  maseh berlegar diingatannya.

“Ketika itu suasana menjadi riuh rendah, keadaan menjadi sedikit kelam kabut. Ada juga kedengaran tangisan bayi dan bocah kecil lalu kedua-dua pasangan itu pun sampai ke tengah padang suci tersebut.” Sumel maseh ingat dengan jelas lagi bagaimana Po A begitu bersungguh bercerita kepadanya tentang kisah anak murid Kiyai Ali Hussien itu. Dari memek mukanya, gerak laku tangan dan badan hingga ke suara. Po A tidak pernah mengecewakan dalam menyampaikan sesuatu kisah yang sangat dramatis. Seolah-olah terasa dirinya juga sedang berada di zaman itu dan berada di padang itu.

“Orang ramai mulai membanjiri setiap sudut padang tersebut. Mereka tidak mahu melepaskan setiap detik yang bersejarah ini. Kerana peristiwa seperti ini sukar terjadi dalam suatu kerangka masa yang pendek” Kali terakhir terjadi menurut Po A 20 tahun yang lalu. Ketika itu Po A baru berusia sembilan tahun sambil tangan menunjuk dan menggoyang ke kiri dan ke kanan. “Sembilan tahun ketika itu, usiaku sudah berkhatan kalau mahu dibandingkan dengan anak-anak sekarang.” Po A lanjuti ceritanya sambil tersenyum dan muka sedikit bangga pada ketika itu.

“Setiap warga yang mampir ke padang suci siap dengan sebiji batu kecil yang saiznya tidak seragam..batu kecil tersebut akan mereka gunakan untuk merejam si pesalah.

Kedua-dua pesalah yang dituduh melakukan mukah itu segera dibawa ke tengah padang. Ketika itu cuaca tidaklah seperti sekarang, ada angin yang baik dan manja. Ada sinar mentari yang ramah dan tidak terik. Ada beburung cuba menyibukkan suasana. Hanya yang menyesakkan keadaan adalah suara-suara manusia yang prejudis, akal yang tidak waras serta ego yang membunuh pertimbangan. Mungkin beburung pun enggan melihat sebuah peristiwa sedih itu apatah lagi angin serta mentari juga seolah bersalah kerana memberikan bayu dan sinarnya buat mereka pada waktu itu.”

Tiap detik yang diceritakan dahulu, Sumel ingat dengan utuhnya..Di hadapan padang di atas pentas khas, kepala desa duduk megah di kerusinya, diapit oleh beberapa orang ugaman upahan di kiri dan kanannya. Manakala para warga berhimpun mengeliling padang tersebut. Kedua-kedua tertuduh berjalan perlahan sambil kepala mereka ditutup dengan kain berwarna hitam manakala tangan pula terikat. Mereka diiringi oleh beberapa pengawal yang sedang memegang cemeti. Langkahan semakin perlahan, di langit beburung semakin bising bersuara, seolah-olahnya sedang mengerti apa yang sedang berlaku. Tiba di tengah-tengah padang, kedua-dua tertuduh yang dituduh bersalah melangkah kaki dengan pasrah lalu menaiki beberapa anak tangga kecil dan berdiri tegak di atas pentas pesalah.

Pengawal-pengawal tersebut membuka kain yang menutupi muka mereka, amat terkejut seluruh warga yang dilihatnya mereka adalah wajah Agus Suleiman dan Orked. Ada yang tertunduk senyap, ada yang mengomel dengan muka penuh kebencian dan ada yang sedang terpinga-pinga. Tetapi tidak bagi kedua-dua mereka. Wajah mereka tenang. Tenang setenang kepakkan sayap beburung yang sedang terbang di dada langit. Tenang seperti angin mesra pada ketika itu dan tidak ada tanda-tanda resah di wajah.

Baca Juga:  CAPPUCCINO DAN TUNA SANDWICH

Dan Po A, maseh bersama paipnya, disedut dan dihembus. Tidak juga dihiraukan Sumel untuk saat ini yang sedang mengembalikan kenangan pada sebuah peristiwa sedih yang pernah diceritakan Po A.

Mereka berdiri tegak, Agus Suleiman mendongok ke langit, lalu tersenyum. Dia menoleh ke kanan lalu tersenyum dan dia menoleh ke kiri, juga tersenyum. Tapi Orked tetap keras kaku berdiri tegak. Bebola matanya tepat menerjah ke mata kepala desa. Mengukir sebuah senyuman paling indah di dunia dan tiada sedikitpun tanda-tanda resah.

Barangkali, atas didikan Kiyai Ali Hussien membuatkan semangat mereka utuh. Agus Seleiman adalah lelaki yang pernah tumbuh membesar dalam keadaan penuh kesusahan di awal usianya dahulu. Dipukul dan didera oleh pelbagai orang dengan pelbagai alasan namun dia sedikit tidak pernah merusuh dalam hatinya sendiri apatah lagi membalasnya dengan sebuah dendam yang paling meninggalkan kesan. Dia pernah merasakan apa itu erti sebuah kehilangan bilamana dia kehilangan kedua-dua orang tuanya dalam sebuah hutan. Mereka terpisah ketika melawati sebuah hutan yang tebal dan besar. Barangkali juga, kedua-dua orang tuanya sudah meninggal dimamah binatang buas.

Sumel masih ingat bagaimana riak wajah Po A yang sedikit sayu apabila ceritanya mula hampir ke penghujung. “Hari itu, hari yang penuh pilu. Hari itu hari yang membunuh perlu. Hari itu, hari yang tidak ada seorang pun yang mendahulukan kewarasan akal serta kedamaian yang selalu diungkapkan oleh Kiyai Ali pada setiap kuliahnya di surau. Semua hanya menurut ego dan hawa nafsu serta lebih memperdulikan adat yang mendera. Beberapa detik lagi hukuman bakal dijalankan dan Kiyai Ali masih berada di luar kawasan, sudah seminggu beliau berpergian bersama tiga orang lagi anak muridnya yang baik hati itu dan dua orang lagi anak muridnya segera menyusulnya, membawa perkhabaran bahawa ada sesuatu yang buruk telah menimpa saudara mereka.”

Hari ini, semuanya seakan perlahan merubah iklim adat leluhur mereka, seiring cuaca yang turut berubah. Padang ini padang suci yang telah kotor dan sedang kembali suci. Padang ini juga sudah sepi dari gelak tawa dan sorakan anak-anak kecil. Kesepian itu sangat mengusik, apatah lagi pada saat ini anak-anak kecil di kampung ini sudah terdedah dengan perubahan zaman. Barangkali anak-anak kecil ini sudah tidak tahu apa itu permainan gasing atau guli, barangkali anak-anak kecil ini sudah tidak tahu apa itu pergaduhan yang sama sekali tidak dicampur kisah oleh orang tua dan barangkali juga anak-anak kecil ini tidak lagi mengenal biji getah. Alangkah kesepian ini merugikan mereka menikmati erti hidup zaman kanak-kanak.

 

Arafat Hambali

Arafat Hambali

*Arafat Hambali, lahir di Balik Bukit Chuping Perlis, Malaysia. Mantan graduan seni halus UiTM Shah Alam dalam major seni arca. Pernah menyertai beberapa pameran seni rupa dan pernah memenangi tempat utama kategori puisi, Hadiah Sastera Selangorkini 2015. Antara antologi bersama, Puisi Jadi Senjata, 2011. Puisi Jadi Senjata, Demokrasi Terdera 2012, Dia Ida, 2014. Nak Jadi Thukul 2014, Rumput Kuning, 2014, Trisula Kata Dari Daerah M,2014. Kita Semua Ayah Halim2015, SIPENA, 2016  Kumpulan puisi Kepak-kepak Malam Dari Sorga 2016, dan novel Sayap V 2016  serta karya-karyanya banyak disiarkan di beberapa akhbar alternatif sejak 2011 dan portal berita alternatif.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Loading...

Terpopuler