Orang Gila Serang Ulama Untuk Tutupi Aktor Intelektualnya

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Dalam acara yang diadakan oleh Ikatan Profesi Perpolisian di kawasan Kebayoran Baru, Pengamat Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Purwanto menilai penggunaan orang gila untuk menyerang ulama sebenarnya memiliki tujuan agar aktor intelektual di balik penyerangan tersebut tidak tersentuh aparat keamanan.

Sebab, di dalam pasal hukum, orang gila tidak bisa dikenai sanksi pidana. Sementara untuk mengungkap aktor di balik penyerangan, lanjut dia membutuhkan bukti dan saksi.

“Penggunaan orang gila sebenarnya ditujukan untuk tidak menyentuh aktor intelektualnya. Di dalam pasal hukum, bukti dan saksi sangat penting,” kata Wawan saat menjadi pembicara seminar bertajuk Siapa Balik Penyerangan Ulama, Rabu (4/4/2018).

Baca Juga:
Ulama Diserang, Razia Orang Gila Digelar Serentak
Penganiayaan Ustadz di Cirebon Tak Ada Unsur Kesengajaan

Dirinya beranggapan bahwa kekerasan ulama yang terus marak akhir-akhir ini bertujuan untuk menimbulkan ketakutan di masyarakat. Menciptakan ketakutan, kepanikan dan ketidakpercayaan kepada sistem keamanan. “Ya supaya tidak percaya pada pemerintah,” ungkapnya.

Meski hal itu masih asumsi, karena aktor intelektualnya tak tersentuh, namun dirinya mengaku bisa merasakan keberadaannya. Menurutnya, tidak mudah menemukan posisi dan identitas dalang di balik penyerangan terhadap ulama.

“Dan aktor intelektual ingin memberi pesan, kepada musuh. Ini adalah say war telah ditabuh,” ungkapnya.

Meski demikian, dirinya menyebut masyarakat saat ini semakin waspada dalam mengamankan wilayahnya masing-masing. Terbukti setelah terjadi berbagai peristiwa tersebut, masyarakat melakukan pengamanan diinternal mereka.

Menurutnya itu sudah tepat, sebab masyarakat tidak bisa hanya dengan menggantungkan patroli dari aparat kemanan khususnya Polisi. Sebab urusan aparat keamanan lanjut dia, tidak hanya satu. “Jadi masing-masing elemen harus saling bekerjasama,” terangnya.

Baca Juga:  BPS: Kualitas Guru Penentu Keberhasilan Suatu Negara

Editor: Romadhon