Connect with us

Hukum

Ocehan Bandit Tak Layak Didengar Anak Bangsa

Published

on

Alwy Rachman/Foto Nusantaranews (dok. Istimewa)

Alwy Rachman/Foto Nusantaranews (dok. Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO – Cerita busuk beredar dari alm. Freddy Budiman menjelang dirinya dieksekusi mati Jumat (29/07/16) mulai Pukul 00.01 hingga 00.45 WIB di lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Dalam rentang waktu yang berdekatan, muncul di media sosial cerita busuk dari Freddy yang dibeberkan pada Haris Azhar yang mengatas namakan Koordinator Eksekutif Kontras.

Terang saja, cerita busuk yang didengar baik oleh Azhar, langsung diketik dan diunggah ke akun Facebooknya. Setelah nitizen ramai membicarakannya, media pun nyusul memberitakan. Cerita busuk Freddy pun menuai banyak penilaian, komentar, dan tanggapan dari berbagai pihak. Sebab isinya berupa ungkapan informasi rahasia tentang sepak terjang dan kelemahan aparat penegak hukum baik itu Polri, BNN, dan TNI dalam menangani kasus narkoba.

(Baca: Freddy: Ada Keterlibatan Pejabat dalam Jaringan Narkoba)

Salah satu budayawan Alwy Rachman memberi tanggapan terhadap cerita busuk Freddy yang merupakan terpidana mati dengan bukti mengontrol peredaran 1,4 juta pil ekstasi dari balik jeruji besi. Menurut Alwy Rachman, Cerita Freddy bisa jadi hanya sebagai bagian dari demoralisasi terhadap keseluruhan kinerja BNN dan Polri.

Cerita seperti itu, tambah Alwy, berdampak buruk terhadap upaya pemberantasan narkoba. Baginya, kinerja aparat semestinya diapresiasi mengingat dampak narkotika telah menjelma menjadi masalah sosial yang semakin hari semakin meluas. Bahkan jangkauannya sudah hampir menjamah semua lapisan masyarakat.

“Eksistensi bandit tak bisa dijadikan bagian dari moral bangsa. Pelan tapi pasti, bandit-bandit narkotika tak bekerja sendiri. Mereka memang harus dihadapi sejak dini. Kita tak bisa membiarkan Indonesia ini menjadi bulan-bulanan oleh kelompok geng narkotika sebagaimana yang menimpa banyak negara-negara di Amerika Latin. Perang terhadap narkotika mirip perang terhadap terorisme. Narkotika semestinya diperangi secara global, nasional, dan lokal,” tegas Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas) seperti dikutip trabratanewsmakassar, Sabtu (30/7).

Baca Juga:  Memahami Sila Kedua dan Persatuan Indonesia

Mengacu pada pandangan blogger bidang pengarsipan artikel yang tergolong tercecer ini, cerita Freddy tak bisa dijadikan sandaran bagi keselamatan masyarakat. “Bagaimana bisa sosok bandit harus menjadi rujukan? Celaka dong masyarakat kalau begini,” ujar pengampu alwyrachman.blogspot.co.id ini. (TNM/NN/MRH/Red-02)

Loading...

Terpopuler