Duta Besar Washington untuk PBB, Nikki Haley. (Foto: Mary Altaffer/Associated Press)
Duta Besar Washington untuk PBB, Nikki Haley. (Foto: Mary Altaffer/Associated Press)

NUSANTARANEWS.CO, Washington – Duta Besar Washington untuk PBB, Nikki Haley terus meningkatkan tekanan retoris menjelang pertemuan PBB di New York, dengan menegaskan bahwa Korea Utara harus menghadapi ancaman serius dari AS dan negara-negara sekutu.

“Korea Utara akan dihancurkan,” katanya seperti dikutip AFP, Senin (18/9).

AS, Jepang dan Korea Selatan masih mencari formula tepat untuk menghadapi Korea Utara. Presiden Donald Trump juga terus meningkatkan retorika ancamannya terhadap Pyongyang. Dan salah satu upaya yang ditempuh ialah membawa isu nuklir Korea Utara dalam pertemuan majelis umum PBB yang dimulai pada Senin (19/9). Ketiga negara mendesak PBB untuk membantu mereka melucuti senjata nuklir Kim Jong-un yang meresahkan.

Kantor Kepresidenan Korea Selatan mengatakan negara tetangganya harus membuat tekanan sekeras mungkin untuk menghentikan laju Pyongyang dalam program nuklirnya.

Menurut Trump, ancaman AS bukan main-main dalam menghadapi aktivitas provokatif Korea Utara. “Bukan ancaman kosong,” cetus Presiden AS ke-45 itu.

“Tak satu pun dari kita menginginkan perang. Kami ingin bertanggung jawab dan melakukan upaya-upaya diplomatik untuk mendapatkan perhatian mereka terlebih dahulu. Jika tidak berhasil, Jenderal Mattis (Menhan AS), akan mengurusnya,” kata Nikki Haley dalam sebuah wawancara di CNN.

Para analis menyebutkan, jika terjadi konflik militer di semenanjung Korea, jutaan orang di Seoul dan 30 ribu tentara AS di Korea Selatan akan terancam terhadap serangan dari ribuan artileri yang telah ditempatkan tentara Korea Utara di perbatasan. Dan korban akan tak terhingga.

Haley yakin, sanksi terbaru yang dijatuhkan Dewan Keamanan PBB akan memberikan pukulan telak kepada Pyongyang.

Secara terpisah, penasehat keamanan nasional Trump, HR McMaster, sepakat bahwa hal terpenting adalah membuat semua negara, setiap orang, melakukan semua yang mereka bisa untuk menerapkan sanksi tersebut.

“Untuk melakukan segala sesuatu yang mereka bisa, kekurangan konflik militer, untuk mengatasi masalah ini,” katanya.

Jika tekanan diplomatik dan ekonomi gagal, McMaster menambahkan, maka akan dipersiapkan semya opsi.

Namun begitu, opsi militer tampaknya terjadi kalau mengacu pada sikap China dan Rusia yang cenderung membela Korea Utara. Lagi pula, otoritas Pyongyang juga sudah mengklarifikasi alasan mereka melakukan sejumlah uji coba rudal dan senjata nuklir semata ingin menyeimbangkan kekuatan militernya dengan AS serta untuk kepentingan mempertahankan diri.

Bagaimana pun, Korea Utara selalu memandang AS sebagai musuhnya, Jepang yang dianggap tidak tulus meminta maaf dan Korea Utara yang ditudingnya telah menjadi pengkhianat. (ed)

(Editor: Eriec Dieda)

Komentar

SHARE