Connect with us

Budaya / Seni

Nenek Berbohong

Published

on

H.Amang Rahman Jubair, “Nenek”, 1976 | Anak Wayang (Blog)

H.Amang Rahman Jubair, “Nenek”, 1976 | Anak Wayang (Blog)

Cerpen: Vitra Fhill Ardy

NUSANTARANEWS.CO – Nenek sedang menjahit celana yang biasa ia pakai, di teras rumah, ketika aku datang dan cemas dan menganggap ini semua tidaklah lucu. Maksudku, mengapa nenek begitu tega menipuku sampai-sampai ia mesti menyuruh paman untuk meneleponku, dan mengatakan bahwa nenek sedang sakit, maka aku harus pulang. Oleh karena itu, aku bergegas pulang dengan perasaan yang sangat cemas dan berharap nenek tetap baik-baik saja. Dan nenek memang baik-baik saja.

Ketika melihatku, nenek segera meletakkan peralatan menjahitnya dan berkata, “Wah, datang juga cucuku yang tampan.” Lalu nenek menghampiriku.

Aku gegas menghampirinya dengan perasaan lega, memeluknya, dan bilang, “Apakah menipu seorang cucu yang tampan, hingga sang cucu cemas, adalah perbuatan dosa besar?” Nenek hanya tertawa, aku juga.

Kalau diingat-ingat, aku rasa wajar nenek melakukan itu. Sudah cukup lama, hampir empat bulan aku tidak pulang ke rumah. Tidak seperti dulu yang sebulan sekali, dan kalau nenek tidak melakukan itu, mungkin aku tetap betah di perantauan.

Loading...

Lalu, ke mana ayah dan ibuku? Aku tak tahu. Nenek bilang mereka sudah meninggal, tapi kurasa nenek berbohong karena sampai sekarang aku tak pernah tahu mereka dimakamkam di mana. Dan aku pun tak mau memikirkannya. Aku sangat yakin kalau sebenarnya ayah dan ibu meninggalkanku sejak kecil, lalu dengan penuh cinta, nenek merawatku hingga aku dewasa. Maka aku tinggal di rumahnya dan bagiku nenek adalah sosok ayah sekaligus ibu.

Akhirnya nenek masuk ke dalam rumah lebih dulu sambil meminta agar ia yang membawa tas yang sedang kugendong ini. Aku menolaknya karena tas ini cukup berat sebab diisi oleh laptop dan beberapa baju serta celana. Lalu katanya, “Taruh di dalam kamar saja.”

Kamar yang nenek maksud adalah tempat tidurku dan paman. Di rumah ini ada 2 kamar, dan kamar yang satu lagi, dulu, biasa dipakai oleh nenek dan bibi. Aku tak langsung menaruh tas dan memilih duduk selonjoran di lantai beralas tikar sambil bersandar. Tidak ada kursi untuk tamu, karena nenek ingin rumah ini terlihat lapang.

Baca Juga:  PWNU Jateng Bangun Sinergi dengan Polda Jaga Pancasila

Sebelum direnovasi, rumah ini hanya dua petak dan di tempatku bersandar ini, dulu ada meja rapuh tempat biasa nenek menaruh teko, beberapa botol minuman ataupun makanan yang usai ia masak. Sekarang rumah ini luas memanjang dan nenek sudah punya dapur yang besar. Jauh di depanku di dekat dapur, ada televisi yang sedang menyiarkan opera sabun buatan India yang ditayangkan di siang hari. Biasa nenek menontonnya dari dekat secara serius.

Tapi aku tak bisa membayangkan bagaimana nenek menjalani hari-hari sepinya, sebab hanya nenek yang tinggal di sini. Kakekku telah meninggal sejak lama, bibi sudah menikah, begitu pun dengan paman. Bibi dan paman tinggal di rumah masing-masing dan hanya setiap minggu mengunjungi nenek.

Sementara nenek menjahit kembali usai mengambilkanku minum, sempat mengajakku bicara meski sebentar, aku pergi ke kamar untuk istirahat karena lelah.

***

Kupikir banyak perubahan yang terjadi selama aku tidak di rumah. Dua pohon kelapa di depan rumah sudah ditebang, beberapa tetangga mengganti cat rumahnya, dan tentu saja, ada orang yang lebih dulu tiada meninggalkanmu. Aku kaget ketika tahu Pak Asnan, guru mengajiku saat kecil, sudah meninggal seminggu yang lalu. Barusan nenek memberitahuku dan kurasa kematian adalah topik obrolan yang menyenangkan.

“Nek, kalau aku mati lebih dulu, nenek bagaimana?” aku bertanya.

Nenek tak langsung menjawab, sedang sibuk menonton televisi. Lalu katanya, “Nenek tak tahu, Nak. Mungkin hanya menangis.” Selain cucu, nenek sering memanggilku dengan sebutan ‘nak’, seolah-olah aku ini anaknya sendiri.

Aku tak puas mendengar jawaban nenek, lalu aku mendekatinya, dan bilang, “Kalau misal nenek yang mati, selain menangis, mungkin aku juga akan berdoa atau mengaji selama tujuh hari tujuh malam untuk nenek.”

“Maksudnya kamu mendoakan nenek mati?” nenek terlihat kesal. Kurasa setiap orang tua memang cepat marah.

“Bukan begitu maksudnya,” aku memelas.

“Nenek saja belum melihatmu menikah, tak sudi nenek kalau mati lebih dulu,” katanya.

Baca Juga:  Iran Membantah Tuduhan Sebagai Pelaku Penyerangan

Aku kesal jika sudah bicara tentang pernikahan. “Memangnya mudah apa mencari pasangan hidup?” tanyaku, lebih seperti gumamanku sendiri.

“Lalu kenapa Mila kamu tinggalkan?” nenek bertanya balik dan itu membuatku tersentak.

Aku tak menjawab. Sebenarnya aku tak mengerti. Maksudku, lebih kepada aku tak tahu pasti siapa meninggalkan siapa.

Layar di televisi sedang iklan, nenek beranjak dari duduknya dan berjalan pelan tapi pasti ke arah dapur. Aku tebak ia ingin minum, lalu tak lama ia kembali lagi dan duduk seperti semula. “Ah, iya, nenek lupa,” nenek seperti mengingat sesuatu, “kamu pasti belum tahu, kan?” tanyanya padaku.

Aku hanya menggeleng karena tak mengerti.

“Sebenarnya, Nak, alasan kenapa nenek memaksamu untuk pulang, bukanlah benar-benar murni keinginan nenek,” nada suara nenek semakin lama semakin merendah, lalu nenek mematikan televisi, katanya lagi, “tapi ada satu hal yang mesti kamu tahu, meski itu menyakitkan.”

“Apa?” aku menyela.

“Hari Minggu Mila akan menikah. Artinya itu lusa.”

“Ya, biarkan saja,” kataku datar.

“Semudah itu?” suara nenek pelan sekali, ia juga menatapku dan aku merasa terintimidasi.

“Lalu aku harus bagaimana, Nek? Aku senang kalau Mila pun senang.”

Nenek mengatur posisi duduknya di lantai, katanya, “Nak, dua minggu lalu Mila datang ke rumah ini. Ia berlari dan menangis, memeluk nenek dan bilang kalau ia menyesal karena hubungan kalian berdua yang kandas.”

“Lalu apalagi?” aku penasaran.

“Ia bilang dua minggu lagi akan menikah, dan sebelumnya nenek juga sudah mendengar desas-desus itu. Lalu katanya, rasanya ia akan menikahi lelaki yang salah, yang sebenarnya tidak benar-benar ia cintai. Semacam pelarianmu saja. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Lagi pula, tanggal pernikahan sudah ditetapkan dan ia tak mau mencoreng muka ayahnya.”

Aku terkejut benar. “Tapi aku harus bagaimana, Nek?” tanyaku bingung.

“Nenek tak tahu, Nak,” nenek hanya menjawab singkat, lantas bangkit dari duduk dan menuju ke kamar tidurnya. Sebelum sampai kamar, nenek bicara lagi, “Mila minta pada nenek untuk memberitahumu, dan nenek rasa ia akan bahagia kalau kamu datang ke pernikahannya.”

Baca Juga:  Surya Paloh Digugat Karena Ilegal Sebagai Ketua Umum Partai Nasdem

Aku diam saja tak menjawab. Tak tahu harus berbuat apa.

***

Minggu yang panas. Mentari yang ceria membungkus langit sejak pagi. Aku sudah bersiap datang ke akad nikahnya Mila, yang akan berlangsung jam 10 pagi ini. Sebelumnya aku berpikir apa yang harus kulakukan nantinya di sana, tapi kurasa tak ada yang perlu kulakukan. Aku hanya perlu datang saja dan melihat prosesi baik-baik, menahan perih hati yang tersayat sedikit demi sedikit, lalu ketika acara selesai lantas pulang ke rumah, dan mungkin, setelah itu aku menangis. Ah, tidak, tidak, aku tidak akan menangis.

Sudah kubilang kalau aku bahagia jika Mila bahagia. Aku pun tak mau jadi pahlawan kesiangan dan tak akan melakukan hal yang bodoh, seperti, mengacaukan akad nikahnya, menculik Mila ke tempat terbaik yang ada di bumi ini, lalu menikahinya dan bilang padanya kalau semua akan baik-baik saja jika ia bersamaku. Tentu saja itu tidak lucu.

Dan benar bahwa aku masih mencintainya,  tapi aku harus berbuat apa? Aku dan Mila telah sepakat untuk berpisah secara baik-baik, ketika kami merasa bahwa hubungan yang telah dijalani ini sudah tidak menarik lagi. Aku pun menyesal, merasa bodoh, karena tak bisa mengatasi masalah yang sebenarnya sepele ini.

Maka ketika Mila menjalani hubungan yang baru, kukira semua ini sudah selesai. Tapi apa yang kau perkirakan tak menutup kemungkinan untuk meleset. Dan itu benar. Mila tak benar-benar bahagia, aku pun semakin sengsara saja. Tapi kami berdua malah enggan mengungkapkan satu sama lain, bahwa sebenarnya, kami ini masih saling mencintai.

Akad nikah telah dimulai, kulihat Mila menengok ke kanan dan ke kiri. Tapi aku memilih berada di belakang saja, sambil merasakan kegetiran-kegetiran yang ada.*

 Cilegon, 01 Juni 2017

Penulis bernama Vitra Fhill Ardy. Lahir di Tangerang, 08 April 1997. Berdomisili di Cilegon untuk menimba ilmu.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Loading...

Terpopuler