Connect with us

Politik

Negara Tanpa Oposisi, Pengamat: Hanya Menguatkan Pemerintahan yang Palsu

Published

on

Pengamat Politik Ujang Komarudin. (Foto Istimewa)

Pengamat Politik Ujang Komarudin Menilai Negara Tanpa Oposisi Hanya Mengutkan Pemerintahan yang Palsu. (Foto Dok. Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Puisi karya sastrawan besar Indonesia, WS Rendra berjudul Hak Oposisi, menurut pengamat politik nasional Ujang Komarudin dinilai masih relevan untuk menggedor kesadaran berdemokrasi bangsa hari ini. Ujang mengatakan, negara tanpa oposisi hanya akan melanggengkan pemerintahan yang palsu.

Dirinya melihat di negara manapun yang menganut sistem negara demokrasi, keberadaan oposisi disebutnya sebagai suatu hal keniscayaan. Sebuah keadaan yang tak bisa dinafikan.

“Masih relevan. Karena oposisi dalam negara demokrasi merupakan keniscayaan. Negara tanpa oposisi hanya akan menguatkan pemerintahan yang palsu dan keliru,” ujar Ujang kepada NUSANTARANEWS.CO, Selasa (2/7/2019).

Baca Juga: Pemerintah Tanpa Oposisi Akan Sepi dan Onani

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) itu menjelaskan antara oposisi dan koalisi pemerintah sejatinya memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Dimana oposisi menurutnya memiliki keuntungan tersendiri dalam sistem negara demokrasi.

Loading...

“Keuntungannya (oposisi) bisa membela rakyat. Bisa mengingatkan pemerintah ketika salah jalan. Dan keuntungan lain, jika pemerintahannya gagal, maka otomatis akan dipercaya rakyat,” jelasnya.

Sebagai informasi, sastrawan berjuluk si Burung Merak, WS Rendra dalam sebuah puisinya Hak Oposisi secara tegas mengatakan, dukungan kepada koalisi pemerintah tidak bisa dipaksakan. Menurutnya adalah tugas pemerintah membuktikan bahwa kebijakan dan kebijaksanannya pantas untuk mendapat dukungan.

Adalah pemerintah pula untuk menyusun peraturan yang susuai dengan nurani raktyat. Bukan peraturan yang menguntungkan kelompok pendukung, mengabaikan rakyat yang tak mendukung. Saat itulah kebijaksanaan pemerintah diuji. Berikut puisi Rendra berjudul Hak Oposisi:

Hak Oposisi

Aku bilang tidak,
aku bilang ya,
menurut nuraniku.
Kamu tidak bisa mengganti
nuraniku dengan peraturan.
Adalah tugasmu
untuk membuktikan
hahwa kebijaksanaanmu
pantas mendapat dukungan.
Tapi dukungan –
tidak bisa kamu paksakan.
Adalah tugasmu
untuk menyusun peraturan
yang sesuai dengan nurani kami.
Kamu wajib memasang telinga,
– selalu,
untuk mendengar nurani kami.
Sebab itu, kamu membutuhkan oposisi.
Oposisi adalah jendela bagi kamu.
Oposisi adalah jendela bagi kami.
Tanpa oposisi: sumpek.
Tanpa oposisi: kamu akan terasing dari kami
Tanpa oposisi, akan kamu dapati gambaran palsu
tentang dirimu.
Tanpa oposisi kamu akan sepi dan onani.

Baca Juga:  Persoalkan Kembali Rumor Pelanggaran HAM Prabowo, Kedok Agum Gumelar Semakin Terbuka

Pelopor Jogja, 10 Oktober 1971
Buku : Doa Untuk Anak Cucu

Pewarta: Romandhon

Loading...

Terpopuler