Connect with us

Ekonomi

‘Negara Bisa Punah’ Diusulkan Jadi Tema Debat Capres 2019

Published

on

pidato prabowo, prabowo subianto, gala dinner singapura, jurkamnas prabowo-sandi, calon presiden ri

Prabowo menjadi pembicara dalam acara The World in 2019 Gala Dinner yang diselenggarakan majalah The Economist di Hotel Grand Hyatt Singapura, Selasa (27/12). (Foto: dok. The Economist)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pidato Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tentang ‘Negara Bisa Punah’ dalam Konferensi Nasional Partai Gerindra pada Senin, 17 Desember 2018, menurut Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah disebut sebagai kajian serius yang semestinya memantik perdebatan ilmiah, bukan sebaliknya ditanggapi cibiran yang miskin gagasan.

Fahri menjelaskan, masalah tidak bisa selesai dengan modal wajah cengengesan. “Kita punya masalah serius dan kita perlu orang-orang serius,” tulis Fahri Hamzah dikutip dalam unggahan Instagramnya, Selasa (18/12/2018).

“Ingin memancing perdebatan ilmiah tentang tema pidato capres Prabowo soal ‘negara bisa punah’ tapi siapa yang bisa menanggapinya secara ilmiah ya? Karena tema ini seharusnya judul besar dalam debat Capres 2019 ini. Pilpres 2019 akan seru kalau ini jadi perdebatan,” terangnya.

Di masyarakat awam, lanjut dia, belum terlalu dipahami bahwa antara ketimpangan ekonomi dan negara punah ada hubungannya. Itulah mengapa sebabnya kata Fahri, pidato Prabowo bukan membawa kajian yang serius malah dicibir. “Termasuk dari yang rada bisa mikir. Kecuali kalau semua sudah gak mikir,” sambungnya.

Baca Juga:
Borderless, Era Persaingan Memulung Data
Situasi Borderless dan Tanda-Tanda Globalisasi Gelombang III
Ancaman Situasi Borderless, Indonesia Harus Tempatkan Diri Secara Cerdas
Proteksionisme, Nasionalisme dan Gejala Globalisasi Gelombang III

Politisi PKS ini menlanjutkan, “Narasi yang dibawa Prabowo tentang kesenjangan dan kepunahan negara menurut saya itu narasi global. Sudah disuarakan intelektual kelas dunia,” ujarnya.

Dirinya kemudian menyebutkan bahwa setidaknya ada 3 buku penting yang ditulis para pakar pembangunan tentang betapa pentingnya dan relevannya isu itu. Pertama, Capital in the 21st Century penulis Thomas Piketty. Kedua, The Price of Inequality penulis Joseph E. Stiglitz. Ketiga, Why Nation Fail penulis Daron Acemoglu dan James Robinson.

Baca Juga:  Penyulingan Tak di Fungsikan Warga Giliraja Kesulitan Air Bersih

“Ketiga buku ini mengulas secara teoris dan empiris kesenjangan sampai pada gagalnya sebuah negara,” tegas Fahri Hamzah.

Sementara itu menurut Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Ace Hasan Syadzily, pidato Prabowo Subianto mengenai ‘negara bisa punah’ disebutnya hanya bualan. Ace bahkan menuding pernyataan Prabowo sebagai sikap pesimistis dari seorang pemimpin.

“Pak Prabowo selalu menyampaikan pernyataan yang justru membuat negara ini tidak akan maju dan tegak, jika yang disampaikan dirinya adalah narasi-narasi pesimisme,” Ace Hasan Syadzily, dikutip dari Medcom.id, Selasa, 18 Desember 2018.

The End of Nation

Mengenai ‘negara bisa punah’ jauh sebelum pidato Prabowo, seorang Guru Strategi Asal Jepang, Kenichi Ohmae tahun 1995 sebenarnya sudah lebih dulu menyingggung ihwal berakhirnya negara bangsa. Hal itu diungkapkan Kenichi Ohmae melalui bukunya berjudul The End of The Nation-State: The Rise of Regional Economies.

Buku ini secara eksplisit mengumumkan berakhirnya “nation-state” atau “negara-bangsa”. Menurut Kenichi Ohmae, indikasi negara akan menjadi artefak, ketika tidak ada lagi tapal batas (borderless). Saat itulah negara bangsa mengalami masa keredupannya.

Institusi negara tidak lagi dianggap penting ketika muncul realita tentang kondisi yang digambarkan sebagai dunia yang borderless yang menyimpan satu konsekuensi vital, yakni larutnya etika bersekat-sekat indentitas (nasionalisme, agama, indentitas komunal) yang selama ini dipegang lantaran dinding-dinding yang tegas telah runtuh, satu kondisi yang dapat diwakili oleh dua kata yakni, arus globalisasi. Negara-bangsa yang dicirikan adanya territorium kontrol, struktur kekuasaan impersonal dan legitimasi, perlahan mulai kehilangan fungsinya.

Menurut Kenichi Ohmae ada empat variabel dalam globalisasi yang semakin menunjukkan gejala ke arah borderless world, yang dapat dikatakan merupakan biang kerok impotensi negara-bangsa adalah empat ‘I’ yaitu investasi (investment), industri (industri), informasi (information) dan pelanggan individu (individual consumer).

Baca Juga:  Yusril Kembali Berdialog Masalah Tanah dengan Warga Kampung Japat

Aliran investasi (investment) menyebabkan pasar modal di banyak negara berkembang mulai hilang. Hal ini memunculkan berbagai problem seperti adanya akumulasi uang pensiun dan asuransi jiwa yang membengkak. Sebagai akibatnya, pasar modal telah mengembangkan mekanisme baru untuk bergerak melintasi batas negara. Adanya investasi menyebabkan tumbuhnya “I” yang kedua, yaitu industri (industry) yang tidak terikat oleh batas-batas negara lagi. Pergerakan investasi dan industri ini telah difasilitasi oleh “I’ yang ketiga, yaitu informasi (information) yang didukung oleh teknologi yang semakin modern.

Editor: Romadhon

Loading...

Terpopuler