Connect with us

Politik

Natalius Pigai Sebut Presiden Jokowi Berada Dalam Ambiguitas Sikapi Yarusalem

Published

on

Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Natalius Pigai/Foto: Dok. VOA

NusantaraNews.co, Jakarta – Pengakuan sepihak atas Yarusalem sebagai Ibu Kota Israel dalam pernyataan resmi Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah benar-benar membakar emosi umat Islam di seluruh dunia. Bahkan tak hanya dari kalangan kaum muslimin, sejumlah tokoh berpengaruh dari berbagai negara juga menyatakan protes terhadap keputusan Trump.

Beberapa waktu kemudian, tersiar bahwa Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Joseph Donovan menyebut sikap AS yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel sudah dikonsultasikan dengan Indonesia. Komunikasi itu dilakukan sebelum klaim ini diumumkan Presiden AS Donald Trump.

“Kami telah berkonsultasi dengan para teman, mitra, dan sekutu kami, termasuk Indonesia, sebelum Presiden Trump mengeluarkan keputusannya,” kata Donovan dalam pernyataan yang diunggah di situs Kedubes AS, Kamis (7/12/2017).

Namun, sebelumnya juga diberitakan, Indonesia mengecam keras klaim sepihak AS bahwa Yerusalem merupakan ibu kota Israel. Presiden RI Joko Widodo meminta AS mempertimbangkan kembali keputusan Trum tersebut.

Menanggapi dua informasi yang saling bertentangan tersebut, Ketua Tim Nasional Penagih Janji Jokowi 2014-2019, Natalius Pigai menilai bahwa, apa yang disampaikan oleh Dubes Amerika Serikat ini benar maka Jokowi bisa diduga ambigu. Sebab, kenapa Jokowi tidak menyatakan sikap dari awal sebelum AS mengambil keputusan seperti yang ditunjukkan oleh Presiden Erdogan di Turki dengan tegas menyatakan Yerusalem adalah Garis Merah (red line).

“Tetapi Kenapa Jokowi baru sekarang terlihat ambigu dalam bersikap setelah rakyat Indonesia dan umat muslim dunia mengecam Amerika,” ujar mantan Komisioner Komnas HAM tersebut dalam pernyataannya yang ditulis NusantaraNews.co, Minggu (10/12/2017).

Sudah saatnya, kata Pigai, rakyat harus jeli melihat dan mengikuti sepak terjang dan konsistensi pemimpin negara saat ini. “Ada tanda-tanda inkonsistensi dan cenderung tidak bertanggungjawab atas perkataan dan perbuatan sebagaimana janji Jokowi saat Pilpres 2014 yang menyatakan akan memimpin mendukung umat Islam melawan kedigdayaan Israel dan Amerika di tanah Palestina,” jelas Pigai.

Sangat disayangkan, lanjut dia, di saat rakyat Indonesia mengecam Israel dan Amerika Serikat atas klaim yerusalaem Sebagai ibu kota atau bagian dari Israel. Saat dimana umat Islam menangis, merintih, meratapi dan larut dalam kesedihan atas penderitaan bangsa Palestina oleh kekejaman Israel.

“Presiden Jokowi menujukkan Signal tidak simpati bahkan empati bersama rakyatnya khususnya umat muslim Indonesia sebagai negara mayoritas muslim dunia. Jokowi sebagai Pemimpin sejati tidak boleh bermain sirkus, tidak boleh juga berdiplomasi abal-abal. Pemimpin harus tegas dan jelas menunjukkan integritasnya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan agar Indonesia berkontribusi signifikan atas terciptanya kedamaian abadi di tanah Palestina,” terang Pigai.

Pewarta/Editor: Achmad S.

Loading...

Terpopuler